PB IPSI Tetapkan Target Pencak Silat Olimpiade 2028 sebagai Agenda Utama Munas
Musyawarah Nasional (Munas) XVI PB IPSI fokus pada upaya membawa Pencak Silat Olimpiade 2028, termasuk pengusulan Instruksi Presiden (Inpres) dan koordinasi lintas kementerian untuk mencapai target tersebut.
Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) menggelar Musyawarah Nasional (Munas) XVI di Jakarta pada tanggal 9-10 April 2026. Agenda utama dalam pertemuan penting ini adalah membahas target pencak silat agar dapat dipertandingkan dalam Olimpiade 2028. Ini menjadi fokus utama organisasi untuk memastikan pengakuan global terhadap warisan budaya bangsa.
Wakil Sekretaris Jenderal PB IPSI, H.R. Bayu Syahjohan, menyampaikan harapan besar agar pencak silat dapat tampil sebagai cabang ekshibisi di Olimpiade Los Angeles 2028. Upaya ini memerlukan sinergi kuat dari berbagai pihak terkait di Indonesia. Tujuannya adalah untuk mengangkat martabat pencak silat di kancah olahraga internasional.
Pembahasan langkah-langkah strategis menuju Olimpiade 2028 telah dimulai sejak hari pertama munas. Salah satu poin krusial yang diusulkan adalah adanya Instruksi Presiden (Inpres) dari Presiden Prabowo Subianto. Inpres ini diharapkan dapat mempercepat proses pengakuan internasional dan mempermudah jalan pencak silat menuju panggung Olimpiade.
Strategi Menuju Panggung Olimpiade 2028
PB IPSI mengusulkan penerbitan Instruksi Presiden (Inpres) kepada Presiden Prabowo Subianto untuk mendukung penuh upaya pencak silat masuk Olimpiade. Presiden Prabowo Subianto saat ini juga menjabat sebagai Ketua Umum PB IPSI dan Presiden Federasi Pencak Silat Dunia (Persilat). Inpres ini diharapkan menjadi payung hukum yang kuat bagi seluruh pihak terkait dalam mewujudkan target tersebut.
Untuk mewujudkan target Pencak Silat Olimpiade, sinergi lintas instansi dan lembaga sangat diperlukan. Komite Olimpiade Indonesia, Kementerian Luar Negeri, dan kementerian terkait lainnya harus berkolaborasi secara erat. Kolaborasi ini penting untuk memenuhi berbagai persyaratan internasional yang kompleks dan memastikan kelancaran prosesnya.
Pencak silat saat ini telah tersebar di 38 negara yang mencakup lima benua. Namun, kendala muncul karena tidak semua federasi pencak silat di negara-negara tersebut telah mendaftarkan diri pada federasi olahraga untuk Olimpiade di negara masing-masing. Kementerian Luar Negeri memiliki peran strategis dalam mengoordinasikan para duta besar Indonesia di 83 negara untuk membantu proses pendaftaran ini, karena ini merupakan salah satu syarat penting.
Tantangan dan Persyaratan Global Pencak Silat Olimpiade
Selain masalah pendaftaran federasi di tingkat nasional, ada persyaratan lain yang berkaitan dengan kegiatan anti-doping yang harus dipenuhi. Kepatuhan terhadap aturan World Anti-Doping Agency (WADA) menjadi hal mutlak yang tidak bisa ditawar. Ini menunjukkan komitmen PB IPSI terhadap integritas dan sportivitas olahraga.
H.R. Bayu Syahjohan mengakui bahwa proses membawa pencak silat ke Olimpiade bukanlah hal yang mudah dan telah diurus selama bertahun-tahun. Ia menegaskan bahwa persyaratan yang ada belum sepenuhnya terpenuhi hingga saat ini. Penerbitan Inpres menjadi salah satu misi utama yang harus segera dikerjakan untuk mengatasi hambatan ini.
Munas XVI PB IPSI, yang diikuti oleh pengurus dari 38 provinsi, juga akan melakukan pemilihan ketua umum baru. Saat ini, posisi ketua umum dijabat oleh Prabowo Subianto. Keputusan dan strategi yang dihasilkan dalam munas ini akan sangat menentukan langkah pencak silat ke depan, khususnya dalam mewujudkan mimpi tampil di panggung Olimpiade.
Sumber: AntaraNews