Menteri Abdul Mu’ti: Ribuan Sekolah di Sumatra Kembali Beroperasi Penuh Pasca Bencana
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti memastikan seluruh sekolah di Sumatra kembali beroperasi setelah terdampak bencana, menjadi fondasi penting percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengonfirmasi bahwa seluruh aktivitas belajar mengajar di sekolah-sekolah yang terdampak bencana alam di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah kembali normal. Konfirmasi ini disampaikan pada Jumat (13/2) di Jakarta, menandai langkah penting dalam pemulihan pasca-bencana di kawasan tersebut. Pengaktifan kembali kegiatan belajar mengajar ini dilakukan setelah upaya rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas pendidikan dilaksanakan secara cepat dan terkoordinasi.
Pencapaian ini bukan hanya sekadar pemulihan fisik, tetapi juga menjadi fondasi krusial bagi percepatan upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana di seluruh wilayah Sumatra. Pendidikan adalah hak dasar anak-anak yang harus tetap terpenuhi, bahkan di tengah kondisi sulit. Oleh karena itu, memastikan sekolah kembali berfungsi menjadi prioritas utama pemerintah.
Dalam pernyataan tertulis yang dikeluarkan, Menteri Mu’ti merinci data kerusakan terhadap sarana dan prasarana pendidikan yang terdampak. Total ribuan sekolah mengalami kerusakan dengan tingkat bervariasi, mulai dari ringan hingga memerlukan relokasi. Data ini menjadi acuan utama dalam perencanaan dan pelaksanaan upaya pemulihan yang komprehensif.
Data Kerusakan Fasilitas Pendidikan di Sumatra
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti memaparkan bahwa sebanyak 4.863 sekolah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengalami dampak bencana. Dari jumlah tersebut, 3.409 sekolah mengalami kerusakan ringan, 925 sekolah mengalami kerusakan sedang, dan 437 sekolah mengalami kerusakan parah. Selain itu, terdapat 92 sekolah yang harus direlokasi karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk kembali beroperasi di lokasi semula.
Secara lebih spesifik, Aceh menjadi provinsi dengan jumlah sekolah terdampak terbanyak, yaitu 3.073 sekolah. Disusul oleh Sumatera Utara dengan 1.168 sekolah, dan Sumatera Barat dengan 622 sekolah. Penilaian kerusakan ini didasarkan pada kerusakan ruang-ruang esensial seperti ruang kelas, perpustakaan, kantor administrasi, dan ruang kepala sekolah.
Proses penilaian kerusakan masih terus berlangsung melalui rekonsiliasi data yang dilakukan bersama dinas pendidikan di tingkat kabupaten, kota, dan provinsi. Hal ini bertujuan untuk memastikan akurasi data dan efektivitas intervensi yang akan dilakukan. Data yang akurat sangat penting untuk alokasi sumber daya yang tepat sasaran dalam upaya perbaikan fasilitas pendidikan.
Upaya Pemulihan dan Kondisi Pembelajaran Terkini
Untuk mengatasi kerusakan fasilitas dan infrastruktur pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah bertindak cepat guna memastikan hak anak-anak atas pendidikan tetap terpenuhi. Meskipun kerusakan infrastruktur cukup luas, Menteri Mu’ti menegaskan bahwa per 11 Februari, kegiatan belajar mengajar telah sepenuhnya kembali beroperasi. Ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam menjaga keberlangsungan pendidikan.
Di Aceh, sebanyak 3.001 sekolah telah kembali menggunakan bangunan aslinya untuk kegiatan belajar. Sementara itu, 52 sekolah masih melaksanakan kelas di tenda atau ruang darurat, dan 20 sekolah lainnya berbagi fasilitas sementara dengan sekolah lain. Kondisi serupa juga terjadi di Sumatera Utara, di mana 1.142 sekolah telah kembali ke lokasi semula, dengan 26 sekolah masih menggunakan tenda atau ruang darurat.
Adapun di Sumatera Barat, 599 sekolah telah melanjutkan aktivitas di bangunan aslinya. Sebanyak 21 sekolah beroperasi di tenda atau ruang darurat, dan dua sekolah lainnya berbagi fasilitas sementara. Upaya ini merupakan langkah adaptif untuk memastikan tidak ada jeda dalam proses pembelajaran bagi para siswa yang terdampak bencana.
Sumber: AntaraNews