Potensi Rp100 Juta Sehari, Pemkab Mimika Libatkan Warga Kelola Sampah Lewat Program Bank Sampah Mimika
Pemerintah Kabupaten Mimika meluncurkan program Bank Sampah Mimika di Distrik Mimika Baru, melibatkan warga untuk mengubah sampah menjadi potensi ekonomi hingga Rp100 juta per hari.
Pemerintah Kabupaten Mimika secara resmi meluncurkan program Bank Sampah Mimika guna mengatasi permasalahan sampah sekaligus memberdayakan ekonomi masyarakat. Inisiatif ini dimulai pada awal Oktober dengan menyediakan fasilitas bank sampah di Distrik Mimika Baru sebagai pilot project. Program ini bertujuan untuk menampung dan mengelola sampah rumah tangga dari warga setempat.
Bupati Mimika, Johannes Rettob, menyatakan bahwa setelah tahap uji coba di Distrik Mimika Baru, Pemkab Mimika berencana membangun dua unit bank sampah lagi. Lokasi yang menjadi target selanjutnya adalah Distrik Kuala Kencana dan Distrik Wania. Langkah ini diambil untuk memperluas jangkauan program dan memaksimalkan partisipasi warga di seluruh Kota Timika.
Keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah sangat krusial untuk mewujudkan Kota Timika yang bersih dan bebas dari tumpukan sampah. Saat ini, produksi sampah di Kota Timika mencapai sekitar 100 ton setiap harinya. Kondisi ini menunjukkan bahwa Mimika, khususnya Kota Timika, telah memasuki fase darurat sampah, yang diperparah dengan rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Mengubah Sampah Menjadi Potensi Ekonomi
Melalui program Bank Sampah Mimika, warga diajak untuk terlibat langsung dalam penanganan sampah, mulai dari pengumpulan hingga pemilahan. Setiap keluarga diwajibkan memilah sampah menjadi dua kategori utama, yaitu sampah basah atau organik, serta sampah kering atau anorganik. Sampah-sampah yang telah terpilah ini kemudian dapat dijual ke bank sampah yang telah disiapkan di setiap kelurahan.
Sampah kering seperti botol plastik, kardus, kertas, logam, dan kaleng bekas memiliki nilai ekonomi jika dipilah dengan benar. Bupati Rettob memberikan contoh potensi pendapatan yang signifikan dari program ini. "Jika 1 kilogram sampah kering dibeli seharga Rp1.000, maka untuk 100 ton sampah kering akan menghasilkan uang sekitar Rp100 juta," ujarnya.
Potensi pendapatan harian sebesar Rp100 juta dari pengelolaan sampah ini diharapkan dapat membantu perekonomian warga secara substansial. Selain memberikan manfaat ekonomi, metode pengelolaan sampah ini juga secara otomatis mengurangi volume sampah yang harus diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Distrik Iwaka. "Yang paling utama dari kegiatan ini adalah memberikan edukasi dan menumbuhkan kesadaran masyarakat Timika akan pentingnya menjaga lingkungan agar tetap bersih dan sehat," tambah Bupati Rettob.
Dukungan dan Mekanisme Pelaksanaan Program Bank Sampah Mimika
Dalam menjalankan program Bank Sampah Mimika, Pemerintah Kabupaten Mimika menjalin kerja sama strategis dengan pihak BNI Cabang Timika. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat sistem pengelolaan keuangan dan operasional bank sampah. Dukungan penuh juga datang dari jajaran Distrik Mimika Baru, yang secara aktif merekrut tenaga pemilah sampah.
Kepala Distrik Mimika Baru, Joel Luhukay, menjelaskan bahwa pihaknya telah merekrut 22 orang tenaga pemilah sampah. "Setiap kelurahan kita tempatkan dua orang yang bertugas memilah sampah. Kami sudah buat kontrak kerja dengan mereka untuk jangka waktu enam bulan dengan gaji standar UMK (Upah Minimum Kabupaten) dan dilengkapi dengan iuran BPJS Ketenagakerjaan," katanya. Para petugas ini akan mendatangi rumah warga untuk sosialisasi dan penjemputan sampah.
Pada tahap awal, para petugas pemilah sampah akan bertugas melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai waktu pembuangan sampah dan cara memilah sampah rumah tangga. Mereka juga akan menjemput sampah dari rumah ke rumah, sekaligus membawa daftar 17 jenis sampah yang sudah dipilah dan memiliki nilai jual. Petugas ini akan mengikuti pelatihan pengelolaan sampah di pusat bank sampah induk di Distrik Mimika Baru.
Solusi Komprehensif Atasi Darurat Sampah Timika
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Mimika telah menyiapkan bank sampah di 21 kelurahan dan desa di Kota Timika sebagai solusi komprehensif mengatasi persoalan sampah. Kepala DLH Mimika, Jefry Deda, menekankan pentingnya pemilahan sampah di tingkat rumah tangga. "Setiap rumah tangga harus memilah sampahnya. Makanan sisa dan sampah plastik dipisahkan," jelasnya.
Sampah organik seperti sisa makanan akan diolah menjadi pupuk kompos, sementara sampah plastik dibawa ke bank sampah di setiap kelurahan. Setelah itu, sampah plastik akan disortir kembali; sebagian dikirim ke bank sampah induk untuk kemudian dikirim ke Pulau Jawa, dan sebagian lagi dibawa ke pusat daur ulang (PDU) untuk diolah menjadi paving block atau batu bata. Pendekatan ini menunjukkan upaya serius Pemkab Mimika dalam mengelola sampah secara berkelanjutan.
Sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas dan pembelajaran, Pemkab Mimika sebelumnya telah melakukan studi banding terkait penanganan dan pengelolaan sampah. Kunjungan tersebut dilakukan ke Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang dikenal memiliki sistem pengelolaan sampah yang efektif. Pengalaman dari studi banding ini diharapkan dapat diimplementasikan untuk menyempurnakan program Bank Sampah Mimika.
Sumber: AntaraNews