Jadi Sumber Penghidupan, Pekerja Bus dan Pedagang Keberatan Terminal Cicaheum Jadi Depo BRT

Layanan rute tersebut sepenuhnya, bakal dipindahkan ke Terminal Leuwi Panjang. Wacana ini telah bergaung sejak beberapa tahun lalu.

Robby Bouceu
Oleh Robby Bouceu - Reporter
Jadi Sumber Penghidupan, Pekerja Bus dan Pedagang Keberatan Terminal Cicaheum Jadi Depo BRT
Jadi Sumber Penghidupan, Pekerja Bus dan Pedagang Keberatan Terminal Cicaheum Jadi Depo BRT (Robby bouceu garnia)

Wacana alih fungsi Terminal Cicaheum, Bandung, menjadi depo Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya kembali mencuat, menyusul penolakan yang muncul baru-baru ini dari berbagai pihak.

Respons tersebut tampil salah satunya pada sejumlah spanduk yang terpampang di sejumlah titik di lingkungan Terminal Cicaheum, seperti pada Jembatan Penyeberangan Orang (JPO), warung, hingga loket tiket. Padanya, tampak ungkapan keberatan berbunyi ‘Kami Warga Terminal Cicaheum, Menolak Keras Terminal Cicaheum Dipindahkan’.

Jadi Sumber Penghidupan, Pekerja Bus dan Pedagang Keberatan Terminal Cicaheum Jadi Depo BRT
Jadi Sumber Penghidupan, Pekerja Bus dan Pedagang Keberatan Terminal Cicaheum Jadi Depo BRT Robby bouceu garnia

Untuk diketahui, bila wacana ini terwujud, di Terminal Cicaheum tak bakal lagi ada layanan bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP). Layanan rute tersebut sepenuhnya, bakal dipindahkan ke Terminal Leuwi Panjang. Wacana ini telah bergaung sejak beberapa tahun lalu.

Hal ini dikhawatirkan warga terminal seperti pedagang hingga pegawai PO Bus di Terminal Cicaheum. Mereka cemas akan berdampak pada penghasilannya di Terminal Cicaheum dijadikan depo BRT. Karena penumpang bus jadi bakal berpindah ke Leuwi Panjang.

"Kami menolak itu, bukan hanya menolak secara pribadi untuk perwakilan bus, ini mewakili semua yang ada elemen masyarakat di Terminal Cicaheum. Termasuk di sini pedagang ini mau dikemanain. Jadi lebih kepada dampak sosialnya ini,” kata Roni, salah satu, pegawai PO bus, dijumpai wartawan di Terminal Cicaheum, pada Senin (8/12).

"Kami di sini dari tahun 2000, berarti sekarang 2025, kami hampir 20 tahun di sini. 90 persen di sini menjadi barometer untuk kepentingan di keluarganya. Tidak ada kerja yang lain sampingan," imbuh dia.

Menurutnya, pemerintah belum mensosialisasikan secara langsung terkait agenda perubahan itu. Ia mengeklaim, tidak ada jaminan yang diberikan oleh pemerintah jika pun alih fungsi Terminal Cicaheum jadi depi BRT terwujud.

"Cuma pedagang-pedagang di sini untuk dia pulang ke rumahnya, mengandalkan di sini. Sama, dari pihak perwakilan bus juga sama seperti itu. Tidak ada pekerjaan yang lain. 100 persen kami menafkahi anak, istri, keluarga dari Terminal Cicaheum,” kata dia.

Terpisah, salah satu pedagang kios di Terminal Cicaheum, Dudu (68), mengaku responsnya terkait wacana itu. Ia belum tahu apakah apakah mesti menolak atau tidak. Meski begitu, tersirat harapannya agar masih bisa menetap berjualan di Cicaheum, kendati penghasilannya kini tak sebesar dahulu.

"Ya mengikuti pemerintah aja, saya masih bingung. Tapi kalau inginnya mah tetap berjualan di sini," ungkapnya.

Dia sendiri telah berjualan di sana sejak 3 dekade lalu. Ia perantau dari Tasikmalaya.

"Ya mengikuti pemerintah aja, saya masih bingung. Tapi kalau inginnya mah tetap berjualan di sini," katanya.

Rekomendasi