Ini di Indonesia, Demi Rp1.000 Pria Lumpuh ini Rela Merangkak di Panasnya Bebatuan Mencari Daun Kelapa buat Dijadikan Sapu Lidi

Di tengah kelumpuhan yang dialami, pria malang itu rela berjuang demi bertahan hidup dan mencari rezeki.

Billy Adytya
Oleh Billy Adytya - Reporter
Ini di Indonesia, Demi Rp1.000 Pria Lumpuh ini Rela Merangkak di Panasnya Bebatuan Mencari Daun Kelapa buat Dijadikan Sapu Lidi
Ini di Indonesia, Demi Rp1.000 Pria Lumpuh ini Rela Merangkak di Panasnya Bebatuan Mencari Daun Kelapa buat Dijadikan Sapu Lidi (Merdeka.com)

Ini di Indonesia, Demi Rp1.000 Pria Lumpuh ini Rela Merangkak di Panasnya Bebatuan Mencari Daun Kelapa buat Dijadikan Sapu Lidi

Di tengah kelumpuhan yang dialami, pria malang itu rela berjuang demi bertahan hidup dan mencari rezeki.

Kemiskinan hingga saat ini menjadi masalah di beberapa kawasan Tanah Air.

Hal ini dialami juga oleh pria malang bernama Mang Buang satu ini. Diketahui, ia telah mengalami kelumpuhan dan tidak bisa berjalan kaki.

Namun di tengah keterbatasannya itu, ia harus rela berjuang demi bertahan hidup dan mencari rezeki, meski demi uang Rp1.000. Berikut ulasannya:

Mang Buang rela merangkak di atas panasnya bebatuan yang terpapar terik sinar matahari.

Melansir dari video unggahan akun Instagram @sayaphati, semua dilakukan untuk mencari daun kelapa.

“Daun kelapa untuk dijadikan sapu lidi demi uang Rp1.000,” tulis keterangan pada unggahan video.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Selama ini, Mang Buang hanya hidup dengan ayah mertuanya yang sama-sama sakit, abah Maman. Keduanya tinggal di rumah yang nyaris roboh.

Sehari-hari, mereka berjualan sapu dan hanya bisa menjual 3 sapu yang masing-masingnya dijual dengan harga Rp1.000.

Kelumpuhan yang dialami oleh Mang Buang terjadi saat dirinya terjatuh dari pohon kelapa sawit.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Kala itu, Mang Buang hendak menyada air kelapa sawit untuk dijadikan gula merah. Kini ia mengalami cacat tulang ekor.

Semua keterbatasannya ini membuatnya susah untuk membuang urine (kencing).

“Ia selalu kesakitan dan mohon maaf sekali (kelamin dibungkus plastik dan diikat dengan karet) karena ia tak mampu pasang kateter (alat bantu untuk buang kencing),” papar keterangan.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Amat menyedihkan, Mang Buang juga sedikit kurang melihat karena matanya mengalami katarak.

Beruntungnya, ia memiliki istri yang setia untuk merawat dan abah Maman, mertua baik walau hidup di bawah garis kemiskinan.

Rekomendasi