Pengusaha Tempe dari Dapur MBG Raup Rezeki Naik 100 Persen, Kini Beli Mesin Baru
Sejak diluncurkannya program MBG, permintaan tempe dari pengusaha UMKM mengalami peningkatan yang signifikan.
Aroma khas kedelai rebus mulai tercium sejak pagi di sebuah rumah produksi tempe sederhana yang terletak di Desa Jatimalang, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo. Kesibukan sudah terlihat meskipun kabut masih menyelimuti daerah tersebut.
Di tempat ini, Ozy (30) bersama istrinya menjalankan usaha tempe yang semakin meningkat, terutama setelah adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Usaha tempe yang mereka kelola tidak langsung besar seperti sekarang. Ozy menjelaskan bahwa ia memulai usahanya dari pengalaman bekerja pada orang lain, di mana ia belajar tentang proses produksi hingga pemasaran.
Setelah merasa cukup berpengalaman, Ozy memberanikan diri untuk membuka usaha sendiri bersama sang istri.
"Awalnya cari-cari pengalaman kerja di orang, terus ada modal ya mulai di sini sama istri. Alhamdulillah bisa maju, bisa mengembangkan usaha tempe di sini," ungkap Ozy.
Kini, mereka dapat melihat hasil dari kerja keras dan dedikasi yang telah ditanamkan selama ini. Kesuksesan usaha tempe mereka menjadi inspirasi bagi banyak orang di sekitar, menunjukkan bahwa dengan usaha dan ketekunan, impian dapat terwujud.
Produksi Tempe Meningkat
Ozy memasarkan tempe yang diproduksinya ke Pasar Tawangsari, serta menawarkan produk tersebut kepada pedagang sayur keliling dan warung-warung makanan di sekitarnya. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, dapur produksinya menjadi lebih ramai dibandingkan sebelumnya. Perubahan ini terjadi sejak ia mulai menyuplai tempe untuk beberapa dapur program MBG yang ada di wilayah Sukoharjo.
"Alhamdulillah ada program MBG ini bisa dapat menyuplai sekitar enam dapur," ujarnya.
Ozy menjelaskan bahwa setiap dapur biasanya memesan antara 250 hingga 300 potong tempe dalam satu kali pengiriman. Pemesanan dilakukan dua kali dalam seminggu dengan jadwal pengiriman yang bervariasi di setiap dapur. Permintaan tambahan ini telah meningkatkan produksi tempe Ozy dengan pesat, bahkan naik hingga dua kali lipat.
"Semenjak ada MBG itu sekarang produksi sekitar dua kuintal per hari, naik 100 persen," katanya.
Lonjakan produksi tersebut membawa dampak positif yang signifikan bagi usaha kecil yang ia bangun dari awal. Dengan pendapatan yang meningkat, Ozy mulai memperbaiki fasilitas produksinya dan menambah peralatan. Ia bahkan berhasil membeli mesin untuk membantu proses produksinya.
"Alhamdulillah dari program MBG ini bisa beli mesin untuk pencucian dan penggilingan. Alhamdulillah juga bisa menambah karyawan," imbuhnya.
Mesin baru tersebut membuat proses produksi menjadi lebih cepat dan efisien. Di samping itu, Ozy juga mulai merekrut beberapa warga sekitar untuk membantu dalam produksi tempe setiap harinya. Bagi Ozy, perkembangan usahanya bukan hanya tentang peningkatan penjualan, tetapi juga tentang memberikan manfaat kepada lingkungan sekitar. "Bisa mempekerjakan tetangga-tetangga sekitar rumah, jadi karyawan," katanya.
Ozy berharap program MBG dapat terus berjalan sehingga tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan gizi anak-anak sekolah, tetapi juga memberikan dampak positif bagi pelaku usaha kecil di daerah.
"Harapan buat program MBG semoga selalu berjalan lancar, bermanfaat buat anak-anak sekolah dan para UMKM di sekitarnya," jelasnya.
Jika suatu saat ia bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto, Ozy ingin menyampaikan rasa terima kasihnya secara langsung. Ia juga mendoakan agar Presiden selalu sehat dan terus membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.
"Terima kasih Pak Prabowo, semenjak ada MBG usaha saya jadi berkembang dan maju. Bisa renovasi tempat produksi tempe, menambah alat-alat produksi. Semoga Pak Prabowo sehat selalu, semakin sukses, bisa mengayomi masyarakat dan membuat Indonesia lebih maju," tutup Ozy.