Inovasi Dekarbonisasi: PLTS Kapal Pertamina Kurangi Emisi di Sektor Maritim
PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) meluncurkan inovasi PLTS Kapal Pertamina pada Oil Barge Patra 2303, wujud komitmen dekarbonisasi maritim dan transisi energi yang menarik perhatian.
PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) melakukan langkah signifikan dalam dekarbonisasi sektor maritim dengan mengimplementasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Inovasi ini diterapkan pada Kapal Oil Barge (OB) Patra 2303, menandai komitmen kuat perusahaan terhadap transisi energi bersih. Proyek percontohan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan energi surya tidak hanya terbatas di darat, tetapi juga sangat efektif di lingkungan laut.
Implementasi PLTS di kapal pengangkut minyak ini bertujuan untuk mengurangi jejak karbon operasional maritim Pertamina. Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina, Agung Wicaksono, menegaskan bahwa inisiatif ini membuktikan kesiapan Pertamina mendukung percepatan transisi energi di Indonesia. Langkah strategis ini sejalan dengan upaya global untuk mencapai target emisi nol bersih.
Dengan sistem panel surya off-grid berkapasitas 11,5 kWp yang terintegrasi Battery Energy Storage System (BESS) 32 kWh, proyek ini diperkirakan mampu menurunkan emisi karbon secara signifikan. Selain itu, penggunaan PLTS ini juga memberikan dampak positif berupa penghematan konsumsi bahan bakar diesel. Proyek ini menjadi bukti nyata inovasi energi terbarukan di lingkungan Pertamina.
Manfaat Lingkungan dan Efisiensi Operasional
Inisiatif PTK dalam mengadopsi PLTS pada OB Patra 2303 membawa dampak positif yang substansial terhadap lingkungan. Pemanfaatan energi surya ini diperkirakan mampu menurunkan emisi karbon dioksida (CO₂) hingga 79,2 ton setiap tahunnya. Angka ini menunjukkan kontribusi nyata dalam upaya mitigasi perubahan iklim dari sektor maritim.
Selain pengurangan emisi, proyek ini juga menghasilkan penghematan signifikan pada konsumsi bahan bakar diesel. Sekitar 28,08 kiloliter diesel dapat dihemat setiap tahun berkat penggunaan PLTS. Efisiensi ini tidak hanya mengurangi biaya operasional, tetapi juga memperkuat komitmen PTK terhadap operasional yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Agung Wicaksono dari PT Pertamina menyoroti bahwa dedieselisasi kini dapat dilakukan baik di darat maupun di laut melalui pemanfaatan energi surya yang dipadukan dengan baterai. “Pemanfaatan energi surya yang dipadukan dengan baterai menunjukkan bahwa dedieselisasi tidak hanya dapat dilakukan di darat, tetapi juga di laut. Ini menjadi bukti bahwa Pertamina siap mendukung percepatan transisi energi,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan visi Pertamina dalam memimpin inovasi energi bersih di berbagai lini bisnisnya.
Prioritas Keselamatan pada Kapal Berbahaya
Aspek keselamatan menjadi perhatian utama dalam seluruh tahapan proyek implementasi PLTS ini, mulai dari perencanaan hingga pemasangan sistem di kapal. Plt. Direktur Utama PT Pertamina Trans Kontinental, Eko Cahyadi, menekankan pentingnya standar keselamatan yang ketat. Hal ini krusial mengingat OB Patra 2303 adalah kapal yang mengangkut muatan minyak, yang tergolong muatan berbahaya.
Pemasangan PLTS pada kapal pengangkut muatan berbahaya memerlukan standar keselamatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan instalasi konvensional. “Yang membuat proyek ini istimewa adalah pemasangan dilakukan pada kapal yang mengangkut muatan berbahaya. Karena itu, proses instalasi harus memenuhi standar keselamatan yang jauh lebih ketat,” kata Eko Cahyadi. Pernyataan ini menggarisbawahi kompleksitas dan kehati-hatian dalam proyek ini.
Implementasi PLTS ini dilakukan dengan mengacu pada standar Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) yang tinggi. Penerapan standar ini memastikan bahwa sistem beroperasi secara aman dan tidak mengganggu aktivitas operasional kapal. Komitmen terhadap HSSE menjadi fondasi utama dalam setiap inovasi yang dilakukan Pertamina.
Kolaborasi Strategis Mendukung Transisi Energi
Keberhasilan implementasi PLTS pada OB Patra 2303 merupakan hasil sinergi yang kuat antar entitas di lingkungan Pertamina. Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana berbagai unit bisnis dapat bersatu untuk mencapai tujuan keberlanjutan. Sinergi ini mencerminkan pendekatan holistik Pertamina dalam transisi energi.
Proyek ini melibatkan PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) sebagai pengembang solusi energi terbarukan, PTK sebagai operator armada, serta PIS sebagai subholding Integrated Marine Logistics Pertamina. Peran masing-masing entitas sangat vital dalam memastikan kelancaran dan keberhasilan proyek. Kerja sama ini mempercepat adopsi teknologi hijau di sektor maritim.
Pemanfaatan energi transisi ini, berdasarkan estimasi, berpotensi mengurangi emisi hingga 79,2 ton CO₂ per tahun dan menghemat penggunaan diesel hingga 28,08 kiloliter per tahun. Angka-angka ini menegaskan potensi besar PLTS dalam mendukung upaya dekarbonisasi. Inovasi ini menjadi model bagi pengembangan energi terbarukan di sektor transportasi laut lainnya.
Sumber: AntaraNews