Pers Cermin Melihat Kondisi Bangsa
Melalui pemberitaan, pers memperlihatkan apa yang sedang terjadi.
Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat memaknai pers sebagai cermin sosial yang merefleksikan kondisi nyata bangsa, baik yang berlangsung di lingkup pemerintahan maupun kehidupan masyarakat.
Melalui pemberitaan, pers memperlihatkan apa yang sedang terjadi. Mulai dari kebijakan, capaian, hingga problem yang muncul. Tujuannya, agar dapat dibaca dan dinilai publik.
“Saya rasa pers itu reflektor atau cermin yang memantulkan apa yang terjadi, yang dilihat pada pemerintah dan juga masyarakat. Jadi apa yang terjadi pada pemerintah, kebijakan, prestasi, keberhasilan, mungkin beberapa penyimpangan yang terjadi, kemudian dipantulkan oleh media massa buat masyarakat,” kata dia dalam acara Workshop Awal Tahun 2026 Dewan Pers bertajuk ‘Memandang Masa Depan Media: Sinergi Bisnis, Tren Periklanan, dan Integritas di Era Hiper-Konektivitas di Hall Dewan Pers, Jakarta Pusat Kamis (5/2).
Menurutnya, fungsi cermin itu juga bisa sebaliknya, tidak hanya satu arah. Apa yang menjadi respons, kritik, atau kegelisahan masyarakat juga kembali memantul dalam ruang publik melalui kerja pers.
Maka, pemerintah dapat melihat kembali dampak kebijakan dan realitas yang dirasakan warga. Dari proses inilah, pers menjalankan perannya sebagai elemen penting dalam demokrasi.
Pola Berubah
Namun, Komaruddin menilai peran pers kini menghadapi tantangan baru di era digital. Masalah utamanya bukan hanya soal kepercayaan terhadap media, tetapi bagaimana memastikan pantulan realitas tersebut tetap jernih, tidak terdistorsi, dan dapat dipercaya oleh semua pihak.
“Sepanjang medium itu memantulkan secara profesional, objektif, dengan etika, itulah substansi realitas yang ada sehingga lewat pers itu kami harapkan akan bangun trust baik pemerintah pada masyarakat maupun masyarakat pada pemerintah,” ujarnya.
Ia menambahkan, Dewan Pers berupaya menjaga kejernihan pantulan tersebut dengan menjadi ruang temu gagasan dan kepentingan yang beragam. Meski demikian, derasnya arus informasi di media sosial membuat upaya itu semakin menantang.
“Dewan Pers di sini lebih sebagai orkestrasi, namun juga tidak mudah karena media sosial sulit dikendalikan. Idealnya Dewan Pers sebagai clearing house, sebagai tempat kumpul berbagai ide, kemudian dipantulkan kembali pada masyarakat,” tuturnya.