Nestapa Balita di Lumajang Idap Penyakit Langka, Terlahir Tanpa Anus
Di balik senyumnya yang lemah, tersimpan kisah perjuangan hidup yang sunyi.
Di sudut Desa Condro, Kecamatan Pasirian, Lumajang, seorang balita A tumbuh dalam keterbatasan fisik yang tak biasa. Di balik senyumnya yang lemah, tersimpan kisah perjuangan hidup yang sunyi, namun menyentuh hati siapa pun yang mengetahuinya.
A baru berusia tiga tahun. Namun, sejak detik pertama kehidupannya, dia sudah diuji dengan kondisi medis langka. dia terlahir tanpa lubang anus, atau dikenal secara medis sebagai atresia ani.
Tak hanya itu, jantung mungilnya pun menyimpan kelainan bawaan yang membuatnya semakin rentan. Bahkan, kaki kanannya tumbuh tanpa sendi lutut, membuatnya sulit bergerak layaknya balita seusianya.
Berat badannya yang hanya 5,7 kilogram menjadi tanda jelas bahwa tumbuh kembangnya sangat terhambat. Stunting yang dialami A menjadi penghalang besar bagi tim medis untuk segera mengambil tindakan penyelamatan. Dokter belum bisa melakukan operasi apa pun karena tubuhnya dinilai terlalu rapuh untuk menanggung risiko medis yang besar.
Hari-hari A dilewati dalam dekapan ibunya, Linatur Rohmah. Tak banyak yang bisa dilakukan selain merawat dan menenangkan buah hati yang terus bergelut dengan rasa tidak nyaman. Suaminya, Joko Samsul, sehari-hari bekerja mencari madu hutan, pekerjaan yang mengandalkan alam dan tentu saja, tak bisa diandalkan dari segi penghasilan.
"Saya hanya ingin Aminah sehat. Kami berusaha semampu kami, meski hidup sangat pas-pasan," ujar Linatur dengan suara bergetar menahan haru saat ditemui, Sabtu (21/6).
Dengan kondisi ekonomi terbatas, keluarga ini tak menyerah. A tetap dibawa kontrol rutin ke rumah sakit setiap bulan menggunakan BPJS Kesehatan. Pemeriksaan demi pemeriksaan dilakukan dengan harapan kondisi tubuhnya bisa membaik, sehingga prosedur medis yang tertunda bisa segera dilakukan.
"Sejauh ini kami hanya bisa kontrol rutin, sambil terus berusaha memperbaiki gizinya. Kami ingin dia kuat," tambah Linatur.
Di balik semua kesulitan itu, keluarga kecil ini menunjukkan bahwa cinta dan harapan mampu memberi daya hidup yang luar biasa. A menjadi simbol ketabahan, bukan hanya bagi keluarganya, tapi juga bagi siapa saja yang mengenal kisahnya. Dia adalah potret kecil dari banyak anak di pelosok negeri yang diam-diam berjuang untuk sekadar tumbuh dan hidup layak.
Kisah A bukan sekadar kabar duka. Ini adalah seruan lembut kepada kita semua, bahwa di luar sana, masih banyak anak-anak seperti A yang menanti sentuhan kasih, perhatian, dan uluran tangan. Bukan untuk mengasihani, tapi untuk membantu mereka berdiri dan menatap dunia dengan lebih terang.