Panglima TNI Pimpin Pemakaman Militer Pasukan Perdamaian di Bandung
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto memimpin langsung upacara Pemakaman Militer Pasukan Perdamaian Mayor (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar di Bandung, menegaskan penghormatan negara atas gugurnya pahlawan bangsa.
Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Agus Subiyanto memimpin langsung upacara pemakaman militer untuk Mayor (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar. Upacara khidmat ini berlangsung di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung, Jawa Barat, pada Minggu (5/4). Mayor Iskandar adalah salah satu dari tiga prajurit TNI yang gugur saat menjalankan tugas sebagai pasukan perdamaian PBB di Lebanon.
Jenderal Subiyanto menyampaikan duka cita mendalam serta harapan agar pengabdian almarhum menjadi jalan menuju tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Prosesi pemakaman dilaksanakan secara militer lengkap dengan upacara penghormatan dan tembakan salvo, menunjukkan penghargaan tertinggi negara. Kehadiran Panglima TNI menjadi bentuk penghormatan terakhir kepada prajurit terbaik bangsa.
Acara pemakaman ini dihadiri oleh berbagai pejabat tinggi negara, termasuk Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. Turut hadir pula Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat Inspektur Jenderal Rudi Setiawan dan Panglima Komando Daerah Militer III/Siliwangi Mayor Jenderal Kosasih. Mereka semua memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum yang telah berjuang demi perdamaian dunia.
Penghormatan Terakhir untuk Pahlawan Bangsa
Upacara pemakaman Mayor (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar berlangsung penuh haru dan kehormatan militer. Prosesi diawali dengan iring-iringan jenazah menuju liang lahat, diikuti oleh tembakan salvo sebagai tanda penghormatan tertinggi. Seluruh hadirin, termasuk Panglima TNI, berdiri tegak memberikan hormat terakhir kepada sang pahlawan.
Dalam sambutannya, Jenderal Agus Subiyanto menyoroti dedikasi dan pengorbanan Mayor Iskandar dalam misi perdamaian. Beliau menegaskan bahwa gugurnya Mayor Iskandar adalah kehilangan besar bagi bangsa, namun semangat juangnya akan selalu dikenang. Pengabdiannya di United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) menjadi bukti komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian global.
Setelah prosesi pemakaman, Panglima TNI bersama para pejabat pemerintah lainnya menemui keluarga Mayor Iskandar. Mereka menyampaikan belasungkawa secara langsung dan memberikan dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan. Momen ini menunjukkan solidaritas dan kepedulian negara terhadap keluarga para prajurit yang gugur dalam tugas.
Kehadiran para petinggi militer dan pemerintahan pada pemakaman ini menegaskan bahwa setiap Pemakaman Militer Pasukan Perdamaian adalah peristiwa penting. Ini adalah bentuk pengakuan atas jasa-jasa para prajurit yang telah mengorbankan nyawa demi misi kemanusiaan dan perdamaian.
Dedikasi dan Pengorbanan dalam Misi UNIFIL
Mayor (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar sebelumnya berpangkat Kapten sebelum mendapatkan kenaikan pangkat secara anumerta. Kenaikan pangkat ini diberikan sebagai bentuk penghargaan atas pengorbanan dan dedikasinya yang luar biasa. Beliau gugur bersama dua rekan prajurit lainnya, Sersan Kepala Muhammad Nur Ichwan dan Kopral Dua Farizal Rhomadhon, dalam serangan di wilayah misi UNIFIL pada Maret lalu.
Ketiga prajurit ini merupakan bagian dari kontingen Garuda yang bertugas di Lebanon di bawah bendera PBB. Misi mereka adalah menjaga stabilitas dan perdamaian di wilayah konflik, sebuah tugas yang penuh risiko dan tantangan. Pengorbanan mereka menjadi cerminan keberanian dan profesionalisme prajurit TNI di kancah internasional.
Sebelum dimakamkan di kota asal masing-masing, ketiga jenazah pahlawan bangsa ini mendapatkan penghormatan terakhir dari Presiden Prabowo Subianto. Presiden memberikan penghormatan pada upacara persemayaman di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Sabtu sebelumnya. Ini adalah momen haru yang menunjukkan duka cita seluruh bangsa.
Selain Mayor Iskandar yang dimakamkan di Bandung, Sersan Kepala Ichwan dikebumikan di Magelang, Jawa Tengah, dan Kopral Dua Rhomadhon dimakamkan di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemakaman militer di tiga lokasi berbeda ini menjadi saksi bisu atas pengorbanan mereka.
Kecaman Keras dan Seruan Investigasi Internasional
Pemerintah Indonesia telah menyatakan kecaman keras terhadap serangan yang menewaskan para pasukan perdamaiannya. Insiden ini dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan misi kemanusiaan. Indonesia menuntut pertanggungjawaban atas tindakan brutal tersebut yang telah merenggut nyawa prajurit terbaiknya.
Sebagai respons, Indonesia menyerukan penyelidikan menyeluruh melalui pertemuan luar biasa Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Tujuannya adalah untuk mengungkap fakta di balik serangan dan memastikan pelaku diadili. Langkah ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam melindungi personel perdamaiannya.
Serangan terhadap pasukan perdamaian PBB merupakan pelanggaran berat terhadap mandat PBB. Misi UNIFIL sendiri bertujuan untuk menjaga perdamaian dan keamanan di perbatasan Lebanon-Israel. Insiden ini menggarisbawahi bahaya yang dihadapi oleh para prajurit yang bertugas di zona konflik.
Pemerintah Indonesia akan terus bekerja sama dengan PBB dan negara-negara anggota lainnya untuk memperkuat perlindungan bagi pasukan perdamaian. Memastikan keamanan dan keselamatan mereka adalah prioritas utama agar misi kemanusiaan dapat terus berjalan tanpa ancaman.
Sumber: AntaraNews