Petani Akui Program MBG Dongkrak Pendapatan hingga 60 Persen, Siap Pasok Sayur saat Kemarau
Petani di Kabupaten Boyolali mengungkapkan rasa syukur atas program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sangat membantu dalam meningkatkan kesejahteraan mereka.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberi dampak besar bagi petani di daerah. Program yang digagas Presiden Prabowo Subianto ini bukan hanya bertujuan memenuhi gizi masyarakat, tapi juga menguntungkan petani lokal karena permintaan hasil tani meningkat dan harga komoditas lebih stabil.
Dengan adanya program ini, perputaran ekonomi meningkat, dan dukungan pemerintah berupa bantuan produksi semakin memperkuat optimisme petani untuk meningkatkan hasil panen demi keberlanjutan MBG. Di Dukuh Pasah, Desa Senden, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, para petani mulai merasakan perubahan yang nyata.
Agus Irawan, seorang petani berusia 34 tahun dari Dukuh Pasah, mengungkapkan dampak positif yang dirasakan. "Permintaan tidak hanya dari tengkulak maupun pedagang sayur pada umumnya, tapi juga diserap oleh program MBG," ujarnya.
Permintaan komoditas sayur-mayur, seperti tomat, brokoli, sawi putih, selada, dan cabe, melonjak seiring dengan kebutuhan dapur MBG. Agus menyatakan bahwa kenaikan harga yang dirasakan petani berkisar antara 40 hingga 60 persen, tergantung pada jenis komoditas. Hal ini membuatnya merasa senang dan bersemangat untuk bertani serta berkontribusi dalam program yang memberikan gizi kepada anak-anak Indonesia.
"Untuk peningkatan, sekitar 40 sampai 60 persen, bergantung dari jenis komoditas masing-masing sayuran," terangnya.
Selain peningkatan harga, dukungan pemerintah juga hadir melalui bantuan pupuk dari Dinas Pertanian Jawa Tengah. Bantuan pasokan pupuk ini turut meningkatkan produktivitas petani.
"Kami mendapatkan pupuk NPK dan juga pupuk ZA," ujar Agus. Bantuan tersebut dimanfaatkan untuk mendukung penanaman sayuran, termasuk persiapan menghadapi musim kemarau mendatang. Dengan bantuan ini, ia dan kelompok tani lainnya bisa bersiap menghadapi musim kemarau di bulan Agustus.
"Dengan adanya bantuan ini, nanti kami alokasikan untuk tambahan sayur-mayur. Jadi meskipun nanti di bulan-bulan Agustus itu ada musim kemarau, itu kami juga masih menanam untuk bisa menyuplai program MBG," kata Agus.
Hal serupa disampaikan Dianto, seorang anggota Kelompok Tani Ngudi Santoso. Menurutnya, program MBG mendorong petani untuk menyesuaikan komoditas dengan kebutuhan dapur program tersebut, seperti selada, buncis, wortel, sawi, dan brokoli. Ia juga menjelaskan perhatian besar dari Pemprov Jawa Tengah yang menyalurkan bantuan pupuk kepada petani.
"Bantuan pupuk yang dihasilkan dari dana hasil cukai tembakau ini untuk persiapan menanam sayur jelang musim kemarau," ujarnya, menegaskan pentingnya dukungan tersebut bagi keberlanjutan pertanian di daerahnya.