Bocah 10 Tahun di Gunung Kidul Putus Sekolah Demi Rawat Orang Tua yang Sakit, Pasbata Turun Tangan
Di usianya yang masih anak-anak, Efendi merawat ibunya yang lumpuh akibat stroke dan gangguan saraf, serta ayahnya yang juga mengalami gangguan saraf.
Kisah Ahmad Tri Efendi, bocah berusia 10 tahun di Jeruken, Girisekar, Panggang, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta mencuri perhatian publik. Bagaimana tidak, di usianya yang masih anak-anak, Efendi merawat ibunya yang lumpuh akibat stroke dan gangguan saraf, serta ayahnya yang juga mengalami gangguan saraf.
Di usia yang masih belia, ia menjalani hari-hari dengan penuh tanggung jawab, mulai dari memberi minum hingga menjaga ibunya hingga larut malam. Tak cuma itu, dia bahkan sampai harus putus sekolah demi merawat kedua orang tuanya yang sakit.
Kisahnya pun menyita perhatian publik. Pasukan Bawah Tanah (Pasbata) Prabowo wilayah Gunungkidul mendatangi langsung rumah Ahmad Tri Efendi buat bertemu dengannya dan orang tuanya, Kamis (19/3/2026).
Dorong Agar Efendi Tetap Sekolah
Selain memberi bantuan berupa kebutuhan pokok seperti beras, minyak, dan berbagai kebutuhan harian lainnya, Pasbata juga mendorong agar Efendi tetap bisa melanjutkan pendidikannya di tengah kondisi keluarga yang sulit.
"Kami hadir untuk Efendi. Jangan sampai ada anak Indonesia yang kehilangan masa depan hanya karena kondisi keluarga. Ini panggilan kemanusiaan," kata Ketua DPC Pasbata Prabowo Gunungkidul, Martin dikutip, Jumat (20/3/2026).
Pihaknya juga siap berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta pihak terkait agar Efendi bisa kembali bersekolah.
"Kami siap membantu mencarikan solusi terbaik, baik dari sisi pendidikan maupun kesehatan keluarganya," lanjutnya.
Berhenti Sekolah saat Naik Kelas Dua karena Kondisi Kesehatan Ibu dan Ayah
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul sebelumya telah menyatakan komitmen untuk membantu Efendi kembali bersekolah melalui pendekatan khusus, serta memastikan kedua orang tuanya mendapat penanganan kesehatan yang layak.
Ketua RT setempat, Wahono, menyebut Efendi sempat bersekolah. Namun saat naik dari kelas satu ke kelas dua, kondisi ibunya memburuk, dari kebutaan hingga gangguan saraf yang berujung lumpuh.
"Karena ibunya sakit, Fendi berhenti sekolah. Tidak ada support dari orang tua karena keduanya sakit," kata Wahono.
Ayah Fendi juga mengalami gangguan saraf yang membatasi geraknya. Dalam kondisi itu, Fendi menjadi yang paling aktif merawat ibunya.
"Fendi itu selalu merawat ibunya, memegangi, memberi minum. Kehadirannya bisa membuat ibunya tersenyum," katanya.
Berbagai upaya telah dilakukan agar Efendi kembali sekolah, mulai dari keluarga, pihak sekolah, hingga warga. Bahkan, ada tawaran sekolah gratis di panti asuhan di Bantul. Namun Efendi menolak karena tak ingin jauh dari ibunya.
"Kalau di panti pulangnya beberapa bulan sekali. Fendi tidak mau jauh dari ibunya," kata Wahono.