Pemerintah Kota Surabaya belum lama ini meluncurkan sebuah karya penting berjudul "Bung Karno: Aku Arek Suroboyo", sebuah buku yang secara mendalam mengulas jejak kehidupan Presiden pertama Republik Indonesia di kota kelahirannya. Peluncuran ini bertujuan untuk mengingatkan kembali generasi muda tentang sejarah panjang bangsa, khususnya peran Surabaya dalam membentuk karakter Soekarno. Inisiatif ini hadir di tengah arus informasi digital yang serba cepat, di mana kisah-kisah panjang seringkali terabaikan demi konten singkat.
Buku yang ditulis oleh Purnawan Basundoro, Samidi, Yayan Indrayana, dan Kukuh Yudha Karnanta ini bukan sekadar koreksi atas lokasi kelahiran proklamator. Lebih dari itu, karya ini mengajak warga Surabaya untuk memahami identitas kota melalui pengalaman Koesno Sosrodihardjo, nama kecil Bung Karno, di lingkungannya. Surabaya bukan hanya sekadar titik dalam dokumen kelahiran Soekarno, melainkan sebuah ruang awal yang secara signifikan membentuk watak, pengalaman sosial, dan imajinasi kebangsaannya.
Kehadiran buku "Bung Karno: Aku Arek Suroboyo" menjadi momentum penting untuk mendekatkan sosok Soekarno yang selama ini kerap terasa jauh. Melalui pendekatan lokal, sejarah nasional dapat lebih mudah dipahami oleh anak-anak sekolah. Mereka bisa melihat bahwa gagasan besar bangsa lahir dari lingkungan nyata, seperti keluarga, sekolah, pergaulan, dan pergulatan sosial di sekitar mereka.
Advertisement
Advertisement
Pendekatan Lokal dalam Sejarah Nasional
Sosok Soekarno seringkali hadir dalam narasi besar sebagai pembaca proklamasi, penggali Pancasila, atau pemimpin gerakan anti-kolonial yang agung. Meskipun semua itu benar, kebesaran sosoknya terkadang membuat anak-anak sekolah merasa jauh dan sulit terhubung dengan realitasnya. Buku "Bung Karno: Aku Arek Suroboyo" menawarkan perspektif baru dengan menyoroti sisi personal dan lokal dari kehidupan Soekarno.
Pendekatan lokal ini sangat penting karena mampu menjembatani kesenjangan antara sejarah nasional yang luas dengan pengalaman keseharian pelajar. Sejarah tidak kehilangan wibawanya ketika diceritakan dari sudut pandang sebuah kota, justru menjadi lebih relevan dan mudah dipahami. Anak-anak dapat melihat bahwa gagasan besar tentang bangsa ini terbentuk dari lingkungan yang nyata, melalui interaksi di jalan kampung, sekolah, dan pergaulan sosial.
Sebelumnya, pameran "Aku Arek Suroboyo" yang digelar di ruang bawah Alun-Alun Surabaya pada Juni 2026 juga telah menghadirkan arsip, foto, dan film jejak kehidupan Soekarno. Rangkaian kegiatan ini menunjukkan bahwa pengelolaan sejarah tidak harus selalu terbatas pada ruang kelas formal. Sejarah dapat menjadi pengalaman publik yang menarik, mengajak warga untuk melihat kembali kota mereka dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
Advertisement
Advertisement
Transformasi Pembelajaran Sejarah
Pemerintah Kota Surabaya berencana menjadikan buku "Bung Karno: Aku Arek Suroboyo" sebagai bahan pembelajaran bagi siswa SD dan SMP, sebuah langkah yang patut diapresiasi. Peluangnya jelas, pelajaran sejarah akan menjadi lebih dekat dengan pengalaman anak-anak Surabaya. Mereka tidak hanya mengenal Bung Karno sebagai tokoh dalam buku nasional, tetapi sebagai sosok yang memiliki keterhubungan erat dengan kota tempat mereka tinggal.
Namun, keberhasilan kebijakan ini tidak hanya ditentukan oleh banyaknya jam pelajaran atau jumlah buku yang dibagikan. Tantangan sesungguhnya terletak pada cara sejarah diajarkan di sekolah. Jika buku ini hanya diposisikan sebagai bahan hafalan baru, semangatnya dapat hilang sebelum sampai kepada pembaca muda, sehingga tujuan utama tidak tercapai.
Pelajaran sejarah seringkali dianggap membosankan karena penuh dengan tanggal, nama, dan peristiwa yang harus dihafal. Padahal, sejarah pada dasarnya adalah kisah tentang pilihan manusia dalam menghadapi zamannya. Bung Karno dapat dipelajari melalui pertanyaan yang dekat dengan kehidupan pelajar, seperti bagaimana seorang anak muda membangun keberanian berpikir atau mengapa persatuan itu penting.
Advertisement
Kurikulum nasional memberikan ruang bagi satuan pendidikan untuk mengembangkan pembelajaran sesuai konteks lokal, menegaskan pentingnya fleksibilitas. Ruang inilah yang dapat dimanfaatkan Surabaya untuk menghadirkan sejarah lokal secara menarik, tanpa menjadikannya beban tambahan yang kaku. Buku ini harus menjadi pintu masuk, bukan satu-satunya bahan ajar, memungkinkan guru mengembangkan materi melalui proyek penelusuran, diskusi, atau kunjungan museum.
Advertisement
Mewariskan Nilai-Nilai Bung Karno
Sebuah buku sejarah yang baik tidak mengajak pembacanya berhenti pada kebanggaan semata, melainkan mendorong untuk bertanya tentang tanggung jawab yang harus diemban. Surabaya boleh berbangga sebagai kota kelahiran Soekarno, namun kebanggaan itu baru akan bermakna jika diterjemahkan menjadi upaya nyata dalam menghadirkan nilai-nilai yang diperjuangkan olehnya.
Nilai-nilai luhur tersebut tidak selalu harus diwujudkan dalam seremoni besar atau acara formal. Semangat persatuan dapat tumbuh melalui lingkungan sekolah yang aman dan inklusif bagi semua anak. Gagasan keadilan sosial dapat hadir melalui layanan publik yang mampu menjangkau warga rentan, memastikan setiap individu mendapatkan haknya secara adil.
Cita-cita kemandirian bangsa dapat diterjemahkan melalui penguatan usaha kecil dan menengah, pengembangan keterampilan generasi muda, serta inovasi di tingkat komunitas. Sementara itu, keberanian berpikir kritis dapat dipupuk melalui penciptaan ruang dialog yang sehat, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat, mendorong pertukaran ide yang konstruktif.
Advertisement
Surabaya memiliki kesempatan besar untuk menjadikan sejarah sebagai energi pembangunan yang berkelanjutan. Jejak Bung Karno dapat dihubungkan dengan penguatan literasi, pelestarian cagar budaya, pengembangan museum ramah anak, serta wisata sejarah yang memberi manfaat ekonomi. Sejarah tidak cukup hanya disimpan dalam arsip, melainkan perlu dihidupkan dalam ekosistem yang membuat warga merasa memiliki dan terlibat aktif.
Sumber: AntaraNews