Pawai Ogoh-ogoh Ambon Serukan Damai dan Toleransi Jelang Nyepi dan Idul Fitri
Pawai Ogoh-ogoh Ambon digelar umat Hindu Maluku jelang Nyepi 1948/2026, menyerukan damai dan pengendalian diri. Momen ini mempererat toleransi, bertepatan dengan Idul Fitri, menarik perhatian lintas agama.
Umat Hindu di Kota Ambon, Maluku, baru saja merayakan pawai ogoh-ogoh sebagai bagian integral dari rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1948/2026. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga sebuah seruan perdamaian yang kuat. Pelaksanaan pawai ini bertepatan dengan momen menjelang Idul Fitri, menciptakan suasana kebersamaan yang unik dan penuh makna.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Ambon, Doktor Ida Bagus G Dwibawa, menjelaskan bahwa pawai ini bertujuan untuk menyerukan pesan perdamaian dan pengendalian diri. Makna Nyepi, yaitu mengendalikan hawa nafsu, memiliki kesamaan filosofis dengan Idul Fitri. Pesan ini ditujukan untuk seluruh manusia agar dapat mengheningkan dan mengintrospeksi diri.
Ogoh-ogoh yang diarak dalam pawai melambangkan sifat-sifat negatif manusia seperti keserakahan dan emosi tak terkendali. Melalui prosesi ini, umat diajak untuk menyadari dan melebur sifat-sifat buruk tersebut. Pawai ini juga menjadi ajang kebersamaan masyarakat lintas agama di Maluku, bahkan dengan berbagi takjil kepada umat Muslim.
Makna Filosofis Pawai Ogoh-ogoh dan Pengendalian Diri
Pawai ogoh-ogoh merupakan tradisi penting dalam rangkaian upacara Tawur Kesanga umat Hindu. Ogoh-ogoh sendiri adalah simbol kejahatan dan keserakahan yang ada dalam diri manusia. Dengan mengarak dan kemudian membakar ogoh-ogoh, umat Hindu berharap dapat membersihkan diri dari sifat-sifat negatif tersebut.
Doktor Ida Bagus G Dwibawa menekankan bahwa ogoh-ogoh melambangkan sifat-sifat buruk seperti keserakahan dan ketamakan. Ia menyatakan, “Ogoh-ogoh itu simbol kejahatan dan keserakahan. Kita yang berbuat, kita juga yang harus meleburkannya agar hidup menjadi lebih tenang.” Prosesi peleburan ogoh-ogoh menjadi simbol penting untuk mencapai ketenangan hidup, sebuah ajakan untuk introspeksi diri dan melepaskan hawa nafsu yang tidak terkendali.
Istilah “ogoh-ogoh” berasal dari bahasa Bali “ogah-ogah” yang berarti digoyang-goyangkan. Tradisi ini secara historis bertujuan mengusir roh jahat sebelum umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian. Sosok ogoh-ogoh yang digambarkan seperti raksasa atau bhuta, secara jelas merepresentasikan sifat jahat dan hawa nafsu dalam diri manusia.
Mempererat Toleransi Lintas Agama di Maluku
Kegiatan pawai ogoh-ogoh di Ambon telah menjadi agenda tahunan yang dinantikan oleh berbagai kalangan masyarakat. Momentum ini secara konsisten menjadi ruang kebersamaan yang memperkuat hubungan antarumat beragama di Maluku. Interaksi positif ini menunjukkan bagaimana tradisi keagamaan dapat menjadi jembatan persatuan.
Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menyoroti keistimewaan pawai ogoh-ogoh tahun ini karena perayaan Nyepi dan Idul Fitri yang berdekatan. Ia mengatakan, “Ini menjadi spesial karena Nyepi dan Idul Fitri berdekatan. Kita bisa melihat antusiasme masyarakat dari berbagai kalangan yang hadir menyaksikan pawai ogoh-ogoh.” Antusiasme masyarakat dari berbagai latar belakang agama yang hadir menyaksikan pawai ini menjadi bukti nyata toleransi dan kerukunan yang kuat di tengah masyarakat Maluku.
Dalam semangat kebersamaan, umat Hindu bahkan turut berbagi takjil kepada umat Muslim. Tindakan ini merupakan wujud nyata dari toleransi dan saling menghormati antarumat beragama. Momen ini menegaskan bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi terjalinnya persaudaraan dan kepedulian sosial.
Harapan Kedamaian dan Rute Pawai Ogoh-ogoh di Ambon
Pemerintah daerah Maluku menyatakan harapan besar agar perayaan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri dapat berlangsung aman, damai, dan penuh sukacita. Kegiatan ini dinilai sebagai modal sosial penting untuk terus memperkuat kebersamaan di masyarakat majemuk Maluku. Menjaga hubungan baik dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam menjadi inti pesan yang disampaikan.
Gubernur Lewerissa melihat pawai ini sebagai kekuatan kebersamaan yang memiliki tujuan sama, yaitu pengendalian diri dan menjaga kedamaian. Ia menambahkan, “Semua memiliki tujuan yang sama, yaitu pengendalian diri, menjaga kedamaian, dan mempererat hubungan antarsesama.” Hal ini juga bertujuan untuk mempererat hubungan antarsesama di tengah keberagaman. Tema Nyepi Tahun Saka 1948, "Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga", sangat relevan dengan semangat ini.
Pawai ogoh-ogoh di Ambon dimulai dari pelataran Monumen Gong Perdamaian Dunia, melintasi sejumlah ruas jalan utama. Rute yang dilalui adalah:
- Jalan DI Panjaitan
- Jalan Pattimura
- Jalan Ahmad Yani
- Jalan Diponegoro
- Jalan AM Sangadji
- Jalan AY Patty
Prosesi ini kemudian berakhir di Lapangan Merdeka, menjadi tontonan yang menarik bagi warga Ambon.
Sumber: AntaraNews