Peran Krusial Keluarga Sehat Emosional dalam Membangun Kepercayaan Diri Anak
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka menekankan pentingnya keluarga sehat emosional sebagai fondasi utama pembentukan kepercayaan diri dan ketahanan anak di era digital.
Keluarga yang mampu menciptakan lingkungan sehat secara emosional memiliki peran krusial dalam membangun kepercayaan diri anak. Hal ini disampaikan oleh Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, di Jakarta pada Jumat (06/3). Lingkungan yang aman secara emosional sangat penting untuk perkembangan optimal anak.
Anak-anak yang tumbuh dalam suasana keluarga yang stabil emosinya akan lebih mudah mengembangkan rasa percaya diri. Mereka juga akan memiliki kemampuan bersosialisasi yang baik serta ketahanan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Kehangatan hubungan antara orang tua dan anak, ditambah komunikasi yang sehat, menjadi faktor penentu keseimbangan emosi anak sejak dini.
Perkembangan pesat era digital menuntut peran orang tua yang semakin aktif dalam mendampingi anak-anak. Arus informasi yang cepat dan interaksi sosial di ruang virtual berpotensi memengaruhi kondisi emosional anak. Oleh karena itu, perhatian dan pengasuhan yang tepat dari orang tua sangat diperlukan untuk mengimbangi dampak tersebut.
Pentingnya Lingkungan Aman Emosional bagi Perkembangan Anak
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka menegaskan bahwa lingkungan keluarga yang aman secara emosional adalah kunci utama. Lingkungan ini memungkinkan anak untuk mengembangkan rasa percaya diri yang kuat. Selain itu, anak juga akan lebih mampu bersosialisasi dan memiliki ketahanan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Kehangatan hubungan antara orang tua dan anak merupakan aspek fundamental dalam pembentukan karakter. Komunikasi yang sehat di dalam keluarga juga menjadi elemen penting untuk menjaga keseimbangan emosi anak sejak usia dini. Kedua faktor ini saling mendukung untuk menciptakan fondasi emosional yang kokoh bagi anak.
Di era digital saat ini, perubahan lingkungan tumbuh kembang anak sangatlah dinamis dan cepat. Hal ini menuntut orang tua untuk berperan lebih aktif dalam melakukan pendampingan yang intensif. Arus informasi yang begitu cepat dan interaksi sosial di ruang virtual membawa potensi risiko terhadap kondisi emosional anak.
Penguatan pengasuhan dalam keluarga ini sejalan dengan Program Prioritas Presiden dalam pembangunan sumber daya manusia. Program tersebut mencakup peningkatan kualitas kesehatan, pemenuhan gizi anak, serta pendidikan yang bermutu. Ini semua merupakan fondasi penting bagi lahirnya generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Komitmen Pemerintah dan Ancaman Kesehatan Jiwa Anak
Pada Kamis (5/3) sebelum pernyataan tersebut, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN telah menekankan pentingnya fungsi keluarga dan pengasuhan positif. Penekanan ini dilakukan pada penetapan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak. SKB tersebut ditandatangani oleh sembilan menteri, menunjukkan komitmen lintas sektor.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji menyatakan komitmen penuh untuk mengimplementasikan SKB tentang Kesehatan Jiwa Anak. Ia menyebut SKB ini sebagai kekuatan besar bagi keluarga di seluruh Indonesia. Wihaji menambahkan bahwa 600 ribu tim pendamping keluarga di seluruh Indonesia siap diberdayakan.
Tim pendamping keluarga ini akan mendampingi 74 juta keluarga untuk mengatasi masalah kesehatan jiwa anak. Upaya ini akan dilakukan melalui edukasi delapan fungsi keluarga. Fungsi-fungsi ini merupakan kekuatan inti yang menjadi fokus Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN.
Data dari Kepolisian Negara Republik Indonesia menunjukkan peningkatan kasus bunuh diri pada kelompok usia anak (0-15 tahun) yang mengkhawatirkan. Angka kasus bunuh diri meningkat dari 604 kasus pada tahun 2022 menjadi 1.498 kasus pada tahun 2024. Selain itu, hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja pada tahun 2024 mencatat bahwa 62,19 persen anak dengan masalah kesehatan jiwa juga mengalami kekerasan dalam 12 bulan terakhir.
Sumber: AntaraNews