Melibatkan 1.100 Orang, Menteri LHK Pimpin Pembersihan Besar-besaran Pasca Banjir Denpasar
Menteri Lingkungan Hidup pimpin 1.100 orang dari berbagai institusi membersihkan Kota Denpasar dari lumpur dan sampah pasca banjir Denpasar. Apa saja upaya yang dilakukan?
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq pada Minggu, 14 September, memimpin operasi bersih-bersih besar-besaran di Kota Denpasar, Bali. Aksi ini melibatkan lebih dari seribu orang dari berbagai institusi untuk membersihkan sisa-sisa banjir.
Pembersihan ini dilakukan setelah Sungai Badung meluap pada Rabu, 10 September, menyebabkan banjir dan meninggalkan lumpur serta puing di berbagai wilayah. Fokus utama kegiatan ini adalah area sekitar Pasar Kumbasari, Pasar Badung, dan sepanjang Jalan Sulawesi yang terdampak parah.
Tujuan utama dari inisiatif ini adalah mengembalikan kondisi lingkungan Denpasar pasca-bencana dan mempersiapkan kota menghadapi potensi curah hujan lebih lanjut. Partisipasi aktif masyarakat dan berbagai elemen menunjukkan solidaritas tinggi dalam menghadapi dampak bencana alam.
Aksi Solidaritas Ribuan Relawan untuk Denpasar
Operasi bersih-bersih yang dimulai pukul 07.30 waktu setempat ini berhasil mengumpulkan 1.100 orang relawan dari berbagai latar belakang. Mereka terdiri dari prajurit TNI, petugas kepolisian, mahasiswa, pengemudi ojek online, organisasi non-pemerintah, komunitas pencak silat, hingga warga lokal.
Menteri Hanif Faisol Nurofiq menyatakan, "Kami memiliki 1.100 orang di sini untuk melanjutkan pembersihan yang telah dimulai beberapa hari lalu." Kehadiran beragam elemen masyarakat ini menunjukkan semangat gotong royong yang kuat dalam menghadapi dampak bencana.
Area yang menjadi sasaran utama pembersihan adalah sekitar Pasar Kumbasari dan Pasar Badung, serta sepanjang Jalan Sulawesi. Lokasi-lokasi ini merupakan titik-titik yang paling parah terdampak oleh luapan Sungai Badung, sehingga memerlukan penanganan ekstra.
Tantangan Penanganan Sampah dan Mitigasi Bencana
Hingga Minggu, 14 September, sebanyak 84 ton sampah dan puing telah berhasil dikumpulkan dari berbagai lokasi terdampak banjir Denpasar. Angka ini diperkirakan akan terus bertambah, dengan proyeksi total bisa mencapai 210 ton lebih dalam beberapa hari ke depan.
Nurofiq menekankan pentingnya membersihkan sungai-sungai dan saluran drainase yang tersumbat untuk mencegah banjir susulan. Kementerian Lingkungan Hidup juga telah memberikan izin kepada Pemerintah Provinsi Bali untuk membuang sampah tersebut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung.
"Kami telah memberitahu Gubernur Wayan Koster untuk membawa sampah ke TPA Suwung untuk penanganan yang tepat karena ini adalah keadaan darurat," ujar Nurofiq. Ia juga mendesak pejabat setempat untuk mengadopsi pendekatan komprehensif dalam pengelolaan sampah.
Banjir Denpasar ini harus menjadi peringatan bagi semua pemangku kepentingan untuk memperkuat upaya mitigasi. Pengelolaan sampah yang buruk dapat memperparah dampak banjir, sehingga perlu perhatian serius dari semua pihak terkait.
Restorasi Hulu dan Hilir untuk Pencegahan Banjir Jangka Panjang
Dalam konteks pencegahan banjir jangka panjang, Menteri Lingkungan Hidup menggarisbawahi perlunya restorasi tutupan hutan. Bali membutuhkan pemulihan sekitar 14.000 hektar tutupan hutan di daerah hulu sungai yang mengarah ke Kota Denpasar dan Kabupaten Badung.
Saat ini, hanya tiga persen dari area hulu yang tertutup hutan, sebuah angka yang sangat rendah. Oleh karena itu, pemerintah daerah bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menanam lebih banyak pohon di sana dalam waktu tiga tahun ke depan.
Mengenai daerah hilir, Menteri Nurofiq menyerukan perbaikan dalam pengelolaan sampah dan zona riparian. Penataan kawasan tepi sungai yang baik dapat meminimalkan risiko banjir yang dipicu oleh curah hujan tinggi, melengkapi upaya di daerah hulu.
Upaya restorasi dan pengelolaan terpadu ini diharapkan dapat menciptakan sistem drainase yang lebih baik. Dengan demikian, Denpasar akan lebih siap menghadapi musim hujan dan mengurangi risiko terjadinya banjir Denpasar di masa mendatang.
Sumber: AntaraNews