Temuan Walhi: Alih Fungsi Lahan yang Masif Biang Keladi Jabar Dikepung Banjir
Kabupaten Sukabumi, Bogor, Karawang, hingga Bandung Raya adalah sejumlah daerah yang tak luput dari kejadian yang berdampak pada 12.000 jiwa tersebut.
Bencana hidrometeorologi mengepung provinsi Jawa Barat dalam kurun sepekan terakhir di bulan Oktober 2025 ini. Sedikitnya ada 37 kejadian bencana yang tercatat oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat, mulai banjir, pohon tumbang, hingga tanah longsor.
Kabupaten Sukabumi, Bogor, Karawang, hingga Bandung Raya adalah sejumlah daerah yang tak luput dari kejadian yang berdampak pada 12.000 jiwa tersebut.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat menilai cuaca ekstrem bukan satu-satunya faktor pemicu bencana. Faktor lain yang melatarinya adalah alih fungsi lahan yang kian massif.
Manajer Divisi Pendidikan Walhi Jawa Barat, M. Jefry Rohman, menjelaskan masifnya perubahan kawasan lindung menjadi area perkebunan, pertambangan hingga destinasi wisata, hingga hotel dan restoran.
Berdasarkan kajian Walhi, Jefry menyebut hampir sekitar 50 persen dari 27 kabupaten/kota telah mengalami alih fungsi lahan.
"Banyak di antaranya berdiri di atas lahan Perhutani," ucapnya kepada wartawan dikutip Rabu (29/10).
Akibat hal tersebut, ekosistem lingkungan jadi terganggu. Daya resap air melemah drastis.
"Ketika curah hujan tinggi, air tidak terserap karena kawasan tangkapan airnya sudah berkurang. Dampaknya adalah banjir bandang di daerah rendah, dan kekeringan di musim kemarau," katanya.
Selain bencana, alih fungsi lahan juga menurut dia membuat musim jadi sulit diprediksi. Di samping, meningkatkan resiko bencana akibat vegetasi alam yang berkurang.
"Dulu, musim kemarau dan musim hujan datang teratur. Sekarang tidak bisa diprediksi kapan hujan, kapan kemarau," ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan pihaknya mendapat temuan dugaan pembukaan lahan di wilayah Sukabumi. Sukabumi sendiri, menjadi salah satu wilayah terdampak bencana banjir dan longsor paling parah di Jawa Barat.
Ia mengatakan pihaknya telah meminta dinas terkait untuk mendalami hal tersebut.
"Tapi saya belum bisa menyebutkan ya, itu ada bukaan lahan. Foto-nya sudah ada, tapi saya sudah meminta kepala dinas PSDA, provinsi Jabar untuk mendalami,” katanya kepada wartawan di Gedung Sate, Rabu (29/10).
"Apakah betul itu (bencana) disebabkan karena ada bukaan lahan. Nah bukaan lahan itu peruntukannya untuk apa?" Imbuhnya.
Ia pun tak memungkiri bahwa penyebab tingginya resiko bencana di Sukabumi karena masalah alamnya yang kelewat akut. Bahkan, menurut dia setelah mengocorkan biaya untuk pembangunan yang tak sedikit.
"Bahkan hari ini alokasi juga gede-gede loh untuk pembangunan. Tapi kan bencananya terus-terusan, sehingga kan tidak bisa hanya membangun infrastrukturnya saja di hilir, tetapi kan di atasnya harus diselesaikan," beber dia.
Ia mengaku, telah menginstruksikan secara khusus agar Bupati Sukabumi membenahi persoalan tata ruang.