Rata-rata Lama Sekolah Sulteng Jadi Tantangan Utama Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2045
Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menyoroti rata-rata lama sekolah Sulteng yang masih 9 tahun sebagai tantangan besar pendidikan menuju Indonesia Emas 2045, mendorong intervensi besar untuk peningkatan kualitas.
Palu, Merdeka.com - Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Anwar Hafid, baru-baru ini menyatakan bahwa rata-rata lama sekolah di provinsi tersebut yang masih berada di angka sembilan tahun menjadi salah satu tantangan krusial dalam upaya pembangunan daerah. Pernyataan ini disampaikan pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Guru Nasional 2025 tingkat Sulteng yang diselenggarakan di Morowali.
Menurut Anwar Hafid, kondisi rata-rata lama sekolah Sulteng saat ini memerlukan intervensi besar dan terencana untuk dapat mencapai target Indonesia Emas 2045. Target ambisius tersebut menuntut peningkatan kualitas sumber daya manusia yang signifikan, dan pendidikan memegang peranan sentral dalam pencapaiannya. Oleh karena itu, fokus pada peningkatan angka rata-rata lama sekolah menjadi prioritas utama pemerintah daerah.
Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah Provinsi Sulteng telah menyiapkan berbagai program strategis yang akan diluncurkan pada tahun 2026 mendatang. Langkah-langkah ini diharapkan mampu mempercepat peningkatan partisipasi dan kualitas pendidikan di seluruh wilayah Sulawesi Tengah, mulai dari jenjang paling dasar hingga menengah atas.
Strategi Pemerintah Dorong Wajib Belajar 13 Tahun
Dalam upaya meningkatkan rata-rata lama sekolah Sulteng, Gubernur Anwar Hafid menegaskan pentingnya pendataan yang ketat terhadap kelanjutan pendidikan setiap anak. Pendataan ini mencakup perjalanan pendidikan dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), memastikan tidak ada anak yang putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Hal ini menjadi fondasi penting untuk merancang intervensi yang tepat sasaran.
Pemerintah Provinsi Sulteng telah menyiapkan sejumlah program strategis yang ambisius untuk tahun 2026. Salah satunya adalah pembiayaan penuh Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) oleh pemerintah, yang bertujuan untuk memastikan akses pendidikan dini yang merata bagi seluruh anak di Sulteng. Program ini diharapkan dapat membangun fondasi pendidikan yang kuat sejak usia dini.
Selain itu, pemerintah juga akan menerapkan wajib belajar 13 tahun, yang mencakup pendidikan dari PAUD hingga SMA. Inisiatif ini diperkuat dengan pendirian Sekolah Rakyat di seluruh kabupaten/kota, guna mendekatkan akses pendidikan berkualitas kepada masyarakat. Guna mendukung proses belajar mengajar, pemerintah juga berencana memasang fasilitas internet di semua sekolah di Sulawesi Tengah.
Tren Peningkatan Rata-rata Lama Sekolah di Sulawesi Tengah
Meskipun masih menghadapi tantangan, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren positif terkait Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) untuk penduduk usia 25 tahun ke atas di Sulteng. Selama periode 2022 hingga 2024, terjadi peningkatan bertahap yang patut diapresiasi. Pada tahun 2022, RLS Sulteng tercatat selama 8,69 tahun, angka ini setara dengan rata-rata nasional dan menempatkan Sulteng di peringkat ke-19 se-Indonesia.
Perkembangan positif terus berlanjut pada tahun berikutnya. Pada tahun 2023, RLS Sulteng meningkat menjadi 8,96 tahun, angka ini telah berada di atas rata-rata nasional dan membawa provinsi ini naik ke peringkat ke-17 se-Indonesia. Peningkatan ini menunjukkan adanya upaya signifikan dalam mendorong partisipasi pendidikan di kalangan masyarakat.
Tren peningkatan ini berhasil dipertahankan pada tahun 2024, dengan RLS mencapai 9,04 tahun. Angka ini kembali berada di atas rata-rata nasional dan Sulteng tetap mempertahankan posisinya di peringkat ke-17 se-Indonesia. Data ini menjadi indikator bahwa program-program pendidikan yang telah berjalan mulai menunjukkan hasil, meskipun tantangan rata-rata lama sekolah Sulteng masih besar.
Peran Guru dan Rekomendasi Kebijakan Pendidikan
Gubernur Anwar Hafid secara khusus menyampaikan apresiasinya yang tinggi kepada para guru di Sulawesi Tengah. Beliau menegaskan, "Tanpa guru, Sulawesi Tengah tidak akan maju seperti sekarang. Masa depan anak-anak Sulteng ada di tangan kalian." Pernyataan ini menggarisbawahi peran vital guru sebagai garda terdepan dalam mencetak generasi penerus yang berkualitas dan berdaya saing.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga meminta Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) untuk menyusun rekomendasi resmi. Rekomendasi ini diharapkan dapat menjadi dasar kebijakan pendidikan daerah, khususnya terkait dengan perlindungan hukum dan peningkatan kesejahteraan guru. Peningkatan kesejahteraan dan perlindungan hukum bagi guru dinilai krusial untuk memastikan mereka dapat mengajar dengan optimal.
Menanggapi hal tersebut, Ketua PGRI Sulteng, Syam Zaini, menyatakan dukungan penuh terhadap langkah-langkah pemerintah daerah untuk meningkatkan kesejahteraan guru dan sektor pendidikan secara keseluruhan. Syam Zaini juga menekankan pentingnya integritas guru, "Guru harus tegas, menjaga integritas, dan membimbing siswa menjadi manusia beriman serta berakhlak," ujarnya, menyoroti pentingnya peran moral dan etika dalam profesi guru.
Sumber: AntaraNews