PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) menegaskan fokus perusahaan pada kualitas pertumbuhan dan imbal hasil pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026. Dalam rapat yang digelar 9 April 2026 itu, perusahaan dengan kode saham "SIDO" sekaligus emiten jamu terbesar di Indonesia tersebut mengumumkan dividen final sebesar Rp441,5 miliar atau Rp15 per saham untuk tahun buku 2025.
Jika digabungkan dengan dividen interim Rp647,6 miliar yang telah dibagikan pada November 2025, total dividen mencapai Rp1,1 triliun atau setara 90 persen laba bersih 2025.
Sepanjang 2025, Sido Muncul membukukan penjualan Rp4,08 triliun, naik 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih tercatat Rp1,23 triliun, dengan margin operasi 38 persen dan margin bersih 30 persen. Penjualan ekspor juga tumbuh 31 persen dengan kontribusi 9 persen terhadap total penjualan, terutama ditopang pasar Malaysia, Nigeria, dan Filipina.
Namun, bagi Direktur Sido Muncul, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, hasil RUPS tahun ini bukan hanya soal dividen dan angka kinerja. Ada agenda jangka panjang yang sedang dibangun, yaitu memperkuat fondasi perusahaan sekaligus menyiapkan transisi kepemimpinan ke generasi penerus.
Lebih dari 70 Tahun, Sido Muncul Menjaga Posisi sebagai Produsen Jamu Terbesar
Sido Muncul saat ini dikenal sebagai produsen jamu terbesar di Indonesia dengan pengalaman lebih dari 70 tahun. Perusahaan ini juga beroperasi melalui lebih dari 120 pusat distribusi di seluruh Indonesia dan mempertahankan kepemimpinan pasar dengan mengandalkan inovasi, kualitas produk, serta perhatian pada masyarakat dan lingkungan.
Latar sejarah itu penting karena menjadi dasar arah yang kini dibangun manajemen. Dalam konteks RUPS, Irwan tak hanya berbicara soal kinerja tahunan, tetapi juga kesinambungan perusahaan agar tetap relevan dan kuat dalam jangka panjang.
Dari Pernah Menjadi CEO hingga Kini Menyiapkan Tongkat Estafet
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk menetapkan Dr. (H.C.) Irwan Hidayat sebagai Direktur Utama atau Chief Executive Officer (CEO) efektif per 9 April 2026.
Irwan menjelaskan bahwa pada RUPS kali ini terjadi pergantian CEO dan dirinya kembali mengemban posisi tersebut. Namun ia menegaskan kepemimpinan di perusahaan tidak dijalankan secara individual.
Irwan menggantikan David Hidayat yang menjabat sejak 17 Mei 2018 hingga 9 April 2026. Selanjutnya, David akan melanjutkan perannya sebagai Direktur bersama Maria Reviani Hidayat, Budiyanto, dan Darmadji Sidik. Pergantian ini mencerminkan kesinambungan kepemimpinan yang telah terbangun, sebelumnya Irwan sempat menjabat posisi yang sama pada periode 2013–2016, dilanjutkan oleh Jonatha Sofjan Hidajat pada periode 2016-2018 dan kemudian David Hidayat.
Ia juga menyebut regenerasi kepemimpinan sudah mulai dibangun di level struktural.
“Nanti kita bersama-sama ini, Pak David, Pak Sofjan, Pak Johan, Pak Sigit, itu nanti yang akan mempersiapkan… supaya nanti yang generasi penerus itu lebih gampang menerimanya,” ujarnya.
Artinya, regenerasi tidak dilakukan mendadak, melainkan melalui masa persiapan agar generasi penerus menerima perusahaan dalam kondisi yang lebih tertata.
Daftar Susunan Direksi dan Komisaris Sido Muncul
Advertisement
Dengan demikian, susunan anggota Direksi Perseroan sejak ditutupnya RUPST 2026 Sido Muncul adalah sebagai berikut:
- Direktur Utama: Irwan Hidayat
- Direktur: David Hidayat
- Direktur: Maria Reviani Hidayat
- Direktur: Budiyanto
- Direktur: Darmadji Sidik
Sementara itu, susunan Dewan Komisaris Perseroan tidak mengalami perubahan dan tetap seperti sebelumnya, yakni:
- Komisaris Utama: Jonatha Sofjan Hidajat
- Komisaris: Johan Hidayat
- Komisaris: Sigit Hartojo Hadi Santoso
- Komisaris: Venancia Sri Indrijati Wijono
- Komisaris Independen: Lindawati Gani
- Komisaris Independen: Mohammad Adib Khumaidi
Menyiapkan Perseroan yang Lebih Baik dan Transparan
Bagi Irwan, persiapan menuju regenerasi tidak bisa dilepaskan dari pembenahan internal. Ia memberi sinyal bahwa perusahaan ingin diserahkan dalam kondisi lebih baik, lebih rapi, dan lebih mudah dikelola generasi berikutnya. Penegasan itu tampak dari pernyataannya yang menyinggung adanya penyesuaian dan pembelajaran terhadap perubahan tata kelola agar penerus lebih siap menerima estafet perusahaan.
