Banjir Pondok Karya: Warga Mampang Prapatan Pilih Naik Perahu Demi Pekerjaan
Banjir Pondok Karya kembali melanda, memaksa warga Mampang Prapatan menggunakan perahu untuk beraktivitas. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pekerja yang harus tetap masuk kerja.
Pada Jumat, 23 Januari, sejumlah warga di kawasan Pondok Karya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, menghadapi tantangan serius akibat banjir yang melanda permukiman mereka. Genangan air yang tinggi membuat transportasi darat sulit diakses. Untuk tetap dapat beraktivitas, banyak warga memilih menggunakan perahu sebagai sarana utama menuju tempat kerja.
Kondisi ini dialami oleh Nurul, seorang pekerja swasta yang baru sebulan tinggal di Pondok Karya setelah pindah dari Bogor. Meskipun banjir melanda, ia tetap harus berangkat kerja karena kantornya tidak memberikan toleransi libur. Nurul mengungkapkan rasa syukurnya atas fasilitas transportasi perahu yang disediakan pemerintah setempat.
Banjir yang terjadi di Pondok Karya ini bukan merupakan kejadian baru bagi sebagian besar warga. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat bahwa hingga pukul 08.00 WIB pada hari yang sama, 125 RT dan 14 ruas jalan di Jakarta tergenang.
Dampak Banjir Terhadap Aktivitas Warga
Bagi Nurul, pengalaman banjir di Pondok Karya ini menjadi "culture shock" tersendiri. Ia yang terbiasa dengan kondisi di Bogor, kini harus beradaptasi dengan realitas banjir di Jakarta yang kerap ia lihat di televisi. Meskipun demikian, semangat untuk tetap bekerja tidak surut.
Warga lain, Novi, membenarkan bahwa banjir di Pondok Karya telah menjadi langganan sejak tahun 2000-an. "Banjir sering disini, mau mengungsi ke rumah saudara," katanya. Ia bahkan berencana mengungsi ke rumah saudaranya untuk sementara waktu. Novi berharap agar ketersediaan perahu sebagai alat transportasi darurat dapat diperbanyak.
Permintaan Novi ini menunjukkan kebutuhan mendesak akan solusi transportasi alternatif saat banjir. Ketersediaan perahu yang memadai dapat sangat membantu mobilitas warga yang terdampak. Hal ini juga menyoroti pentingnya kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam menghadapi bencana banjir.
Data Terkini Genangan Banjir di Jakarta Selatan
BPBD DKI Jakarta melaporkan bahwa banjir masih menggenangi sejumlah wilayah di Jakarta Selatan. Data per pukul 08.00 WIB menunjukkan adanya 55 RT yang terdampak di wilayah ini. Ketinggian genangan bervariasi, mulai dari 20 cm hingga 90 cm.
Beberapa kelurahan yang terdampak signifikan antara lain Kelurahan Petogogan dengan 26 RT tergenang, Kelurahan Pela Mampang dengan 9 RT, dan Kelurahan Ulujami dengan 8 RT. Penyebab utama genangan ini adalah curah hujan tinggi serta luapan beberapa kali seperti Kali Krukut, Kali Pesanggrahan, dan Kali Mampang.
Detail genangan di Jakarta Selatan meliputi:
- Kelurahan Pondok Labu: 1 RT, ketinggian 20 cm, disebabkan curah hujan tinggi dan luapan Kali Krukut.
- Kelurahan Petogogan: 26 RT, ketinggian 30 cm, disebabkan curah hujan tinggi dan luapan Kali Krukut.
- Kelurahan Cipulir: 1 RT, ketinggian 90 cm, disebabkan curah hujan tinggi.
- Kelurahan Pondok Pinang: 4 RT, ketinggian 50 cm, disebabkan curah hujan tinggi dan luapan Kali Pesanggrahan.
- Kelurahan Pela Mampang: 9 RT, ketinggian 75 cm, disebabkan curah hujan tinggi dan luapan Kali Mampang.
- Kelurahan Duren Tiga: 1 RT, ketinggian 40 cm, disebabkan curah hujan tinggi.
- Kelurahan Cilandak Timur: 2 RT, ketinggian 50 cm, disebabkan curah hujan tinggi dan luapan Kali Krukut.
- Kelurahan Pejaten Timur: 3 RT, ketinggian 50 cm, disebabkan curah hujan tinggi dan luapan Kali Ciliwung.
- Kelurahan Ulujami: 8 RT, ketinggian 70 cm, disebabkan curah hujan tinggi dan luapan Kali Pesanggrahan.
Data ini menunjukkan bahwa dampak banjir meluas di berbagai titik di Jakarta Selatan. Upaya penanganan dan mitigasi bencana perlu terus ditingkatkan untuk mengurangi kerugian yang dialami masyarakat.
Sumber: AntaraNews