Pete-pete Laut: Jembatan Harapan Baru Masyarakat Kepulauan Makassar
Hadirnya Pete-pete Laut gratis di Makassar menjadi solusi transportasi vital bagi 13 pulau terluar, membuka akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, sekaligus mewujudkan pemerataan pembangunan di Kepulauan Spermonde.
Harapan masyarakat kepulauan di Makassar untuk akses transportasi laut yang lebih baik kini terwujud dengan hadirnya Pete-pete Laut. Program transportasi gratis ini diresmikan oleh Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, membawa angin segar bagi warga di 13 pulau di Kecamatan Sangkarrang, Kota Makassar.
Layanan yang dilayani oleh KM Banawa Nusantara 27 ini bukan sekadar moda angkutan biasa, melainkan simbol nyata janji politik yang ditepati dan komitmen pemerintah. Kehadiran Pete-pete Laut bertujuan menghapus kesenjangan akses serta memastikan tidak ada warga negara yang tertinggal di pelosok negeri.
Bagi warga Kepulauan Spermonde, laut yang selama ini menjadi pembatas fisik kini bertransformasi menjadi jalan penghubung berkat adanya Pete-pete Laut. Istilah "Pete-pete" sendiri merupakan sebutan khas di Makassar untuk angkutan kota, kini diterapkan untuk moda transportasi laut ini.
Menghapus Kesenjangan Akses di Kepulauan Spermonde
Selama bertahun-tahun, kehidupan masyarakat kepulauan di Selat Makassar berjalan dengan irama yang berbeda dibandingkan warga daratan. Laut, meskipun menyimpan kekayaan alam melimpah, juga menghadirkan keterbatasan akses bagi mereka yang tinggal di pulau-pulau terluar.
Perjalanan antar pulau bagi warga Kecamatan Kepulauan Sangkarrang bukanlah aktivitas biasa, melainkan sebuah perjuangan. Ini mencakup pelajar yang menuntut ilmu, guru yang mengabdi, tenaga kesehatan yang melayani, hingga keluarga yang ingin bersilaturahmi dengan kerabat di pulau tetangga.
Kini, perjuangan itu menemukan jalan baru dengan program transportasi laut gratis dari Pemerintah Kota Makassar. Rosdiana, warga Pulau Barrang Lompo, mengungkapkan rasa syukurnya, “Masya Allah, ini sangat membantu sekali untuk masyarakat pergi antara pulau satu dan pulau lain. Apalagi ini gratis. Kami sangat berterima kasih kepada Pak Wali Kota.” Ungkapan ini mewakili suara ribuan warga yang mendambakan perhatian negara.
Meskipun kapal penumpang menuju Kota Makassar telah tersedia, akses antar pulau di gugusan Kepulauan Sangkarrang sangat terbatas dan biasanya hanya beroperasi pada jam-jam tertentu. Kota Makassar sendiri tidak hanya terdiri dari daratan, melainkan juga 13 pulau seperti Barrang Lompo, Barrang Caddi, Bone Tambung, Kodingareng Keke, Kodingareng Lompo, Lae-Lae, Samalona, Lakkang, Kayangan, Lumu-Lumu, Bonebattang, Langkai, dan Lanjukang yang merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas kota.
Perjalanan Panjang Mewujudkan Konektivitas Pete-pete Laut
Kehadiran Pete-pete Laut tidak terjadi secara instan, melainkan melalui narasi perjuangan panjang. Di balik peresmian yang digelar pada Jumat (12/6) di Dermaga Pulau Barrang Lompo, terdapat upaya serius dari Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin.
Proses panjang ini dimulai sejak Oktober 2025, ketika Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mendatangi Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan di Jakarta. Saat itu, ia membawa pesan penting mengenai kebutuhan masyarakat kepulauan akan akses transportasi yang lebih baik.
Aspirasi warga pulau diperjuangkan melalui ruang-ruang pertemuan hingga meja-meja pembahasan kebijakan. Hasilnya kini nyata, dengan hadirnya KM Banawa Nusantara 27 sebagai sarana penghubung pulau-pulau yang selama ini terpisah oleh keterbatasan akses.
Pete-pete Laut: Lebih dari Sekadar Transportasi
Setiap Senin pagi, KM Banawa Nusantara 27 akan memulai perjalanannya dari Pulau Barrang Lompo, menuju Pulau Bone Tambu, Pulau Lumu-Lumu, Pulau Langkai, hingga pulau-pulau terluar lainnya sebelum kembali ke titik awal. Rute ini dipilih secara strategis karena merupakan wilayah yang selama ini paling membutuhkan layanan transportasi reguler.
Bagi para pelajar, Pete-pete Laut berarti kesempatan belajar yang lebih mudah dijangkau, sementara bagi guru, ia mempermudah pengabdian. Tenaga kesehatan juga dapat mempercepat pelayanan kepada warga, dan nelayan serta pelaku usaha kecil memiliki peluang aktivitas ekonomi yang lebih luas.
Inilah makna sesungguhnya dari pembangunan: bukan hanya membangun infrastruktur fisik seperti jalan atau gedung, tetapi juga membuka akses yang memungkinkan masyarakat berkembang dan meningkatkan kualitas hidupnya. Transportasi yang memadai menjadi fondasi penting untuk pemerataan kesempatan belajar dan pelayanan kesehatan.
Dari sisi ekonomi, konektivitas antar pulau dapat memperkuat pergerakan barang, jasa, dan aktivitas masyarakat. Ketika akses semakin terbuka, peluang usaha baru juga tumbuh. Mobilitas yang lebih baik akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata di wilayah kepulauan.
Simbol Keadilan Pembangunan dan Nasionalisme
Lebih dari sekadar layanan transportasi, Pete-pete Laut menghadirkan pesan besar tentang keadilan pembangunan. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu memastikan setiap warganya merasakan manfaat pembangunan, tanpa memandang apakah mereka tinggal di pusat kota atau di pulau terluar.
Di sinilah nilai nasionalisme menemukan maknanya, bahwa setiap jengkal wilayah Indonesia memiliki arti yang sama pentingnya dan setiap warga negara berhak mendapatkan pelayanan publik yang layak. Negara harus hadir hingga ke titik terjauh tempat rakyatnya tinggal.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menegaskan bahwa kapal tersebut bukan milik pemerintah, melainkan milik masyarakat yang difasilitasi pemerintah. Pesan itu mengandung makna penting bahwa pembangunan yang berhasil adalah pembangunan yang melibatkan rasa memiliki dari masyarakat.
Oleh karena itu, menjaga Pete-pete Laut menjadi tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah. Ketika keduanya berjalan seiring, pembangunan akan lebih mudah mencapai tujuannya, membawa harapan, kesempatan, dan mimpi-mimpi baru bagi masyarakat kepulauan.
Sumber: AntaraNews