Napak Tilas Jejak Bung Karno dan Bung Hatta di Rengasdengklok
Di Rengasdengklok, ada rumah menjadi lokasi penculikan Bung Karno dan Bung Hatta oleh sekelompok pemuda sehari sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.
Rumah tua ini tetap menjaga keasliannya dengan baik. Pilar kayu berwarna hijau yang berada di terasnya kokoh menopang bangunan yang tak henti-hentinya tergerus oleh waktu.
Terletak di Rengasdengklok, rumah ini merupakan lokasi di mana Bung Karno dan Bung Hatta diculik oleh sekelompok pemuda sehari sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, yang terjadi 80 tahun yang lalu. Lantai rumah masih mempertahankan gaya tradisional dengan warna terakota, tanpa tergoda oleh keramik modern yang lebih halus.
Ketika memasuki ruang tamu, terlihat poster-poster Bapak Proklamator yang menghiasi hampir setiap dinding rumah. Berbagai momen dan gaya Bung Karno dan Bung Hatta terpampang jelas.
Di sisi kanan pintu masuk terdapat sebuah kamar, yang merupakan tempat di mana Bung Karno, Fatmawati, dan putra mereka, Guntur Soekarnoputra, pernah menginap. Ranjang kayu jati yang masih terjaga dengan baik tampak seolah tak terpengaruh oleh waktu.
Di sebelah kiri, ada kamar yang digunakan oleh Bung Hatta, di mana kasur berseprai putih dan dipan tua yang sudah berusia puluhan tahun masih terawat dengan baik.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5314263/original/007229500_1755071767-IMG_6252.jpeg)
Mendengar nama Rengasdengklok, pikiran kita langsung tertuju pada peristiwa penculikan dua tokoh proklamator, Sukarno dan Mohammad Hatta. Delapan puluh tahun yang lalu, tepatnya pada 16 Agustus 1945, Sukarno dan Hatta 'diculik' oleh sekelompok pemuda ke Rengasdengklok, yang terletak di Kabupaten Karawang.
Para pemuda yang dipimpin oleh Soekarni, Wikana, Aidit, dan Chaerul Saleh berusaha mencegah Sukarno dan Hatta terpengaruh oleh Jepang. Mereka mendesak kedua tokoh tersebut untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 16 Agustus 1945.
Rumah tempat pengasingan Sukarno dan Hatta masih berdiri kokoh hingga saat ini. Memiliki cat berwarna hijau-putih dan dinding kayu, rumah tua ini terlihat sederhana namun sangat terawat.
Meskipun tampak sederhana, jejak sejarah yang ada di rumah milik Djiauw Kie Siong ini tetap abadi. Djiauw Kie Siong adalah salah satu anggota pasukan Pembela Tanah Air (Peta).
Rumah tersebut terletak di Dusun Bojong, Rengasdengklok, Kabupaten Karawang. Awalnya, rumah yang kini menjadi cagar budaya itu berada di tepi Sungai Citarum, namun pada tahun 1957, lokasi rumah dipindahkan sekitar 150 meter dari tempat asalnya di Kampung Bojong, Rengasdengklok, karena lokasi asli sering mengalami banjir.
Ibu Yanto, istri dari cucu Djiauw Kie Siong yang berusia 77 tahun, menceritakan bahwa rumah ini sering dikunjungi orang-orang, terutama menjelang tanggal 17 Agustus. Pengunjung terbanyak berasal dari masyarakat umum.
"Ramai anak sekolah. Pada 17 Agustus, pengunjung lebih ramai lagi. Pejabat tidak banyak, lebih banyak masyarakat umum," kata Ibu Yanto di rumah pengasingan pada Rabu, 13 Agustus 2025.
Sementara itu, di hari-hari biasa, pengunjung yang datang kebanyakan adalah siswa dari berbagai sekolah. Ibu Yanto menyatakan bahwa ia tidak pernah menghitung berapa banyak tamu yang datang ke rumah tersebut.
"Kami tidak menggunakan tiket, jadi tidak menghitung jumlah yang datang," tutur Ibu Yanto.
Dari buku tamu yang ada di ruang tamu, terlihat bahwa pengunjung datang dari seluruh penjuru Indonesia. Bahkan, ada yang berasal dari Lampung hingga Kalimantan.
Ibu Yanto berharap agar rumah pengasingan ini tetap terawat di masa depan dengan bantuan pemerintah. Selama ini, biaya perawatan rumah tersebut berasal dari uang pribadi keluarga.
"Selama ini (dana) perawatan pribadi," ujarnya. "Kami hanya merawat, harapannya dilestarikan karena sejarah tidak bisa diulang, kan," pungkasnya.