Nestapa Warga Jember Berburu BBM hingga Banyuwangi karena Saking Langkanya
Akhir Juli lalu, pasokan BBM yang terbatas di Kabupaten Jember memaksa warga menghadapi tantangan tak biasa.
Akhir Juli lalu, pasokan BBM yang terbatas di Kabupaten Jember memaksa warga menghadapi tantangan tak biasa. Bahan bakar kini menjadi komoditas langka yang harus diperjuangkan, bukan sekadar dibeli.
Di pusat kota, aktivitas warga menurun drastis. Jalanan lengang, dan SPBU dipenuhi antrean panjang. Tapi di pelosok desa, terutama wilayah timur yang berbatasan dengan Banyuwangi, perjuangan warga semakin nyata.
Mereka rela menempuh puluhan kilometer melalui jalan perkebunan yang terjal dan licin demi mendapatkan Pertalite. Jalur utama Gumitir telah ditutup sejak 24 Juli karena perbaikan, meninggalkan jalur alternatif sebagai satu-satunya pilihan.
SPBU Krikilan di Glenmore menjadi salah satu titik terpadat. Warga dari Garahan, Mayang, dan Sumberkalong tampak mengantre sejak pagi dengan sepeda motor, membawa jeriken, bahkan dua kendaraan sekaligus.
Siti Azizah dari Desa Sumberwaru, Kecamatan Kalisat, berangkat sebelum subuh bersama suaminya. "Sampai sore baru dapat 10 liter. Itu pun hanya cukup dua hari," ujarnya.
Ia mengeluhkan harga eceran BBM yang melambung tinggi, nyaris tak terjangkau oleh keluarga buruh perkebunan seperti dirinya.
Sebagian warga lain menggunakan jalur setapak di kebun kopi Garahan yang menembus ke Desa Mrawan dan Kalibaru. Jalur tersebut jauh dari ideal, tapi jadi harapan utama.
Afifah, buruh dari Desa Tegalwaru, Kecamatan Mayang, menempuh perjalanan 40 kilometer demi mencari bahan bakar. Ia mengantre di SPBU Kalibaru, Krikilan, dan Curahketangi bersama suami dan anaknya.
"Beli eceran harganya Rp25 ribu. Sedangkan upah harian kami cuma Rp50 ribu. Jelas itu memberatkan," katanya.
Ia membawa jeriken besar untuk mengisi Pertamax karena Pertalite lebih dulu habis.
Lonjakan warga Jember ke Banyuwangi membuat SPBU Kalibaru, Krikilan, Curahketangi, Tegalyasan di Sempu, dan Kembiritan di Genteng menjadi titik-titik terpadat.
Antrean panjang dan ketidakpastian pasokan menjadi bagian dari keseharian warga yang hanya berharap pulang dengan bahan bakar cukup untuk bekerja esok hari.
Sementara itu, Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus mengaku telah memetakan dan melaksanakan alternatif distribusi sejak pertengahan Juli lalu sebelum dimulainya penutupan jalur pada tanggal 24 Juli 2025.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi menyampaikan, sebagai dampak atas penutupan Jalur Gumitir, Pertamina menggunakan rute alternatif yakni Banyuwangi – Situbondo – Arak-Arak – Bondowoso – Jember yang mana sebelumnya dari Banyuwangi - Gumitir langsung disalurkan ke Jember.
"Terkait mitigasi jalur ini, Pertamina juga telah melaksanakan koordinasi dengan Satlantas dan Polres setempat untuk prioritas kendaraan pengangkutan BBM dan LPG. Imbas dari kemacetan ini mengakibatkan Round Time Hours (RTH) yang semula hanya 4 jam menjadi 11 jam, sehingga Pertamina memutuskan untuk melaksanakan alih suplai ke Pertamina Instalasi Surabaya Group dan Fuel Terminal Malang untuk menghindari mobil tangki terjebak kemacetan di Pelabuhan Ketapang," terang Ahad.
"Terdapat 79 mobil tangki bantuan yang sudah kita sediakan, masing-masing berasal dari suplai Banyuwangi, Surabaya dan Malang dengan tetap mempertimbangkan jalur yang dilalui yang hanya bisa dilintasi maksimal kapasitas 24 KL. Sebagai upaya antisipasi selanjutnya, mendukung upaya normalisasi penyaluran, distribusi juga akan dibantu melalui Tuban dan Madiun," tambahnya.