Cerita di Balik Sukses Bimbel Exist yang Bikin Orang Tua Rela Antre dari Subuh

Menariknya, bimbel yang berada di area perkampungan itu tidak mengandalkan brosur maupun promosi di media sosial.

Purnomo Edi
Oleh Purnomo Edi - Reporter
Cerita di Balik Sukses Bimbel Exist yang Bikin Orang Tua Rela Antre dari Subuh
Cerita Di Balik Kesuksesan Bimbel Exist Yang Bikin Ortu di Yogyakarta Rela Antri

Saat sebagian besar warga Yogyakarta masih terlelap, ratusan orang tua sudah mengantre di sebuah gang di kawasan Jalan Gayam. Mereka datang sejak pukul 04.00 WIB demi mendapatkan nomor pendaftaran Bimbel Exist Gayam untuk anak-anak mereka.

Fenomena tersebut membuat Bimbel Exist Gayam viral dan menjadi perbincangan. Menariknya, bimbel yang berada di area perkampungan itu tidak mengandalkan brosur maupun promosi di media sosial.

Di balik kesuksesan bimbel tersebut ada Yurin Gagarin, pensiunan guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 4 Yogyakarta. Perempuan berusia 62 tahun itu mengatakan Bimbel Exist Gayam bermula dari niat sederhana untuk mencari barokah setelah memasuki masa pensiun.

Bimbel yang dahulu dikenal dengan nama "Les-lesan Bu Yurin" di kawasan Lempuyangan itu kini berkembang hingga memiliki ratusan siswa.

Menurut Yurin, selama ini dirinya tidak pernah secara khusus mempromosikan bimbel tersebut. Informasi mengenai Bimbel Exist justru menyebar melalui getok tular atau dari mulut ke mulut, terutama dari para alumni yang berhasil masuk SMA negeri favorit di Yogyakarta.

"Kami tidak pernah promo sama sekali. Yang memviralkan justru anak-anak yang sudah lulus dari sini," ungkap Yurin, Rabu (2/9).

Yurin mengklaim sekitar 80 persen lulusan Bimbel Exist Gayam berhasil menembus SMA negeri favorit di Yogyakarta, seperti SMAN 3, SMAN 8, dan SMAN 1.

Meski memiliki banyak peminat, biaya belajar yang dipatok Bimbel Exist Gayam relatif terjangkau. Untuk satu mata pelajaran dengan empat kali pertemuan dalam sebulan, siswa hanya dikenakan biaya Rp 150 ribu.

"Biayanya tetap paling murah sejak dulu. Saya dan suami yang sudah pensiun sekarang murni hanya mencari barokah, tidak lagi mengejar materi duniawi. Alhamdulillah, anak-anak saya juga sudah mapan," tuturnya.

Saat ini, terdapat lebih dari 10 guru yang mengajar di Bimbel Exist Gayam. Yurin menyebut para pengajar tersebut memiliki kualitas dan disiplin yang baik.

Setiap kelas dibatasi maksimal 20 siswa agar proses belajar berlangsung kondusif. Penggunaan telepon seluler juga tidak diperbolehkan selama kegiatan belajar.

"Satu kelas kami batasi maksimal 20 anak agar pembelajaran kondusif. Saat jam belajar berlangsung, tak ada toleransi untuk gawai (HP). Siswa yang ketahuan bermain HP akan langsung ditegur. Jika mengulangi hingga tiga kali, sanksi dikeluarkan. Gapapa kami keluarkan, masih banyak yang inden juga kok," terang Yurin.

 

 

Cerita Di Balik Kesuksesan Bimbel Exist Yang Bikin Ortu di Yogyakarta Rela Antri
Cerita Di Balik Kesuksesan Bimbel Exist Yang Bikin Ortu di Yogyakarta Rela Antri

Pendidikan Karakter dan Agama

Bimbel Exist Gayam tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik. Pendidikan karakter dan agama juga menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Salah satu rutinitas yang diterapkan adalah menghentikan seluruh aktivitas belajar ketika azan Magrib berkumandang. Para siswa kemudian diarahkan untuk menunaikan salat berjemaah di masjid yang berada di sebelah bimbel.

"Kami ajarkan juga akhlak dan budi pekerti yang baik. Saya tidak mau hanya mencetak orang yang pintar saja tapi juga harus punya akhlak yang baik juga," tegas Yurin.

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah pendaftar Bimbel Exist Gayam terus meningkat. Pada 2025, jumlah siswanya sekitar 200 orang. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi sekitar 400 siswa pada periode berikutnya.

Yurin menjelaskan video yang viral terkait antrean pendaftaran tersebut merupakan proses pendaftaran untuk peserta les tahun 2027.

Dengan demikian, para orang tua yang terlihat mengantre sejak dini hari mendaftarkan anak mereka untuk mengikuti kegiatan belajar pada 2027.

"Kita tutup di angka 500 pendaftar. Tapi ini masih ada yang inden. Hingga hari ini ada 142 yang inden mau daftar dan belum dapat nomor antrean untuk daftar ulang," pungkas Yurin.

Rekomendasi