Bimbel di Yogyakarta Ramai Diminati, Tes Akademik Jadi Sorotan

Fenomena bimbel di Yogyakarta meningkat pesat, dipicu oleh dampak Tes Kemampuan Akademik. Pengamat pendidikan menyoroti perubahan orientasi belajar.

Devira Prastiwi
Oleh Devira Prastiwi - Reporter
Bimbel di Yogyakarta Ramai Diminati, Tes Akademik Jadi Sorotan
9 Cara Memilih Lembaga Bimbingan Belajar untuk Anak SD Kelas 1 buat Orang Tua. (Gambar: AI Generated)

Tempat bimbingan belajar (bimbel) Exist Gayam di Yogyakarta baru-baru ini menjadi viral di media sosial. Sebuah video menunjukkan antrean panjang orang tua yang ingin mendaftarkan anak mereka untuk meningkatkan kemampuan akademik.

Pengamat pendidikan, Ina Liem, menilai fenomena ini merupakan salah satu dampak dari adanya Tes Kemampuan Akademik (TKA). Menurutnya, orang tua berlomba-lomba untuk meningkatkan kemampuan akademik anak, salah satunya melalui program bimbel.

"Ini salah satu konsekuensi yang sejak awal saya khawatirkan dari kembalinya 'teaching to the test' dengan adanya TKA. Begitu hasil sebuah tes memiliki konsekuensi terhadap masa depan anak, masyarakat akan beradaptasi," ujar Ina kepada Liputan6.com, Rabu (2/9/2026).

Ina mengungkapkan bahwa penerapan TKA telah menggeser orientasi belajar. Materi yang sebelumnya dianggap penting untuk dipelajari anak berpotensi bergeser menjadi materi yang dianggap kemungkinan keluar dalam ujian.

"Orang tua mencari bimbel, anak mulai drilling, dan pembelajaran perlahan bergeser dari 'apa yang penting dipelajari anak' menjadi 'apa yang kemungkinan keluar di tes,'" sambungnya.

Menurut Ina, jika keberhasilan sebuah asesmen melahirkan industri persiapan tes yang semakin besar, maka tujuan dari asesmen tersebut perlu dipertanyakan kembali.

"Kita perlu bertanya: asesmen ini sedang memperbaiki kualitas pendidikan, atau hanya memperbaiki kemampuan anak mengerjakan tes?" ucapnya.

Ina menilai fenomena orang tua yang rela mengantre sejak subuh untuk mendapatkan tempat bimbel pada tahun ajaran berikutnya sebenarnya sudah dapat diprediksi.

"Ya, mau bagaimana lagi kalau dari pembuat kebijakannya sendiri menurut saya kurang memahami apa yang akan dibutuhkan generasi muda untuk survive di zamannya nanti," kata dia.

Rancangan Kebijakan Pendidikan

Ina menekankan pentingnya perspektif dunia kerja dan industri dalam merancang kebijakan pendidikan.

"Menteri kita sepanjang perjalanan profesionalnya memang banyak berada di ekosistem pendidikan. Karena itu pertanyaan saya bukan soal pribadi beliau, tetapi seberapa kuat perspektif industri dan masa depan pekerjaan benar-benar masuk dalam desain kebijakan pendidikan kita?" kata dia.

"Kita sekarang bicara soal critical thinking, creativity, problem solving, adaptability, kemampuan-kemampuan yang justru semakin penting ketika AI bisa mengerjakan semakin banyak pekerjaan kognitif rutin. Tetapi insentif dalam sistem pendidikan kita malah kembali diarahkan ke skor tes," sambung Ina.

Ina juga mengingatkan para pembuat kebijakan agar kembali berfokus pada siswa dan hal-hal yang benar-benar mereka butuhkan untuk menghadapi masa depan.

"Saya sejak awal konsisten: TKA sebaiknya dihapuskan. Bukan karena saya menolak asesmen. Asesmen tetap diperlukan, tetapi tidak perlu diselenggarakan secara nasional dan serentak," kata dia.

"Biarkan masing-masing sekolah melakukan evaluasi berdasarkan kriteria yang sesuai dengan konteks dan kebutuhan mereka. Untuk pemetaan secara nasional, kita toh sudah memiliki Asesmen Nasional (AN)," jelas Ina.

Rekomendasi