Dari sisi hasil usaha, fondasi itu terlihat pada kemampuan perusahaan menjaga profitabilitas sekaligus memberi imbal hasil yang konsisten kepada pemegang saham. Total dividen Rp1,1 triliun atau 90 persen dari laba bersih menegaskan bahwa perusahaan berupaya menyeimbangkan pertumbuhan, tata kelola, dan return.
Inventory Adjustment dan Efisiensi Pengadaan lewat Sistem SMART
Dalam arah pembenahan itu, salah satu langkah yang disorot manajemen adalah inventory adjustment dan efisiensi pengadaan barang melalui sistem monitoring SMART. Tujuannya adalah membuat perusahaan lebih tertata, lebih terkendali, dan lebih efisien dalam mengelola arus barang maupun biaya operasional. Kerangka ini sejalan dengan upaya perusahaan menjaga profitabilitas di tengah konsumsi masyarakat yang selektif, fluktuasi nilai tukar, dan dinamika harga bahan baku.
Irwan juga menggambarkan pendekatan perusahaan yang cenderung berhati-hati dan rasional dalam mengelola bisnis.
“Ya saya tidak bilang pasti untung… Tapi apa yang kami lakukan, masuk akal. Kami bekerja keras. Kami cara mengelolanya juga berhemat. Tidak ngawur,” ujarnya.
Irwan memperlihatkan bahwa efisiensi bukan semata respons jangka pendek, tetapi bagian dari disiplin pengelolaan perusahaan yang ingin dijaga sebelum estafet kepemimpinan berpindah ke generasi berikutnya.
Ekspor Diperluas, Arab Saudi Masuk Radar
Salah satu agenda utama yang disampaikan Irwan adalah memperluas pasar ekspor. Hal ini sejalan dengan kinerja 2025, ketika penjualan ekspor Sido Muncul tumbuh 31 persen dan menyumbang 9 persen dari total penjualan. Pasar utama yang menopang pertumbuhan tersebut berasal dari Malaysia, Nigeria, dan Filipina.
Irwan menilai peluang ekspansi internasional masih terbuka.
“Oh ya, yang pasar domestik ini kan juga masih belum apa-apa. Contohnya food supplement, masih kecil sekali food supplement. Jadi kita itu punya kesempatan memperluas pasar dalam negeri dan pasar ekspor,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan salah satu negara yang sempat masuk radar perusahaan.
“Ya, kemarin rencananya buka kantor di Arab Saudi, namun sekarang sedang dalam kondisi perang. Jadi sedang dicari lagi di mana. Kantor marketing, bukan pabrik,” kata Irwan.
Meski demikian, ia mengakui situasi global belum sepenuhnya mudah.
“Tapi nanti kita akan berusaha supaya profitnya tetap. Salesnya minimal tetap kalau bisa. Tapi kan kita nggak ngerti perang ini gimana,” ujarnya.
Produk Suplemen Dinilai Masih Punya Ruang Tumbuh Besar
Selain ekspor, Irwan melihat potensi besar datang dari pasar domestik, khususnya segmen suplemen. Menurut dia, pasar produk food supplement masih relatif kecil dibandingkan potensi yang tersedia. Karena itu, perusahaan melihat ruang pertumbuhan yang masih luas untuk diperbesar dalam beberapa tahun ke depan.
“Contohnya food supplement, masih kecil sekali food supplement. Jadi kita itu punya kesempatan memperluas pasar dalam negeri dan pasar ekspor,” ujarnya.
“Food supplement itu masih kecil. Kalau Tolak Angin, kita memang 72%,” tambahnya.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa selain menjaga lini yang sudah mapan, Sido Muncul juga ingin memperbesar sumber pertumbuhan baru dari kategori produk yang masih belum tergarap optimal. Di level korporasi, arah ini selaras dengan pandangan perusahaan bahwa prospek 2026 tetap konstruktif ditopang peningkatan perhatian masyarakat terhadap kesehatan.
