Sido Muncul Bantu Pulihkan Senyum 50 Anak Bibir Sumbing di Bogor
Sido Muncul menggelar operasi bibir sumbing gratis bagi 50 anak di Bogor sebagai bentuk kepedulian sosial, membantu memulihkan senyum dan harapan masa depan.
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk kembali menunjukkan komitmennya di bidang kemanusiaan melalui program bakti sosial operasi bibir sumbing yang digelar bekerja sama dengan Smile Train Indonesia dan RS Hermina Bogor dan mitra terkait. Program ini menyasar 50 anak sebagai penerima manfaat, dengan total bantuan senilai Rp325 juta, yang digunakan untuk mendukung tindakan operasi bibir sumbing dan celah langit-langit secara bertahap sesuai kebutuhan medis masing-masing pasien.
Program ini menjadi bagian dari kolaborasi berkelanjutan antara Sido Muncul dan Smile Train Indonesia sejak 2022. Hingga saat ini, kerja sama tersebut telah membantu hampir 754 pasien mendapatkan tindakan medis untuk memperbaiki kondisi bibir sumbing dan celah langit-langit.
Bantuan secara simbolis sebesar Rp 325 Juta diserahkan oleh Direktur PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat kepada Country Manager and Program Director Indonesia, Smile Train Indonesia, Deasy Larasati, disaksikan oleh Direktur RS Hermina Bogor, dr. Muyi Ayoe Hapsari, SH, MM, Walikota Bogor, Dedie A. Rachim, serta Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr. Sri Nowo Retno, M.A.R.S. bertempat di RS Hermina Bogor, Rabu (14/1/2026).
Kepedulian Irwan Hidayat yang Berangkat dari Pengalaman Hidup
Bagi Direktur PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, program ini bukan sekadar aktivitas sosial perusahaan. Dalam sambutannya, Irwan berbagi pengalaman hidup yang membentuk cara pandangnya tentang kesehatan, empati, dan makna hidup.
Ia menceritakan bagaimana pada usia 21 tahun dirinya mengalami sakit berat yang berkepanjangan, mulai dari malaria, pneumonia, hingga gangguan kesehatan lain yang memengaruhi fisik dan mentalnya secara mendalam. Berat badannya sempat turun drastis, kondisi mental terganggu, dan tidur menjadi sangat sulit.
“Ketika saya berusia 21 tahun, saya mengalami sakit yang sangat berat. Hampir satu tahun saya jatuh sakit, berat badan saya turun drastis, dan tidak semua dokter bisa langsung menemukan penyakit saya,” ungkap Irwan.
Dari pengalaman tersebut, Irwan belajar mendisiplinkan hidup, menjaga keseimbangan, dan mencari makna hidup melalui kontribusi kepada sesama. Pengalaman itu pula yang membuatnya sangat memahami perasaan orang tua, terutama ibu yang harus menghadapi kenyataan anaknya sakit sejak lahir.
“Kami bisa merasakan bahwa anak-anak yang menderita bibir sumbing kesulitan untuk makan, berbicara, dan kurang percaya diri terhadap penampilannya. Maka dari itu, hari ini kami kembali memberikan bantuan operasi sumbing bibir gratis bagi 50 penderita yang ada di wilayah Bogor,” ujar Irwan.
Ia menegaskan bahwa kondisi bibir sumbing bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga menyangkut masa depan anak, kepercayaan diri, dan kualitas hidup. Karena itu, menurut Irwan, membantu anak-anak menjalani operasi adalah bagian dari upaya memberi harapan agar mereka bisa tumbuh normal, bersekolah tanpa stigma, dan menyongsong masa depan dengan lebih baik.
“Target saya sederhana, mencintai masyarakat. Kalau hati mereka gembira, itu juga bagian dari penyembuhan,” tuturnya.
Apresiasi RS Hermina dan Pemerintah Kota Bogor
Direktur RS Hermina Bogor, dr. Muyi Ayoe Hapsari, SH, MM menyampaikan apresiasi atas konsistensi Sido Muncul dalam mendukung pelayanan kesehatan masyarakat. “Kolaborasi ini merupakan wujud nyata kepedulian dunia usaha terhadap pelayanan kesehatan masyarakat. Hingga saat ini, hampir 600 pasien telah mendapatkan tindakan medis melalui kerja sama ini,” ujarnya.
Pihak rumah sakit menilai dukungan ini sangat membantu karena penanganan bibir sumbing tidak berhenti pada operasi saja, melainkan membutuhkan pendampingan lanjutan seperti terapi bicara dan kontrol berkala hingga anak berkembang optimal.“Kami tidak pernah melepas pasien setelah operasi selesai. Pendampingan berlangsung hingga anak bisa tumbuh dan berkembang secara optimal,” jelasnya.
Apresiasi juga datang dari Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim. Ia menyampaikan bahwa kontribusi Sido Muncul merupakan contoh nyata sinergi antara dunia usaha, dunia medis, dan pemerintah daerah.
“Ini bukan kontribusi yang kecil. Jumlah penerima manfaatnya sudah sangat banyak, bahkan mencapai ribuan orang. Semua ini lahir dari kebaikan hati Pak Irwan Hidayat dan keluarga besar Sido Muncul,” kata Dedie.
