Rumah sederhana itu berada di lereng Gunung Prau sebelah timur, tepatnya di Desa Purwosari, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal. Tak banyak yang tahu, rumah itu memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi.
Dulunya, rumah itu pernah menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Kendal. Saat itu pemilik rumah tersebut adalah Raden Mas Ari Sumarmo Sastro Dimulyo.
Pada waktu itu, dia adalah Kepala Desa Purwosari dan juga salah satu tokoh yang berjuang bersama masyarakat Kendal dalam mempertahankan kemerdekaan.
Seperti diketahui, pada masa Agresi Militer Belanda I, pemerintah Kabupaten Kendal sempat berpindah ke daerah Sukorejo setelah daerah Weleri dibombardir tentara Belanda. Namun pada akhirnya wilayah Sukorejo juga bisa diserang Belanda lewat udara.
Sebelum serangan itu, pemerintahan sempat dipindah ke daerah Purwosari, tepatnya di rumah milik Raden Mas Ari Sumarmo.
Advertisement
Kini rumah bersejarah itu dikelola oleh anak Raden Mas Ari Sumarmo, yaitu Bu Ana. Bu Ana mengatakan kalau kondisi rumah itu tidak pernah berubah sedari dulu. Di salah satu dinding, terdapat dua foto Soeharto dan Sri Sultan HB X yang pada zaman Orde Baru pernah menjabat sebagai presiden dan wakil presiden.
“Bapak itu pengagum Soeharto, jadi saya tidak tega untuk menurunkannya,” kata Bu Ana seperti dikutip dari kanal YouTube Vista Holic.
Di sana masih terdapat foto-foto jadul. Salah satu foto hitam putih memperlihatkan Raden Mas Ari Sumarmo yang masih kecil. Di samping itu terdapat banyak benda-benda asli peninggalan zaman dulu seperti kursi, guci, dan mesin jahit.
Bu Ana bercerita bahwa pada tahun 1949, rumah itu pernah dijadikan pusat pemerintahan Kabupaten Kendal. Lokasinya dinilai strategis sebagai tempat persembunyian para pejuang.
“Tapi waktu itu di sini masuk wilayah penjajahan, sementara daerah Temanggung sana sudah masuk wilayah Republik. Bapak sama ibu saya hatinya murni Republik. Jadi bapak ibu saya bermuka dua, harus baik sama penjajah tapi juga melindungi tentara republik,” kata Bu Ana.
Advertisement
Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Raden Mas Ari Sumarmo berjualan tembakau di Pekalongan, kemudian hasilnya digunakan untuk membeli sembako dan pakaian.
Pernah suatu hari dalam perjalanan pulang Pekalongan ia dihadang oleh para antek Belanda. Ia ditanya kenapa bawa pakaian yang begitu banyak. Raden Mas Ari mengatakan bahwa pakaian itu hendak dijual dan sisanya untuk digunakan anak-anaknya. Padahal sesampainya di rumah pakaian itu ia bagikan pada para pejuang Republik.