Potret Cucu Soekarno Sedot Perhatian Publik, Bersih-Bersih Sampah di Sungai Usai Banjir Bali
Ibu Kartika Sari Dewi membagikan video yang menunjukkan Kiran berpartisipasi dalam kegiatan bersih-bersih Sungai Tukad Bali usai Banjir.
Trah Presiden Pertama Republik Indonesia (RI) Ir. Soekarno kembali menyedot perhatian publik. Adalah Frederik Kiran Soekarno Seegers, cucu Soekarno dari pernikahannya dengan Kartika Sari Dewi Soekarno yang membuat publik terkagum-kagum.
Kiran yang baru saja tiba di Indonesia untuk mengikuti program magang di Goto Indonesia harus berhadapan dengan banjir Bali.
Kiran, yang kini berusia 19 tahun, terlihat aktif dalam kegiatan bersih-bersih Sungai Tukad di Bali. Ia bergabung dengan organisasi Sungai Watch untuk membersihkan sungai yang dipenuhi sampah akibat banjir bandang yang melanda Bali minggu lalu.
Dalam aksi tersebut, Kiran mengenakan kaus berwarna biru dan jumpsuit hitam saat memunguti sampah yang ada di sungai. Ibu Kiran membagikan video aksinya di Instagram @kartikasoekarnofoundation pada tanggal 13 September 2025.
"KSF tidak memiliki program bantuan darurat untuk banjir, tetapi saya sangat merekomendasikan Sungai Watch yang telah menjadi garda terdepan dalam membersihkan sungai dengan membangun penghalang untuk menghentikan sampah. Gary, Sam, dan Kelly Benchegib adalah para pegiat lingkungan yang luar biasa yang berupaya sekuat tenaga untuk melindungi keluarga-keluarga Bali dan sungai-sungai yang baru-baru ini dilanda banjir tragis ini," tulis Kartika di kolom keterangan.
Bersih-Bersih Sungai di Bali
Sampah menumpuk jadi pekerjaan rumah selanjutnya masyarakat di Pulau Dewata usai banjir bandang menerjang. Termasuk sampah yang menyumbat aliran Sungai Tukad.
Dalam sebuah unggahan di media sosial oleh Sungai Watch pada Senin, 15 September 2025, disebutkan bahwa Sungai Tukad Badung merupakan salah satu lokasi yang paling parah terdampak oleh banjir tersebut. Aliran air terlihat tertutup oleh puing-puing, barang-barang milik warga, dan sampah plastik yang terbawa arus.
Relawan yang hadir di lokasi dalam video tersebut menjelaskan bahwa beberapa barang masih dapat diselamatkan, sementara barang lainnya harus dibuang. Ia juga menekankan bahwa prioritas utama saat ini adalah membuka jalur sungai agar tidak mengalami penyumbatan lebih lanjut.
Upaya pembersihan sungai melibatkan banyak pihak, termasuk anggota TNI dan masyarakat setempat. Dalam rilis yang diterima oleh Lifestyle Liputan6.com, tercatat lebih dari 1.200 peserta berpartisipasi, yang terdiri dari jajaran pemerintah, komunitas masyarakat, BUMN, sektor swasta, serta elemen masyarakat lainnya.
"Volume sampah akibat banjir diperkirakan mencapai ratusan ton dalam beberapa hari ke depan. Kondisi ini membutuhkan kerja sama lintas pihak untuk penanganan segera agar tidak menimbulkan penyakit menular maupun risiko banjir susulan," ungkap Menteri Lingkungan Hidup (MenLH) Hanif Faisol Nurofiq.
Penyebab Alih Fungsih Lahan
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol mengatakan target proses pembersihan sampah akibat banjir di Bali dapat diselesaikan dalam waktu maksimal satu bulan.
"Seluruh sampah yang dihasilkan dari bencana ini akan diangkut menuju TPA Suwung untuk ditangani secara darurat," ungkapnya. Ia menjelaskan bahwa alam tidak dapat menahan curah hujan yang sangat tinggi.
Kejadian bencana ini menandakan adanya alih fungsi lahan yang tidak terencana dengan baik, sehingga dampaknya dirasakan oleh masyarakat Bali saat ini.
“Salah satu langkah yang perlu diambil adalah mengembalikan tutupan hutan di daerah hulu. Diperlukan sekitar 14 ribu hektare untuk memperkuat kembali daya dukung lingkungan Bali. Semoga upaya ini dapat segera memulihkan kemampuan alam Bali dalam menghadapi perubahan iklim yang semakin ekstrem," kata Hanif.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga ekosistem sungai. "Sungai merupakan sumber air utama, sehingga kita harus melindunginya agar tidak merusak dan mengancam generasi yang akan datang."
Larangan Alih Fungsi Hutan di Bali
Sementara itu, Gubernur Bali, Wayan Koster, menegaskan bahwa tahun ini akan dilakukan pembahasan mengenai peraturan daerah yang melarang alih fungsi lahan. Hal ini merupakan respons terhadap arahan dari Menteri Lingkungan Hidup yang mengidentifikasi konversi lahan sebagai salah satu penyebab utama terjadinya banjir besar.
"Mulai tahun ini, (menggarap perda) iya, sudah ada instruksi kepada Bupati dan Wali Kota se-Bali," ungkapnya dalam sebuah pernyataan di Denpasar pada Minggu, 14 September 2025, seperti yang dilansir oleh Antara.
Ia juga menekankan bahwa akan ada larangan untuk memberikan izin pembangunan hotel, restoran, serta fasilitas lainnya di atas lahan yang masih produktif, khususnya sawah. Koster menargetkan agar kebijakan tersebut dapat diterapkan mulai tahun 2025, sejalan dengan Haluan Pembangunan 100 Tahun Bali Era Baru yang akan berlaku dari 2025 hingga 2125.
"Mulai tahun ini (larangan alih fungsi lahan) sesuai dengan haluan Bali 100 tahun, mulai 2025 sudah tidak boleh lagi ada alih fungsi lahan produktif untuk menjadi fasilitas komersial," tegasnya.
Selain itu, untuk alih fungsi lahan menjadi tempat tinggal pribadi, pemerintah provinsi akan menerapkan izin yang selektif. Ini berarti bahwa hanya warga yang memiliki lahan yang diperbolehkan membangun, dan itu pun hanya untuk keperluan rumah tinggal, bukan untuk bangunan komersial.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5346057/original/023531100_1757578287-CMS_PORTRAIT__10_.jpg)