Pemprov Lampung Segera Buka SMA Terbuka, Solusi Tepat Atasi Anak Putus Sekolah
Pemerintah Provinsi Lampung bersiap meluncurkan program SMA Terbuka sebagai langkah konkret menjangkau ribuan anak putus sekolah yang telah melewati usia formal, sekaligus meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia di Lampung.
Pemerintah Provinsi Lampung akan segera membuka program SMA Terbuka. Inisiatif ini hadir sebagai solusi strategis bagi ribuan anak putus sekolah, khususnya mereka yang telah melampaui usia sekolah formal. Program ini diharapkan dapat memberikan kesempatan kedua bagi warga Lampung untuk menuntaskan pendidikan menengah atas mereka.
Regulasi terkait program SMA Terbuka ini sedang dalam proses finalisasi. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, menyatakan bahwa peraturan gubernur (pergub) serta petunjuk teknis (juknis) diharapkan selesai dalam waktu dekat. Hal ini bertujuan agar tidak ada kendala berarti saat implementasi program di lapangan.
SMA Terbuka dirancang khusus untuk anak-anak yang sudah lama tidak bersekolah, terutama mereka yang berusia di atas 21 tahun. Program ini akan diprioritaskan di kabupaten/kota dengan angka anak tidak sekolah (ATS) tertinggi di Lampung. Data sementara menunjukkan ada sekitar enam hingga tujuh wilayah dengan jumlah ATS yang cukup signifikan.
Fleksibilitas Pembelajaran dan Legalitas Ijazah SMA Terbuka
Sistem pembelajaran dalam program SMA Terbuka akan bersifat adaptif dan fleksibel. Kegiatan belajar tidak harus dilakukan setiap hari, memberikan keleluasaan bagi peserta didik untuk menyesuaikan dengan kondisi mereka. Pembelajaran juga dapat dilaksanakan secara luring (offline) maupun daring, tergantung pada situasi siswa dan ketersediaan sarana pendukung.
Lebih lanjut, Thomas Amirico menjelaskan bahwa tempat belajar tidak harus selalu di gedung sekolah formal. Pembelajaran bisa dilakukan di berbagai lokasi alternatif seperti rumah warga, balai desa, atau fasilitas lain yang disepakati bersama. Pendekatan ini menekankan penyesuaian terhadap kondisi siswa, di mana guru bisa mendatangi siswa atau sebaliknya, demi kenyamanan belajar.
Meskipun fleksibel, SMA Terbuka akan berada di bawah naungan sekolah induk. Ini berarti ijazah yang diterbitkan oleh program ini akan berasal dari sekolah induk tersebut. Dengan demikian, ijazah SMA Terbuka memiliki legalitas yang sama dan diakui setara dengan ijazah dari sekolah reguler.
Target Peningkatan IPM dan Penuntasan Angka Anak Tidak Sekolah
Salah satu target utama dari program SMA Terbuka ini adalah meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Lampung. Fokus utamanya adalah pada indikator Harapan Lama Sekolah (HPL). Dengan memberikan akses pendidikan yang lebih luas, pemerintah berharap dapat mendongkrak kualitas sumber daya manusia di Lampung.
Saat ini, rata-rata harapan lama sekolah di Lampung masih berada di kisaran kelas 2 SMP. Pemerintah menargetkan agar rata-rata pendidikan masyarakat dapat mencapai jenjang SMA. Jika anak-anak putus sekolah ini dapat kembali mengenyam pendidikan dan minimal lulus SMA, hal tersebut akan berdampak positif terhadap peningkatan IPM Lampung secara keseluruhan.
Berdasarkan data, jumlah anak putus sekolah di Lampung dari jenjang SD hingga SMA diperkirakan mencapai 70 ribu orang. Oleh karena itu, pemerintah menargetkan penuntasan masalah ini secara kolektif dan bertahap. Upaya ini tidak hanya dilakukan oleh provinsi melalui SMA Terbuka, tetapi juga oleh kabupaten/kota melalui pembukaan SD Terbuka maupun SMP Terbuka.
Memastikan Kesempatan Pendidikan Tanpa Batasan Usia
Thomas Amirico menegaskan bahwa program SMA Terbuka ini memiliki perbedaan mendasar dengan inisiatif lain seperti SMA Siger Bandarlampung atau bantuan bagi siswa kurang mampu yang masih berada dalam usia sekolah formal. SMA Terbuka secara spesifik ditujukan bagi individu yang telah bertahun-tahun tidak bersekolah dan usianya di atas usia sekolah formal.
Melalui hadirnya SMA Terbuka, Pemerintah Provinsi Lampung berharap tidak ada lagi warga yang kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Faktor usia atau kondisi ekonomi tidak lagi menjadi penghalang bagi siapa pun yang ingin melanjutkan atau menuntaskan pendidikan mereka.
Intinya, pemerintah pusat dan daerah berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk tetap bersekolah. Usia tidak lagi menjadi hambatan utama dalam mendapatkan pendidikan yang layak.
Sumber: AntaraNews