Ramai Kader Partai Lain Ingin Gabung PSI, Jokowi: Ini Kan Demokrasi Ya
Jokowi menilai, berpindahnya kader dari satu partai ke partai lain dikarenakan berbagai pertimbangan.
Presiden ke-7 Joko Widodo alias Jokowi menanggapi santai banyaknya kader partai lain ingin bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Menurutnya perpindahan dari partai satu ke partai lain merupakan hal biasa di era demokrasi.
"Ya ini kan demokrasi ya. Kalau orang ingin ke PSI kan enggak bisa dipaksa paksa kan. Enggak mungkin dalam era keterbukaan seperti ini," ungkapnya
Jokowi menilai, berpindahnya kader dari satu partai ke partai lain dikarenakan berbagai pertimbangan.
"Karena pindah mungkin karena melihat masa depan PSI misalnya, bisa saja. Atau senang dengan suasana di PSI, bisa saja. Tapi sekali lagi saya melihat tidak ada paksaan apa-apa," tandasnya.
Disinggung ada beberapa tokoh atau kader partai yang menemuinya,ayah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menganggapnya biasa. Apalagi selama ini banyak warga masyarakat yang setiap hari mengunjungi rumah pribadinya.
"Ya semua datang, ya biasa tiap hari banyak yang datang tokoh maupun politisi dan kita berbicara, berdiskusi masalah apa saja. masalah sosial, masalah politik, dan masalah ekonomi. Ya berbicara itu. Mengenai kemudian beliau beliau ini masuk ke PSI itu ya urusan pribadi masing-masing, dan memang kehendak politik pribadi masing-masing," jelasnya.
Karding Temui Jokowi
Saat ditanyakan terkait kedatangan mantan Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Abdul Kadir Karding yang juga menemuinya, Jokowi memberikan argumen serupa.
"Ya semuanya seperti halnya saya sampaikan. Itu kehendak pribadi masing-masing, keinginan pribadi masing-masing.
Enggak ada lah saya kira paksaan paksaan untuk masuk ke partai," tukasnya.
Jokowi juga mengaku tidak pernah mengajak tokoh tokoh untuk masuk ke PSI.
"Nggak ada, ngajak ngajak apa. Seperti saya sampaikan itu kehendak pribadi masing-masing, keinginan pribadi masing-masing," tegasnya.
"Karena memang rumah saya kan terbuka, baik yang tokoh-tokoh lokal, politisi politisi lokal, politisi politisi tingkat provinsi, politisi politisi tingkat nasional. Saya terbuka, mengenai keputusan politik itu urusan mereka masing-masing," pungkasnya.