Kisah Rahmat Pemulung Muda Putus Sekolah Jualan Es di Gunungan Sampah Bantargebang buat Menyambung Hidup
Setiap hari, Rahmat berjalan kaki sejauh satu kilometer dari pangkalan es menuju lokasi pembuangan.
Di balik gunungan sampah yang menjulang di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, terselip kisah perjuangan Rahmat (19), seorang pemulung muda yang terus mencari celah untuk bertahan hidup. Sejak Senin (4/5), ia mencoba peruntungan baru dengan melakoni pekerjaan sampingan sebagai penjual es keliling di area tempat pembuangan sampah.
Setiap hari, Rahmat berjalan kaki sejauh satu kilometer dari pangkalan es menuju lokasi pembuangan. Di sana, ia menawarkan es kepada rekan-rekan sesama pemulung yang kerap kehausan dan kesulitan menemukan warung di tengah hamparan sampah.
"Enggak bawain doang. Bawa nih, es dari sini. Jual di sana, di atas (gunungan sampah)," kata Rahmat kepada merdeka.com, Rabu (6/5).
Melihat Peluang di Tengah Keterbatasan
Keputusan Rahmat untuk berjualan es bukan tanpa alasan. Ia jeli melihat kebutuhan di lapangan, minimnya akses air minum bagi para pemulung yang bekerja di bawah terik matahari.
"Kalau saya ya mulung gitu, di sampah. Kan ini kan nyoba-coba, di atas enggak ada warung. Kita mulai jualan. Dari si mbaknya-mbaknya, ngejual Rp1.500. Saya untung gope (Rp500), gitu," tuturnya.
Dengan keuntungan Rp500 per bungkus, Rahmat mampu membawa sekitar 60 bungkus es setiap hari. Tak jarang, dagangannya langsung habis dalam waktu singkat begitu ia tiba di lokasi.
"Ya, langsung habis, kadang-kadang. Langsung naik doang, habis. Entar saya balik lagi ke sini sore. Soalnya saya sembari mulung sih," jelas pemuda asal Indramayu tersebut.
Mengais Rupiah dari Dua Arah
Meski penghasilan dari berjualan es terbilang kecil, sekitar Rp17.000 per hari, Rahmat tetap menjalaninya dengan tekun. Baginya, tambahan itu sangat berarti di tengah penghasilan memulung yang tidak menentu.
"Kalau mulung, ya, sehari tergantung kita, getol apa enggaknya. Kadang-kadang sehari bisa sampai Rp200.000," ungkapnya.
Selama lima tahun menjadi pemulung, Rahmat juga kerap menemukan barang-barang bernilai di antara tumpukan sampah. Mulai dari ponsel rusak hingga jam tangan yang masih layak jual.
"Iya kaya jam. Iya tadi (Selasa, 5 Mei 2026) pagi itu saya kan berangkat, gitu nemu jam. Ya lumayan kan, dijual dapat berapa, Rp70.000," kenangnya.
Harapan Ingin Kembali Sekolah
Di balik kerasnya kehidupan yang dijalani, Rahmat menyimpan harapan sederhana: kembali bersekolah. Sebagai anak kelima dari 11 bersaudara yang seluruhnya putus sekolah, ia harus mengubur pendidikan sejak kelas 2 SD karena keterbatasan biaya.
Kini, ia berjuang sendiri di perantauan, sementara orang tuanya tinggal di kampung halaman. Meski demikian, keinginan untuk belajar tak pernah benar-benar padam.
"Ya harapan saya mah, ya... begitulah, ingin sekolah lagi, gitu," ungkap Rahmat dengan nada penuh harap.
Kisah Rahmat menjadi gambaran nyata kehidupan kaum marjinal yang dituntut kreatif dalam menghadapi keterbatasan. Di usia yang masih belia, ia harus memikul beban hidup yang tak ringan—memilih antara bertahan hari ini atau mengejar mimpi masa depan.
Namun di tengah bau sampah dan panas yang menyengat, Rahmat membuktikan satu hal: harapan bisa tumbuh di mana saja, bahkan di tempat yang paling tak terduga.