Menteri Agama Pastikan Pembelajaran Madrasah Sumatra Pulih Penuh Pasca-Bencana
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengumumkan bahwa pembelajaran madrasah di Sumatra telah pulih 100% per 11 Februari 2026, memastikan pendidikan tetap berjalan pasca-banjir dan longsor.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa aktivitas pembelajaran bagi siswa madrasah di provinsi-provinsi terdampak bencana di Sumatra telah kembali normal sepenuhnya. Pernyataan ini disampaikan dalam rapat koordinasi di Jakarta pada Rabu, 18 Februari 2026, menyoroti komitmen pemerintah terhadap keberlanjutan pendidikan.
Menurut data per 11 Februari 2026, 100 persen siswa madrasah telah melanjutkan kegiatan belajar mereka, menunjukkan pemulihan yang cepat dan efektif. Meskipun sebagian besar kembali ke kelas normal, sebagian kecil masih menggunakan sistem shift, tenda darurat, atau berbagi fasilitas.
Pemulihan ini merupakan hasil kerja keras tim relawan Kementerian Agama (Kemenag) di lapangan, yang melakukan upaya tanggap bencana. Mulai dari pembangunan ruang kelas darurat hingga bantuan langsung untuk tempat ibadah, Kemenag berupaya memastikan fasilitas pendidikan dan keagamaan dapat berfungsi kembali.
Pemulihan Fasilitas Pendidikan Islam
Progres signifikan telah dicapai dalam pemulihan fasilitas pendidikan dan tempat ibadah pasca-banjir dan tanah longsor dahsyat yang melanda Sumatra. Dari 773 madrasah yang terdampak, 651 unit atau sekitar 84 persen telah kembali beroperasi, menunjukkan kecepatan respons dalam mengembalikan fungsi pendidikan.
Situasi serupa juga terjadi pada pesantren, di mana 883 dari 1.173 institusi yang terdampak, atau sekitar 75 persen, telah melanjutkan kegiatan belajar mengajar. Pemulihan ini menjadi bukti nyata upaya kolektif untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak pendidikan mereka.
Tidak hanya fasilitas pendidikan, tempat ibadah juga mengalami pemulihan yang pesat. Sebanyak 1.553 dari 1.593 tempat ibadah yang terdampak, atau 97 persen, kini telah beroperasi kembali, mendukung kebutuhan spiritual masyarakat pasca-bencana.
Peran Kemenag dan Anggaran Rekonstruksi
Keberhasilan pemulihan ini tidak lepas dari dedikasi tim relawan Kementerian Agama yang bekerja tanpa lelah di lapangan. Mereka melaksanakan berbagai upaya manajemen bencana yang responsif, termasuk mendirikan ruang kelas sementara dan memberikan bantuan darurat untuk tempat ibadah.
Untuk mempercepat proses rekonstruksi secara menyeluruh, Kemenag telah mengusulkan anggaran sebesar Rp702,98 miliar, atau sekitar US$41,6 juta. Anggaran ini diajukan melalui skema output Arahan Khusus Presiden (Special Presidential Directive) untuk memastikan alokasi dana yang tepat sasaran.
Dana tersebut direncanakan untuk rehabilitasi madrasah, pesantren, dan tempat ibadah yang masih mengalami kerusakan sedang hingga parah. Selain itu, anggaran ini juga akan digunakan untuk relokasi fasilitas di daerah rawan bencana, guna mencegah dampak serupa di masa mendatang.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya akuntabilitas dalam penggunaan anggaran ini. “Kami ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang dialokasikan melalui arahan presiden benar-benar sampai kepada masyarakat,” ujarnya, menegaskan komitmen terhadap transparansi.
Sebagai informasi, tiga provinsi di Sumatra, yaitu Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, sebelumnya dilanda banjir dan tanah longsor akibat curah hujan tinggi pada akhir November 2025. Bencana ini menimbulkan dampak yang signifikan.
Menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga 18 Februari 2026, bencana tersebut telah merenggut 1.206 korban jiwa. Selain itu, 138 warga masih dinyatakan hilang, meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat terdampak.
Sumber: AntaraNews