Kampanye Menabung Saham, dari Direksi sampai Karyawan
Salah satu pesan yang paling menonjol dari Irwan adalah dorongan agar masyarakat menabung dalam bentuk saham. Menurut dia, gerakan ini dimulai dari internal perusahaan sebagai langkah nyata membangun partisipasi publik di pasar modal.
“Kita mulai kampanye menabung saham. Saya mulai dari karyawan supaya semua ikut partisipasi,” ujarnya.
Irwan menegaskan dirinya tidak membatasi karyawan pada satu saham tertentu.
“Banyak orang kapok, tidak mau beli saham lagi karena orientasinya jual-beli. Tapi kalau seperti kami, biasanya yang menabung dalam bentuk saham itu untung, asal memilih yang bagus, memilih perusahaan yang punya track record yang baik,” ujarnya.
Ia melihat gerakan ini penting untuk memperkuat kemandirian.
“Kalau mengurangi ketergantungan, salah satunya di bidang investasi dan permodalan. Karena kalau masyarakat menabungnya bukan dalam bentuk uang yang disimpan di lemari, itu lebih baik,” jelasnya.
“Yang diharapkan supaya kita itu mengurangi ketergantungan terhadap investor asing,” ujarnya.
Soal literasi saham, Irwan menilai contoh langsung lebih penting daripada sekadar imbauan.
“Ya, literasinya ya karyawannya sendiri beli. Itu kan cara satu. Saya beli lagi. Ya, kalau cuma ngomong, ayo belilah, ayo belilah. Ini tak kasih contoh aja. Dan saya beli,” kata dia.
Ia juga menekankan, ukuran keberhasilan gerakan ini bukan semata nominal pembelian.
“Jangan bicara jumlah, ya. Cuma 50 lot, sedikit. Banyak orang yang berpikir itu dari segi jumlah. Tapi kalau saya, dari segi berapa banyak orang yang partisipasi. Dan itu akan menumbuhkan kesadaran,” ujarnya.
Cerita Karyawan: dari Ikut Kampanye sampai Menyimpan Saham untuk Pensiun
Advertisement
Pesan Irwan itu mulai diterjemahkan di tingkat karyawan. Seorang karyawan Sido Muncul bernama Ardi Prasetyo yang telah bekerja selama 10 tahun. Ia mengaku tertarik membeli saham untuk investasi.
Ardi mengaku telah membeli 50 lot saham dan mulai merasakan manfaat dividen.
"Saya sudah beli 50 lot. Satu lot itu 100 lembar, dan rata-rata teman-teman juga segitu, bahkan ada yang lebih tinggi,” katanya.
Ia mengaku salah satu motivasinya adalah ikut menyukseskan program perusahaan.
“Tertarik menabung saham untuk investasi. Yang pertama kita ikut menyukseskan kampanye menabung saham, jadi karyawan juga berpartisipasi,” ujarnya.
Ardi juga menyebut manfaat yang sudah dirasakan berasal dari dividen.
Sementara itu, karyawan lain bernama Uni Farida yang telah bekerja 28 tahun di Sido Muncul bercerita bahwa dirinya sudah memegang saham selama 13 tahun.
“Saya Uni Farida. Saya sudah kerja di sini 28 tahun. Beli sahamnya sudah 13 tahun,” ujarnya.
Ia menjelaskan awal mula kepemilikan sahamnya berasal dari penghargaan masa kerja.
“Awal-mulanya itu perusahaan memberi penghargaan buat karyawan yang sudah 15 tahun. Saat itu dikasih 5 lot. 5 lot itu 1 lotnya 100. Jadi 500 lembar,” katanya.
Uni Farida menambahkan bahwa dari saham awal itu, ia terus menambah kepemilikannya dan memilih tidak menjualnya. Baginya, saham bukan sekadar sumber dividen, tetapi juga tabungan jangka panjang.
“Ya, dividen dan buat tabungan masa depan pensiun saya. Kan lama-lama awalnya belinya cuma dua juta sekian, sekarang sampai lima juta sekian lebih,” kata Uni Farida.
Cerita para karyawan itu menunjukkan bahwa gagasan menabung saham yang disampaikan Irwan Hidayat mulai diterima sebagai kebiasaan investasi di internal perusahaan. Dari sudut pandang perusahaan, ini bukan hanya soal transaksi saham, tetapi juga soal membangun budaya partisipasi ekonomi.