Ingatan Jaelani berputar 23 tahun ke belakang. Seakan nostalgia mengenang kehidupan. Perjuangan meraih kesuksesan. Mengumpulkan pundi-pundi cuan dari limbah di kawasan Bantargebang.
Jaelani merupakan salah satu warga tinggal dekat Unit Pengelolaan Sampah Terpadu (UPST) dikelola Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta. Atau lebih dikenal Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.
Sudah dua decade lebih Jaelani bertetangga dengan sampah di Bantargebang. Aroma limbah tak asing di hidung. Makanan sehari-hari. Namun di balik kondisi itu, Jaelani menikmati penghasilan menggiurkan.
Berkah berdomisili dekat bukit sampah dari Jakarta itulah Jaelani kini bisa memiliki rumah dan usaha cuci steam. Jaelani mengolah botol minum bekas menjadi sumber pendapatan.
Berkat mengumpulkan sampah botol bekas minumas plastik itu Jaelani mampu memiliki tanah beserta rumah. Luas tanahnya tak main-main. Capai 128 meter persegi. Lahan ini dihuni keluarga Jaelani sejak tahun 2003. Saat itu, dia baru menginjak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Hunian yang kini memiliki warung hingga cuci steam tersebut merupakan hasil dari tukar sampah plastik seperti botol air mineral dikumpulkan oleh orangtuanya.
"(Rumah) Sudah lama. Pindah ke sini tahun 2003 kayaknya. Saya sekolah SMP. 2003. Sebelumnya saya udah di belakang, Gubug. Alhamdulillah rumah sendiri. Punya rumah ini 2003. Ini kan hasil tukar dari sampah juga," cerita Jaelani kepada merdeka.com, Rabu (6/5).
Sampah yang memang dapat ditukar hingga akhirnya menghasilkan rumah yang kini dihuninya itu seperti botol-botol bekas minuman. Namun, Jaelani tidak ingat sejak kapan penukaran botol itu mulai dilakukan oleh orangtuanya hingga akhirnya bisa memiliki rumah.
"Dulu kan orang tua sempat buka lapak. Main rongsok kayak gitu. Jadi bayarnya pakai botol aqua bekas. Karena kan yang punya kan main aqua bekas tadinya. Jadi setiap setor barang itu dipotong sekian ribu atau sekiran ratus," ujar Jaelani.
"Jadi lama-kelamaan kan lunas. Cuman bayarnya pakai botol belas. Alhamdulillah punya sendiri," sambung dia.
Meski tidak mengingat sejak kapan orangtuanya mulai membayar cicilan rumah dengan menggunakan sampah. Akan tetapi, nominal harga rumah yang kini ditempatinya itu tidak mencapai ratusan juta rupiah pada saat itu.
"Dulu... Berapa dulu? Rp60 jutaan apa berapa dulu? Dulu. Sekarang mah tawar Rp300 juta enggak dikasih. Udah rumah, ada rumahnya," ucapnya.
Disela-sela perbincangan, Jaelani pun menceritakan perbedaan pemulung dulu dengan sekarang. Menurutnya, lebih enak pada jaman sekarang ini yang bisa langsung mendapatkan uang usai hasil mengepul.
Karena, untuk sekarang ini sudah tidak lagi membawa barang hasil yang ia kumpulkan ke rumah. Namun, membawa uang hasil barang-barang yang ia cari dari tumpukan sampah.
"Iya ada pengepulnya itu Banyak, enggak 1-2 orang, banyak. Sekarang mah, pemulung hitungannya enak, sih. Kalau jaman dulu kan pakai gerobak, bawa pulang. Kalau sekarang mah, mulung timbang jadi duit. Pulang itu udah bawa duit," ungkapnya.
"Kalau dulu mah, dikumpulin, dipilah, sortir. Biar banyak. Kalau sekarang mah, enggak. Dapet 3 karung, 4 karung timbang, pulang dapet duit," tambahnya.
Advertisement
Ternyata, bukan hanya mengumpulkan sampah botol plastik saja yang dikumpulkan oleh para pemulung. Melainkan juga kabel-kabel tembaga Bekas yang sudah tidak terpakai.
Namun, kabel-kabel tembaga bekas yang dikumpulkannya itu menjadi tabungan para pemulung atau tidak langsung dijual usai mendapatkan dari hasil memulung.
"(Kabel Tembaga) Ada juga, sih. Ada, kalau tembaga itu dikumpulin. Buat hitung-hitung, buat celengan. Kayak temen saya ini yang di belakang kontrak. Dia berapa bulan sekali, timbang. Jadi kan kayak orang nyelingin duit," pungkasnya.