Tunjangan Profesi Guru Dorong Profesionalisme dan Sukseskan Wajib Belajar 13 Tahun
Tunjangan Profesi Guru (TPG) terbukti menjadi motivasi kuat bagi para pendidik untuk terus mengembangkan diri, sekaligus mendukung penuh program Wajib Belajar 13 Tahun. Simak dampaknya!
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan bahwa Tunjangan Profesi Guru (TPG) berperan penting sebagai motivasi. Tunjangan ini mendorong peningkatan profesionalisme guru guna menyukseskan program Wajib Belajar 13 Tahun. Pernyataan ini disampaikan di Jakarta pada Minggu, 28 Juni.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menyoroti peran sentral guru dalam kemajuan pendidikan. Ia menekankan bahwa perkembangan di setiap sekolah tidak terlepas dari kerja keras guru. Para pendidik berupaya menghadirkan pembelajaran yang bermutu dan menyenangkan bagi siswa.
Melalui TPG, para guru dapat terus mengembangkan kompetensi dan karier mereka. Ini pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Beberapa guru bahkan telah menunjukkan praktik baik dalam pemanfaatan tunjangan ini.
TPG sebagai Pendorong Profesionalisme Guru
Kemendikdasmen secara konsisten menggarisbawahi bahwa Tunjangan Profesi Guru (TPG) bukan sekadar insentif finansial. Lebih dari itu, TPG dirancang sebagai instrumen strategis untuk memacu para pendidik agar senantiasa meningkatkan kualitas diri. Peningkatan profesionalisme ini dianggap krusial dalam upaya mencapai target pendidikan nasional, khususnya program Wajib Belajar 13 Tahun.
Program Wajib Belajar 13 Tahun bertujuan untuk memberikan kesempatan pendidikan yang setara bagi seluruh anak Indonesia, termasuk satu tahun prasekolah. Dengan guru yang profesional dan inovatif, diharapkan fondasi pendidikan anak dapat terbangun lebih kuat. Hal ini akan mempersiapkan mereka untuk jenjang pendidikan selanjutnya dengan lebih baik.
Fajar Riza Ul Haq, Wamendikdasmen, menyatakan bahwa kualitas pendidikan sangat bergantung pada dedikasi guru. Guru yang terus belajar dan berinovasi akan menciptakan lingkungan belajar yang optimal. Lingkungan ini penting untuk perkembangan peserta didik secara holistik.
Kisah Inspiratif dari Guru PAUD Lampung
Salah satu praktik baik pemanfaatan TPG datang dari Budi Iswanti, seorang guru TK Al Muttaqien, Kota Bandar Lampung. Budi mengungkapkan bahwa TPG mendorongnya untuk terus mengembangkan kompetensi diri secara berkelanjutan. Ia aktif mengikuti berbagai pelatihan, belajar mandiri, serta mengikuti perkembangan kebijakan dan inovasi pembelajaran.
Pemanfaatan TPG juga ia alokasikan untuk membeli berbagai media pembelajaran yang inovatif. Buku referensi dan langganan internet menjadi prioritasnya guna mengakses platform Ruang GTK. Semua upaya ini dilakukan Budi untuk mendukung pengembangan karier dan profesionalismenya sebagai guru PAUD.
Dengan komitmen tinggi, Budi Iswanti bertekad mendukung keberhasilan Wajib Belajar 13 Tahun. Bersama orang tua dan lingkungan sekolah, ia membiasakan kegiatan literasi dan menerapkan pembelajaran berbasis bermain. Selain itu, ia juga menanamkan nilai-nilai karakter kepada murid-muridnya.
“Pembelajaran yang menyenangkan sangat berdampak pada perkembangan anak secara optimal. Dengan begitu, anak-anak menjadi sehat dan siap melanjutkan pendidikan ke jenjang SD,” kata Iswanti, menekankan pentingnya metode pembelajaran yang efektif.
Inovasi Pembelajaran Berkat TPG
Praktik baik serupa juga ditunjukkan oleh Puput Angellica, guru TK Harapan Bangsa Banjarejo, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung. Puput menjelaskan bahwa TPG tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tunjangan ini juga sangat menunjang pengembangan kompetensi profesionalnya.
Ia memanfaatkan TPG untuk mengikuti berbagai pelatihan, seminar, dan workshop pendidikan. Kegiatan-kegiatan ini membekalinya dengan pengetahuan dan keterampilan terbaru dalam dunia pendidikan. Hal ini sejalan dengan tujuan TPG sebagai pendorong peningkatan kualitas guru.
Terkait Wajib Belajar 13 Tahun, Puput memandang program ini sebagai langkah positif. Program tersebut sangat baik untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan memberikan kesempatan yang setara bagi setiap anak Indonesia. Ini termasuk memperoleh pendidikan satu tahun prasekolah yang esensial.
“Hasil dari pelatihan itu memantik saya untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, kreatif, dan berpusat kepada anak melalui penggunaan media kontekstual. Dengan hadirnya inovasi pembelajaran, saya berharap anak-anak menjadi senang ke sekolah, membentuk karakter mereka, dan mendorong tumbuh kembang anak yang ideal,” ujar Puput.
Sumber: AntaraNews