Menurutnya, operasi bibir sumbing tidak sepenuhnya ditanggung BPJS, sehingga bantuan dari pihak swasta menjadi sangat berarti bagi keluarga kurang mampu. Program ini dinilai memberi harapan nyata bagi masyarakat sekaligus membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas kesehatan anak.
“Ketika ada ujian dalam hidup seseorang, Allah juga menyiapkan jalan kebaikan melalui tangan-tangan orang baik. Hari ini, kebaikan itu kita saksikan bersama,” ujarnya.
Peran Smile Train Indonesia dalam Menjaga Keberlanjutan Program
Kolaborasi dalam program bakti sosial operasi bibir sumbing ini juga mendapat dukungan penuh dari Smile Train Indonesia, organisasi nirlaba internasional yang berfokus pada penanganan celah bibir dan langit-langit. Country Manager and Program Director Indonesia, Deasy Larasati, menegaskan bahwa program semacam ini memiliki dampak besar, tidak hanya bagi anak penerima manfaat, tetapi juga bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.
“Bibir sumbing bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga berdampak pada tumbuh kembang anak, baik dari sisi kesehatan, psikologis, hingga sosial,” ujar Deasy.
Menurut Deasy, anak-anak dengan bibir sumbing kerap menghadapi tantangan dalam proses makan, berbicara, dan bersosialisasi, sehingga penanganan sejak dini menjadi sangat penting.
“Ketika operasi dilakukan lebih awal dan ditangani dengan baik, anak-anak memiliki kesempatan yang jauh lebih besar untuk tumbuh normal dan menjalani kehidupan yang setara dengan anak-anak lainnya,” katanya.
Ia juga mengapresiasi konsistensi Sido Muncul dalam mendukung program operasi bibir sumbing secara berkelanjutan.
“Kolaborasi dengan PT Sido Muncul sangat berarti bagi kami. Dukungan ini memungkinkan lebih banyak anak mendapatkan akses layanan operasi yang aman dan berkualitas,” ungkap Deasy.
Lebih lanjut, Deasy menekankan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah operasi yang dilakukan, tetapi dari dampak jangka panjang terhadap kualitas hidup anak-anak penerima manfaat.
“Tujuan utama kami adalah memastikan anak-anak ini bisa kembali tersenyum, percaya diri, dan memiliki masa depan yang lebih baik. Kolaborasi lintas sektor seperti ini adalah kunci untuk mencapai tujuan tersebut,” tuturnya.
Kerja sama Sido Muncul bersama Smile Train Indonesia yang terjalin sejak 2022 hingga akhir Desember 2025 telah membantu operasi sumbing bibir terhadap 410 pasien di berbagai daerah di Indonesia.
Cerita Nimah dan Aini: Syukur yang Menguatkan Harapan
Bagi para keluarga penerima manfaat, program bakti sosial operasi bibir sumbing ini bukan sekadar bantuan medis, melainkan titik balik yang mengubah hidup mereka. Salah satunya dirasakan oleh Nimah, nenek dari bayi berusia enam bulan yang menjadi salah satu penerima manfaat dalam program ini.
Nimah mengaku sangat terpukul saat pertama kali mengetahui cucunya terlahir dengan kondisi bibir sumbing. Dengan kondisi ekonomi keluarga yang terbatas, ia sempat merasa tidak tahu harus berbuat apa.
“Awalnya saya kaget dan sedih sekali. Saya sempat menangis karena memikirkan biaya operasi yang pasti besar, sementara orang tua anak ini hanya buruh harian,” ujar Nimah.
Ia mengetahui adanya program bakti sosial operasi bibir sumbing ini dari informasi yang diterima melalui ponselnya, lalu segera mendaftarkan cucunya. Bantuan dari PT Sido Muncul, menurutnya, menjadi jawaban dari kekhawatiran keluarga.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur ada bantuan dari Sido Muncul. Kalau tidak ada program ini, kami tidak tahu harus bagaimana,” tuturnya dengan suara bergetar.
Cerita serupa datang dari Aini, ibu dari anak kembar, di mana kedua anaknya terlahir dengan kondisi bibir sumbing. Ia mengungkapkan bahwa perjalanan menerima kondisi tersebut bukan hal yang mudah.
“Waktu tahu anak saya bibir sumbing, saya sempat down dan terus bertanya kenapa bisa terjadi. Tapi lama-lama saya belajar menerima,” kata Aini.
Salah satu anaknya telah menjalani operasi, sementara yang lain masih membutuhkan tindakan lanjutan sesuai arahan dokter. Program bantuan dari Sido Muncul menjadi harapan besar bagi keluarganya agar proses tersebut dapat berjalan dengan baik.
“Dengan adanya bantuan ini, saya merasa sangat terbantu. Harapan saya sederhana, anak saya bisa tumbuh seperti anak-anak lainnya, percaya diri, dan punya masa depan yang baik,” ujarnya.
Bagi keluarga seperti Nimah dan Aini, operasi bibir sumbing bukan hanya tentang memperbaiki kondisi fisik anak, tetapi juga tentang membuka kembali pintu masa depan. Senyum yang kembali terukir menjadi simbol harapan baru, bahwa dengan kepedulian dan kolaborasi, masa depan anak-anak dapat berubah menjadi lebih cerah.