Oleh: Arsya Muhammad
Tanggal 15 Agustus 1945, sejumlah pemuda bersikeras menemui Sukarno di kediamannya. Baru saja sang pemimpin besar revolusi itu pulang dari Dalat, menemui Marsekal Terauchi di luar kota Saigon.
Para pemuda telah mendengar berita menyerahnya Jepang yang diumumkan lewat radio hari itu. Mereka bersikeras, Bung Karno harus memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia malam itu juga. Atau selambat-lambatnya 16 Agustus.
Terjadi perdebatan sengit antara Sukarno dan para pemuda itu. Para pemuda ingin Bung Karno segera memberi aba-aba untuk bergerak, dan mereka siap untuk melawan Jepang. Namun Bung Karno menolak. Dia merasa para pemuda itu belum siap untuk melawan Jepang. Selain itu, Sukarno mengaku menghindari jatuhnya korban warga sipil, wanita dan anak-anak.
Mendengar sikap Bung Karno, Para pemuda yang bersenjata itu mengejek.
“Boleh jadi Bung Besar kita takut. Boleh jadi dia tetap menunggu perintah dari Tenno Heika,” ejek seorang pemuda.
Wikana, salah seorang pemuda mencoba menggertak Bung Karno. Dengan pisau di tangannya, dia mencoba menakut-nakuti Bung Karno. Namun Bung Karno malah marah dan balik menantang Wikana.
Situasi pun berbalik. Para pemuda itu terdiam. Sukarno pun menjelaskan pada mereka. Mengapa dia memilih tanggal 17 Agustus.
Advertisement