Irwan Hidayat Ajak Masyarakat Mulai Investasi Saham untuk Masa Depan Finansial

Direktur PT Industri Jamu & Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul), Dr. (H.C) Irwan Hidayat, melihat potensi besar investasi saham bagi masyarakat Indonesia.

nofie tessar
Oleh nofie tessar - Reporter
Irwan Hidayat Ajak Masyarakat Mulai Investasi Saham untuk Masa Depan Finansial
Direktur PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul), Dr. (H.C.) Irwan Hidayat di Kawasan Agrowisata Pabrik Sido Muncul, Kabupaten Semarang, Kamis (12/3/2026). (Gilar Ramdhani)

Kesadaran masyarakat untuk berinvestasi terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak orang mulai menyadari bahwa menyimpan uang di tabungan saja sering kali tidak cukup untuk mengembangkan nilai aset. Bahkan, jika seseorang rutin menabung setiap bulan, belum tentu nilai uangnya benar-benar bertambah secara signifikan karena adanya potongan biaya administrasi maupun inflasi.

Perubahan pola pikir ini membuat semakin banyak masyarakat yang beralih dari sekadar menabung menuju berinvestasi. Salah satu instrumen yang kini mulai dilirik adalah saham.

Direktur PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul), Dr. (H.C) Irwan Hidayat, melihat potensi besar dari investasi saham bagi masyarakat Indonesia. Ia menilai bahwa saham seharusnya tidak dipandang sebagai aktivitas spekulatif atau sekadar mencoba peruntungan, melainkan sebagai bagian dari perencanaan keuangan yang matang.

“Berinvestasilah di saham. Pilih saham yang baik. Jangan bermain saham, tapi berinvestasi (serius di saham),” ujar Irwan di Kawasan Agrowisata Pabrik Sido Muncul, Kabupaten Semarang, Kamis (12/3/2026).

Menurut Irwan, salah satu alasan saham menarik adalah potensi kenaikan nilainya dalam jangka waktu tertentu. Ketika seseorang membeli saham perusahaan yang memiliki fundamental baik dan dikelola dengan baik pula, harga saham tersebut berpotensi meningkat seiring berkembangnya kinerja perusahaan.

“Kalau Anda beli saham yang bagus, dua tahun bisa naik 30 sampai 40 persen. Tapi kalau Anda bermain saham, itu bisa rugi,” katanya.

Kenaikan harga saham inilah yang dikenal sebagai capital gain. Investor dapat membeli saham pada harga tertentu, lalu menjualnya ketika nilainya meningkat sehingga memperoleh keuntungan dari selisih harga tersebut. Karena itu, pemilihan perusahaan yang tepat menjadi salah satu kunci utama dalam berinvestasi saham.

Selain potensi kenaikan harga, saham juga memberikan kesempatan bagi investor untuk mendapatkan dividen. Dividen merupakan bagian dari laba perusahaan yang dibagikan kepada para pemegang saham.

Sido Muncul
Direktur PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul), Dr. (H.C) Irwan Hidayat di Kawasan Agrowisata Pabrik Sido Muncul, Kabupaten Semarang, Kamis (12/3/2026). (Gilar Ramdhani)

Ketika seseorang memiliki saham sebuah perusahaan, secara tidak langsung ia juga menjadi bagian dari pemilik perusahaan tersebut. Dengan demikian, pemegang saham berhak memperoleh bagian keuntungan perusahaan jika perusahaan memutuskan membagikan dividen melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Jumlah dividen yang diterima tentu bergantung pada jumlah saham yang dimiliki. Semakin banyak saham yang dimiliki, semakin besar pula potensi dividen yang dapat diperoleh.

Bagi Irwan, peluang keuntungan seperti ini membuat investasi saham layak dipertimbangkan masyarakat dibandingkan hanya menyimpan dana di rekening bank.

“Kalau punya uang 10 juta, 20 juta, 50 juta atau 100 juta, berinvestasilah di saham. Menurut saya itu lebih menguntungkan dibandingkan hanya disimpan di bank,” ujarnya.

Saat ini investasi saham juga semakin mudah dilakukan. Dengan berkembangnya teknologi, masyarakat dapat melakukan transaksi jual beli saham secara online melalui berbagai aplikasi trading di smartphone. Investor bahkan bisa menentukan harga beli atau jual tertentu sehingga sistem dapat menjalankan transaksi secara otomatis tanpa harus terus-menerus memantau pergerakan pasar.

Meski demikian, Irwan kembali mengingatkan bahwa investasi tetap membutuhkan keseriusan dan pemahaman yang baik.

“Jangan bermain-main. Investasi itu harus serius, bukan permainan,” tegasnya.

Ia juga menyoroti masih rendahnya jumlah investor saham di Indonesia. Saat ini baru sekitar 7,5% atau sekitar 21 juta masyarakat Indonesia yang berpartisipasi di pasar saham, angka yang masih jauh tertinggal dibandingkan negara maju seperti Amerika Serikat.

“Bayangkan, cuma sekitar 21 juta orang yang berinvestasi di saham. Di Amerika Serikat sudah 62% dari total sekitar 340 juta penduduk,” jelasnya.

Karena itu, Irwan berharap semakin banyak masyarakat Indonesia yang mulai memanfaatkan peluang investasi untuk meningkatkan kesejahteraan sekaligus memperkuat pasar modal dalam negeri.

“Saya berharap pasar saham Indonesia semakin ramai oleh investor dalam negeri, sehingga tidak terlalu tergantung pada investor asing,” katanya.

Pada akhirnya, menurut Irwan, investasi bukan hanya soal mencari keuntungan semata, tetapi juga tentang membangun masa depan finansial yang lebih baik.

“Saya berharap masyarakat kita sehat dan kehidupannya semakin baik. Kita hidup di negeri yang kaya, mudah-mudahan suatu hari masyarakat kita semakin maju,” tuturnya.

Rekomendasi