Terancam Tergusur, PKL Cicadas–Kosambi Protes Rencana Pembangunan Jalur BRT
Spanduk tersebut menyuarakan kekhawatiran apabila mereka tempat berjualan mereka tergusur seiring dengan pembangunan jalur transportasi itu.
Pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Pasar Cicadas dan Kosambi memasang spanduk protes menyusul rencana pembangunan jalur Bandung Rapid Transit (BRT) di jalan arteri kawasan tersebut.
Spanduk tersebut menyuarakan kekhawatiran apabila mereka tempat berjualan mereka tergusur seiring dengan pembangunan jalur transportasi itu.
"Pertama, tiba-tiba ada spanduk, salah satunya di wilayah Cicadas. Pedagang langsung pada resah,” kata Koordinator PKL di Pasar Cicadas, Cecep, dijumpai Rabu (21/1).
Keresahan Para Pedagang
Keresahan para pedagang timbul karena belum adanya titik terang menyangkut masa depan mereka. Padahal menurutnya, ia telah mengikuti beberapa kali rapat.
"Saya belum ada jawaban dari pemerintah terkait. Terus, yaudah kita buka aja (plang pemberitahuan pembangunan jalur BRT), lalu dipasang bacaan-bacaan kayak gitu (spanduk protes),” kata dia.
Adapun titik terang yang ia maksud, adalah soal kepastian apakah para pedagang tersebut bakal direlokasi atau diberi kompensasi terkait pembangunan jalur. Pernyataan terkait itu aku Cecep belum ia terima.
Namun, untuk sosialisasi, Cecep bilang, ia sempat mengikuti pertemuan pada November 2025 lalu. Namun hanya sebatas sosialisasi.
"Cuman membahas pembangunan BRT akan dibangun, kawasan Cicadas,” ucapnya.
Memberikan Penjelasan
Oleh karena itu, ia berharap pihak pemerintah dapat segera memberi kejelasan kepada para PKL di kawasan Cicadas. Sebagai koordinator mereka, ia mengaku pihaknya telah menyerahkan data para PKL yang mangkal di kawasan Pasar Cicadas kepada pihak kecamatan, baik yang berjualan siang maupun malam di sana.
"Ada 540, udah saya setor ke kecamatan itu datanya, sudah disetor ke kecamatan,” kata dia.
Ia menambahkan, para PKL akan manut terhadap kebijakan pemerintah. Termasuk untuk apa bila direlokasi ke tempat lainnya. Dia mengatakan, yang diharapkan para pedagang semata kejelasan terkait nasib mereka.
“Kita setuju-setuju aja kalau ada tempat itu, mau-mau aja. Tapi selama ini nggak ada. Makanya jalan satu-satunya antara relokasi dan kompensasi,” katanya.
“Kalau kompensasi kan, kita misalkan udah nggak jualan lagi, dikasih kompensasi. Kita bisa jualan di mana, ada modal, gitu aja,” imbuh dia.
Ikuti Kebijakan
Hal serupa kurang diungkapkan oleh Pepen, PKL di kawasan pasar Kosambi. Ia mengatakan bahwa para pedagang pada dasarnya akan menurut kepada kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, seperti relokasi, kendati kelak omsetnya di awal mungkin menurun.
“Kalau masalah direlokasi pendapatan pasti nurun, karena kan orang-orang udah taunya tempatnya disini, terkenalnya disini, pada taunya kalau direlokasi pindah,” ucapnya.
Sementara itu, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, belum lama ini mengungkapkan akan menyiapkan mitigasi untuk sejumlah masalah terkait proyek BRT. berdasarkan pengalaman di berbagai kota perubahan sistem transportasi massal kerap memicu penolakan, terutama dari pelaku usaha yang khawatir kehilangan pelanggan.
Sosialisasi
Langkah yang ditempuh antara lain dengan mempercepat penyediaan kantong parkir alternatif serta melakukan sosialisasi secara bertahap kepada masyarakat dan pelaku usaha.
“Kita tidak menutup mata. Toko-toko bisa terdampak kalau tidak disiapkan solusi parkir yang layak,” katanya dikutip dari rilis Diskominfo Bandung, Rabu (21/1).
Karena itu, Pemerintah Kota Bandung berjanji akan bersikap proaktif dalam mengantisipasi dampak tersebut.
Ia menegaskan, Pemkot Bandung akan tetap menjalankan perannya untuk memastikan seluruh upaya mitigasi risiko dilakukan secara optimal.
“Tanggung jawab kami adalah menyiapkan solusi sekaligus menjaga komunikasi melalui dialog yang berkelanjutan,” katanya.
BRT sendiri merupakan sistem transportasi massal berbasis bus yang dirancang untuk melayani mobilitas masyarakat secara cepat, efisien, melalui penggunaan jalur khusus di kawasan Bandung Raya. Ada enam rute yang disiapkan Leuwipanjang–Soreang, Kota Baru Parahyangan–Alun-Alun Bandung, Baleendah–BEC melalui Jalan Purnawarman, Leuwipanjang–Dago, Dipatiukur–Jatinangor, serta Leuwipanjang–Majalaya.