Tahukah Anda? Pojok Bermain KPPPA Dinilai Efektif Sembuhkan Trauma Anak Korban Bencana
Kementerian PPPA mengapresiasi efektivitas Pojok Bermain dalam memberikan dukungan psikososial bagi anak korban bencana. Metode terapi permainan ini terbukti ampuh pulihkan trauma.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif Pojok Bermain. Program ini menyediakan dukungan psikososial bagi anak-anak korban bencana. Inisiatif tersebut dinilai sangat efektif dalam membantu pemulihan trauma.
Apresiasi ini disampaikan Arifah Fauzi saat meninjau langsung Posko Search and Rescue (SAR) gabungan di Jawa Timur. Ia melihat aktivitas yang dilakukan Dinas Sosial Jawa Timur. Kegiatan ini menyasar korban dan keluarga terdampak ambruknya Pondok Pesantren Al-Khoziny.
Pojok Bermain menjadi sarana penting untuk menyembuhkan trauma melalui terapi permainan. Metode ini dirancang khusus untuk anak-anak. Terapi permainan membantu anak mengekspresikan perasaan mereka.
Efektivitas Terapi Permainan dalam Pemulihan Trauma
Menurut Menteri PPPA, anak-anak cenderung mengekspresikan perasaannya lewat permainan. Hal ini berbeda dengan percakapan langsung yang seringkali sulit mereka lakukan. Oleh karena itu, terapi permainan menjadi salah satu metode dukungan psikososial yang efektif untuk membantu anak-anak pulih dari dampak trauma.
Pojok Bermain menyediakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak-anak. Di sana, mereka dapat memproses pengalaman traumatis mereka tanpa tekanan. Intervensi dini melalui metode ini memberikan manfaat jangka panjang bagi kesehatan mental anak.
Dinas Sosial Jawa Timur menunjukkan langkah proaktif dan cepat tanggap. Mereka secara terus-menerus memberikan layanan dukungan psikososial (LDP) kepada korban dan keluarga. Ini adalah komitmen nyata terhadap kesejahteraan anak-anak terdampak bencana.
Menteri Arifah Fauzi menekankan bahwa anak-anak seringkali kesulitan mengungkapkan trauma secara verbal. Permainan menawarkan medium non-verbal yang aman. Ini membantu mereka memulihkan diri secara bertahap.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Lingkungan Ramah Anak
Menteri PPPA mendorong seluruh pihak untuk terus berkolaborasi. Baik dari pemerintah pusat, daerah, lembaga sosial, masyarakat sipil, hingga donatur. Kolaborasi ini penting untuk pemulihan pasca-tragedi.
Tujuan utama kolaborasi ini adalah mewujudkan Lingkungan Pesantren Ramah Anak. Lingkungan ini harus aman, sehat, nyaman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Ini merupakan visi jangka panjang KPPPA.
Pentingnya koordinasi dan monitoring berkelanjutan ditekankan. Hal ini memastikan proses pemulihan berjalan efektif dan efisien. Dukungan terhadap tumbuh kembang anak harus menjadi prioritas utama.
Konsep Pesantren Ramah Anak bukan hanya tentang fasilitas fisik yang memadai. Ini juga mencakup dukungan emosional dan psikologis yang kuat. Tujuannya adalah membangun resiliensi anak-anak di masa depan.
Bantuan Spesifik Anak dan Komitmen KPPPA
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Arifah Fauzi juga menyerahkan paket bantuan spesifik anak. Bantuan ini ditujukan bagi anak-anak korban ambruknya bangunan mushalla di Pondok Pesantren Al-Khoziny. Bantuan disesuaikan dengan kebutuhan usia.
Paket bantuan tersebut mencakup berbagai kelompok usia. Mulai dari 0-11 bulan, 1-4 tahun, 5-12 tahun, hingga 13-18 tahun. Hal ini menunjukkan perhatian KPPPA terhadap kebutuhan beragam anak-anak korban.
Penyerahan bantuan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah. Tujuannya adalah memastikan anak-anak korban mendapatkan dukungan komprehensif. Dukungan ini mencakup aspek fisik maupun psikologis.
KPPPA terus berupaya memastikan hak-hak anak terpenuhi secara maksimal. Terutama dalam situasi darurat atau pasca-bencana. Ini adalah wujud nyata perlindungan anak di Indonesia.
Sumber: AntaraNews