Pesan Prabowo untuk Pendekar Silat: Bela Kebenaran dan Kaum Lemah
Presiden Prabowo Subianto, yang juga Ketua Umum PB IPSI, menyampaikan pesan penting kepada pendekar silat untuk senantiasa membela kebenaran dan kaum lemah, sekaligus mengumumkan tidak lagi menjabat di organisasi tersebut.
Presiden Prabowo Subianto, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI), memberikan pesan mendalam kepada para pendekar pencak silat. Pesan tersebut disampaikan saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVI PB IPSI di JCC Senayan, Jakarta, pada Sabtu (11/4).
Dalam kesempatan itu, Prabowo menekankan pentingnya peran pendekar untuk selalu membela kebenaran, kaum lemah, dan pihak yang tertindas. Ia juga mengingatkan agar pendekar senantiasa berada di jalan yang baik dan lurus, menjunjung tinggi keadilan.
Pesan ini menjadi sorotan utama dalam acara tersebut, mengingat posisi Prabowo sebagai pemimpin negara dan juga figur sentral dalam dunia pencak silat Indonesia. Penekanannya pada nilai-nilai luhur diharapkan dapat menjadi panduan bagi seluruh insan pencak silat.
Nilai-nilai Luhur Pendekar Silat Menurut Prabowo
Seorang pendekar sejati, menurut Prabowo, harus menjunjung tinggi nilai kesopanan sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya bangsa. Selain itu, keberanian harus dimiliki tanpa disertai sikap sombong, mencerminkan kematangan karakter.
Pendekar juga diingatkan untuk selalu menjaga perilaku, baik dalam tutur kata maupun sikap sehari-hari, agar senantiasa berada di jalan yang baik dan lurus. Ilmu bela diri yang dipelajari, lanjut Prabowo, ditujukan untuk membela diri sendiri, keluarga, masyarakat, hingga bangsa dan negara.
Ajaran-ajaran luhur ini merupakan warisan berharga dari para guru pencak silat serta guru dari berbagai aliran bela diri yang pernah dipelajari oleh Prabowo. Filosofi ini menegaskan bahwa kekuatan fisik harus diimbangi dengan moralitas dan etika yang kuat.
Sejarah dan Perjuangan Pencak Silat di Indonesia
Indonesia, dengan kekayaan alamnya yang melimpah, memiliki sejarah panjang yang kerap diwarnai gangguan dari bangsa asing. Prabowo menggambarkan karakter masyarakat Indonesia yang ramah dan terbuka terhadap tamu, namun pada akhirnya harus melakukan perlawanan terhadap pihak-pihak yang datang dan tidak kembali.
Pencak silat, sebagai bagian integral dari budaya dan pertahanan diri bangsa, pernah mengalami masa sulit. Pada masa penjajahan, pencak silat sempat dilarang, memaksa para praktisinya untuk berlatih secara sembunyi-sembunyi di berbagai tempat terpencil seperti desa, bukit, dan surau.
Kondisi tersebut menyebabkan pencak silat pernah dipandang sebagai olahraga kampung. Namun, semangat para pendekar untuk melestarikan dan mengembangkan ilmu bela diri ini tidak pernah padam, menjadikannya simbol perlawanan dan identitas bangsa.
Estafet Kepemimpinan PB IPSI dan Harapan Olimpiade
Dalam kesempatan yang sama, Prabowo Subianto menyampaikan keputusan penting untuk tidak lagi menjabat sebagai Ketua Umum PB IPSI. Keputusan ini diambil setelah berkecimpung selama sekitar 34 tahun di organisasi tersebut, termasuk menjabat Wakil Ketua Umum selama empat periode dan Ketua Umum selama lima periode.
Prabowo menyatakan bahwa tugasnya sebagai Presiden Republik Indonesia saat ini menyita banyak waktu, sehingga tidak memungkinkan dirinya untuk efektif menjalankan tugas sebagai Ketua Umum PB IPSI. Meskipun demikian, ia menegaskan akan tetap mendukung pencak silat, baik dengan maupun tanpa jabatan.
Presiden juga menyampaikan permintaan maaf karena belum berhasil membawa pencak silat ke ajang Olimpiade, namun optimis kepengurusan selanjutnya akan mampu mewujudkan cita-cita tersebut. Ia menyarankan agar Munas memilih calon terbaik sebagai penggantinya untuk melanjutkan kepemimpinan di PB IPSI.
Sumber: AntaraNews