Warga Benhil Sebut Banjir Rendam Rumahnya Sejak Dini Hari Terparah Sejak Covid-19
Banjir melanda permukiman warga di kawasan Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Pusat, sejak dini hari Minggu (8/3/2026).
Banjir melanda permukiman warga di kawasan Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Pusat, sejak dini hari Minggu (8/3/2026). Air menggenangi rumah-rumah warga dengan ketinggian yang bervariasi.
Berdasarkan pantauan Liputan6.com pada pukul 12.35 WIB di RT 13/RW 6, Jalan Karet Pasar Baru Barat, Benhil, Jakarta Pusat, ketinggian air di dalam rumah warga sudah mencapai batas yang mengkhawatirkan. Warga setempat mengungkapkan bahwa banjir kali ini merupakan yang terparah sejak pandemi Covid-19.
"Dari semalam. Setengah tiga itu di depan rumah sudah tinggal sedikit lagi dari pintu," ungkap Tuti (37) saat dijumpai di lokasi pada hari yang sama.
Tuti menjelaskan bahwa air yang terus meningkat akhirnya masuk ke dalam rumahnya, merendam seluruh bagian lantai bawah. Meskipun demikian, ia dan keluarganya masih dapat bertahan di lantai atas rumah yang memiliki dua tingkat.
"Karena saya punya lantai atas, jadi tadi pagi sahurnya di atas," tambahnya.
Dampak dari banjir ini membuat berbagai barang di lantai bawah rumahnya terendam air. Tuti menyatakan bahwa barang-barang tersebut harus dijemur setelah banjir surut.
"Di bawah basah semua. Nanti dijemur-jemur semua," kata Tuti.
Ia juga mencatat bahwa banjir kali ini tergolong parah dibandingkan dengan beberapa tahun terakhir. Menurutnya, sejak tahun 2020, kawasan tersebut jarang mengalami banjir besar.
"Dari tahun 2020 itu sudah tidak banjir lagi. Paling hanya banjir biasa saja, semata kaki atau sedikit. Tapi ini parah sekali," tuturnya.
Banjir Besar Biasanya Terjadi Jika Hujan Turun Terus Menerus
Menurut Tuti, banjir besar di area tersebut biasanya terjadi ketika hujan terus-menerus turun di wilayah hulu seperti Bogor, bersamaan dengan hujan di Jakarta.
"Biasanya kalau di Bogor hujan terus-menerus, ditambah di sini juga hujan, baru banjir. Tapi kalau salah satu saja, biasanya tidak," ungkap Tuti.
Hal ini juga disetujui oleh Miko (40), yang tinggal tidak jauh dari Tuti. Miko menjelaskan bahwa banjir di kawasan ini telah terjadi secara berulang dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
"Tahun 2012 atau 2013 ya, saya lupa, itu sampai pakai tambang, jalan saja susah. Lebih tinggi lagi dari ini waktu 2013. Pokoknya kalau berdiri, kita jinjit pun airnya segini nih, sampai masuk mulut padahal sudah jinjit. Jadi jalan saja susah, arusnya juga deras, sampai pakai tali sudah," ucap Miko.
Sebagai seorang pengemudi ojek online, Miko terpaksa tidak bisa bekerja karena banjir yang merendam rumahnya. Ia merasa terpaksa tinggal di rumah untuk menjaga barang-barangnya agar tetap aman.
Miko berharap agar banjir tidak terus terjadi. Ia ingin Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melakukan pengerukan kali secara rutin untuk mencegah kondisi banjir yang semakin parah akibat sungai atau kali yang meluap.
"Inginnya ya tidak banjir, kalau bisa itu Kali Krukut juga dibenerin mungkin bisa dikeruk juga karena kalau saya lihat menyempit gitu," tutup Miko.
Sejumlah Jalan di Jakarta Terendam Akibat Hujan Deras
Hujan deras yang melanda Jakarta sejak malam Sabtu, 7 Maret 2026, menyebabkan sejumlah ruas jalan tergenang air. Menurut informasi dari Ditlantas Polda Metro Jaya, terdapat setidaknya 11 titik genangan yang tersebar di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Selatan.
Beberapa ruas jalan bahkan tidak dapat dilalui oleh kendaraan karena ketinggian air mencapai setengah meter. Kabagbinopsnal Ditlantas Polda Metro Jaya, Kompol Robby Hefados, mengungkapkan bahwa genangan terjadi setelah curah hujan yang tinggi mengguyur Jakarta semalaman.
"Dari pantauan kami ada sekitar 11 titik banjir di ruas jalan Jakarta," ujar Robby saat dihubungi pada Minggu, 8 Maret 2026.
Di Jakarta Barat, genangan air terlihat di Jalan Daan Mogot, mulai dari depan Satpas Daan Mogot hingga Samsat Jakarta Barat.
"Saat ini jalan Daan Mogot tersebut hanya bisa dilalui di lajur paling kanan," ungkap Robby.
Selain itu, genangan juga terpantau di Perempatan Ring Road Kembangan dengan ketinggian air mencapai 30 sentimeter, yang hanya dapat dilalui di lajur paling kanan. Di jalan menuju Pospol Meruya, tepatnya di depan Komplek Meruya Indah, ketinggian air bahkan mencapai 50 sentimeter.
"Saat ini belum bisa dilintasi oleh kendaraan," tambahnya.
Genangan juga terlihat di depan Hotel Samala Cengkareng dan Gudang Aqua dengan ketinggian sekitar 30 sentimeter. Di Jakarta Selatan, air setinggi 40 sentimeter menggenangi jalan depan Gandaria City.
"Kendaraan hanya bisa lalui jalur TransJakarta," kata Robby.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4184518/original/088526100_1665147962-hujan_2.jpg)