Potret Warga Terdampak Banjir Dayeuhkolot Bandung: Aris, Buruh yang Tak Bisa Libur
Meski kondisi rumah sedang diterjang banjir, Aris tetap harus pergi bekerja tiap harinya. Saban pagi, ia bersiap menerobos banjir menuju tempatnya bekerja.
Aris Maulana mesti berjalan kaki menerjang genangan banjir untuk berangkat kerja dari rumahnya di Kampung Bojong Asih, ke sebuah pabrik tekstil di bilangan Mochamad Toha, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung.
Kendala akses sepanjang 1,2 kilometer itu diakuinya tak nyaman. Namun, hal tersebut tersebut tak menyurutkan semangat pemuda 26 tahun itu buat menghimpun pundi-pundi cuan bakal bekalnya di masa depan.
"Enggak ada akses jalan buat kerjaan. Untungnya dekat sih rumah di Bojong Asih jadi bisa jalan kaki," ujarnya dijumpai saat hendak menembus genangan di Jalan Raya, Mochamad Toha, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Sabtu (6/12).
Aris mengaku kondisi banjir di wilayah itu bukan hal baru baginya. Sejak kecil, daerah tempat ia lahir dan dibesarkan memang kerap dilanda luapan Sungai Citarum. Namun, beberapa hari terakhir genangan kembali meninggi dan membuat akses utama di Kecamatan Dayeuhkolot lumpuh.
"Kalau di pabrik sih enggak banjir, tapi kalau di luarnya ya banjir, mungkin sebetis," ucapnya.
Saban berangkat kerja, Aris menyusun siasat buat berhadap-hadapan dengan air. Ia membawa baju ganti lengkap dengan celana dalam. Berjalan dengan sandal, sepatunya dimasukkan ke kantong kresek yang ia jinjing.
Sayang, ada kalanya siasat itu tak ampuh seluruh. Kadang, kemeja kerjanya yang tetap basah saat menerobos air yang menggenang di sepanjang Jalan Mochamad Toha. Padahal seragam itu langsung dipakainya sedari rumah dengan niat agar tak kusut.
"Pasti bawa baju ganti. Sama ya, celana dalam segala diganti," katanya, tersenyum getir.
Soal fenomena banjir di Dayeuhkolot sendiri, menurutnya itu sudah jadi "langganan" bahkan sejak ia masih kecil. Ia pun ingat betul banjir besar pada 2005 ketika rumah keluarganya sempat terendam setinggi dada orang dewasa.
"Sudah lama sih, dari saya lahir juga sudah banjir. Dari 2005 kan gede-gedenya, paling pas SD saya di rumah itu se-dada," tuturnya.
Menurut Aris, genangan terdalam di kawasan yang ia lewati juga bisa mencapai setinggi dada orang dewasa. Titik banjir bahkan meluas hingga ke depan pabrik Ceres, membuat arus lalu lintas lumpuh dan sebagian pekerja terpaksa terlambat masuk. Sejumlah kendaraan besar seperti truk bahkan tampak mogok di kawasan itu.
"Yang pakai jemputan mah pasti telat. Paling bentar satu setengah. Itu juga lewat jalan tol, muter jauh banget," ucapnya.
Akses ke Lokasi Kerja Aris Terendam Air
Pabrik tempat ia bekerja, Daliatex, memang masih berada di wilayah Kabupaten Bandung, namun akses menuju lokasinya kerap tak bisa dilalui kendaraan kecil jika hujan deras mengguyur semalaman.
Di tengah kondisi yang tak kunjung membaik, Aris berharap penanganan banjir di Dayeuhkolot bisa segera dilakukan secara.
Harapan Warga Dayeuhkolot
"Pengin segera diatasi saja. Gitu saja. Biar bisa beraktivitas dengan nyaman," katanya sambil kembali melangkah menembus banjir menuju tempat kerjanya.
Aris bukan satu-satunya orang yang pagi-pagi sudah menerobos genangan banjir di bilangan Mochamad Toha, Dayeuhkolot. Ada sejumlah orang lainnya, laki maupun perempuan, memulai hari dengan menerjang genangan. Itu baik dilakukan serupa Aris dengan berjalan kaki, maupun naik semacam rakit atau perahu milik warga setempat.