Kisah Haru Pemulung di Boyolali, Anaknya Kembali Bisa Sekolah Gratis di Sekolah Rakyat

Seorang pemulung di Boyolali merasa sangat bahagia karena anaknya dapat melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat.

Khulafa Pinta Winastya
Oleh Khulafa Pinta Winastya - Reporter
Kisah Haru Pemulung di Boyolali, Anaknya Kembali Bisa Sekolah Gratis di Sekolah Rakyat
Kisah Pemulung di Boyolali Bersyukur bisa Masukkan Anak ke Sekolah Rakyat. (Foto: Bakom RI) (© 2026 Liputan6.com)

Kebahagiaan Sarjo (50), seorang pemulung asal Boyolali, sangat terasa setelah anaknya yang sempat putus sekolah kini dapat melanjutkan pendidikan berkat program Sekolah Rakyat Terintegrasi 78 di Sragen, Jawa Tengah. Setiap harinya, Sarjo mengandalkan penghasilan dari memulung barang bekas seperti botol plastik, kaleng, dan kertas, serta berjualan pakaian bekas dengan cara berkeliling.

Dengan penghasilan yang tidak menentu, ia harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan lima orang anaknya. Keterbatasan ekonomi yang dialaminya bahkan membuat salah satu anaknya terpaksa putus sekolah selama satu tahun. Dalam situasi yang sulit ini, pendidikan menjadi sesuatu yang sangat sulit dijangkau.

Harapan bagi Sarjo kembali muncul ketika ia diperkenalkan dengan program Sekolah Rakyat melalui pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Program yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto ini memungkinkan anaknya, Syifa, untuk kembali bersekolah.

"Alhamdulillah ada pendamping PKH yang menawarkan kalau ada program baru dari Pak Prabowo, dari Kementerian Sosial, jadi anak saya mau ikut sekolah lagi, jadi saya mengucapkan alhamdulillah," ungkapnya saat ditemui di rumahnya di Desa Mriyan, Taman Sari, Boyolali, Jawa Tengah, pada Selasa (21/4). Kembalinya anaknya ke bangku sekolah bukan hanya sekadar pendidikan, tetapi juga tentang menghidupkan kembali mimpi yang sempat tertunda.

Menurut Sarjo, anaknya memiliki cita-cita untuk menjadi dokter. "Kalau pengennya sih mau jadi dokter, kata anaknya begitu. Kalau saya yang penting mau menempuh pendidikan dulu. Kalau mau jadi apa nanti terserah anaknya, saya cukup mendukung saja," ujarnya.

Ia merasa sangat terbantu dengan fasilitas yang diberikan dalam program tersebut, mulai dari tempat tinggal, perlengkapan belajar, hingga kebutuhan makan yang sepenuhnya ditanggung. Hal ini membuatnya tidak lagi terbebani dengan biaya pendidikan anak.

"Jadi saya mengucapkan banyak terima kasih, itu semuanya sudah lengkap. Jadi saya enggak usah ngasih anak saya, cukup doa yang saya kasih sama anak saya," tambahnya.

Dengan penuh rasa syukur, Sarjo mengungkapkan terima kasih atas kesempatan yang didapatkan anaknya untuk kembali menata masa depan melalui pendidikan.

"Jadi alhamdulillah saya mengucapkan banyak terima kasih kepada pak presiden dan menteri sosial yang sudah mendukung keluarga saya," pungkasnya.

Melalui program ini, Sarjo berharap anak-anaknya dapat meraih cita-cita dan masa depan yang lebih baik, meskipun ia sendiri harus terus berjuang dalam keadaan yang sulit.

Rekomendasi