Kerugian Kebakaran Gedung DPRD NTB Ditaksir Puluhan Miliar, Ternyata Terjadi di Hari Libur!
Kebakaran Gedung DPRD NTB menimbulkan kerugian fantastis mencapai puluhan miliar rupiah. Simak detail lengkap insiden perusakan dan penjarahan yang terjadi di hari libur ini.
Mataram, sebuah insiden tragis menimpa Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada hari Sabtu, 30 Agustus. Sekretariat DPRD NTB memperkirakan kerugian sementara akibat perusakan, pembakaran, dan penjarahan oleh massa mencapai angka puluhan miliar rupiah. Kejadian ini mengejutkan banyak pihak, mengingat skala kerusakan yang ditimbulkan.
Peristiwa anarkis ini terjadi saat ribuan massa melakukan aksi unjuk rasa di kompleks Gedung DPRD NTB. Aksi yang semula bertujuan menyampaikan aspirasi tersebut berujung pada tindakan perusakan dan pembakaran. Dampak dari insiden ini sangat signifikan, terutama pada infrastruktur dan fasilitas kantor.
Muhammad Erwan, Kepala Bagian Umum dan Humas Sekretariat DPRD NTB, mengungkapkan bahwa nilai kerugian tersebut masih bersifat sementara. Fokus utama kerugian berasal dari gedung yang terbakar habis serta fasilitas kantor yang ikut ludes atau dijarah. Insiden ini menjadi catatan kelam dalam sejarah demonstrasi di daerah tersebut.
Estimasi Kerugian dan Dampak Kerusakan
Kerugian akibat insiden kebakaran Gedung DPRD NTB diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah. Angka ini mencakup kerusakan parah pada dua gedung utama yang menjadi sasaran amuk massa. Gedung utama yang biasa digunakan untuk rapat dan sidang paripurna ludes terbakar, hanya menyisakan rangka atapnya.
Tidak hanya gedung utama, gedung Sekretariat DPRD yang menjadi tempat kerja sehari-hari para karyawan dan Aparatur Sipil Negara (ASN) juga mengalami kerusakan signifikan. Sejumlah bagian gedung dewan porak-poranda setelah dihancurkan dan dijarah. Kerugian ini mencakup aset fisik dan berbagai perlengkapan kantor.
Erwan menjelaskan bahwa api mulai merambah dari depan lobi gedung, kemudian dengan cepat menyebar ke berbagai ruangan penting. Ruang pimpinan DPRD NTB, ruang sekretariat, ruang semua wakil ketua, dan bahkan ruang paripurna, semuanya dilalap api. Seluruh fasilitas di dalam gedung tersebut tidak dapat diselamatkan.
Meskipun kerugian masih dalam tahap perkiraan, Sekretariat DPRD NTB sangat menyayangkan aksi pembakaran dan penjarahan ini. Mereka menekankan bahwa tindakan tersebut jauh dari semangat penyampaian aspirasi yang seharusnya damai. Insiden ini menimbulkan pertanyaan besar tentang keamanan dan penanganan demonstrasi.
Kronologi Insiden dan Ketiadaan Negosiasi
Aksi anarkis yang berujung pada kebakaran Gedung DPRD NTB dimulai sekitar pukul 12.00 Wita, saat massa aksi datang ke kantor DPRD. Ironisnya, tidak ada satu pun anggota dewan yang berada di lokasi untuk menemui massa. Situasi ini diperparah karena hari Sabtu merupakan hari libur kerja.
Menurut Erwan, Ketua DPRD Baiq Isvie Rupaeda sebenarnya berencana untuk menemui massa. Namun, situasi di lapangan yang tidak terkendali membuat negosiasi tidak dapat dilakukan. Ketiadaan komunikasi awal ini disinyalir menjadi salah satu pemicu meningkatnya ketegangan di antara massa.
Karena insiden terjadi pada hari libur, seluruh berkas penting di dalam gedung tidak dapat diamankan. Hal ini menambah daftar kerugian yang harus ditanggung oleh pihak Sekretariat DPRD NTB. Mereka tidak menyangka bahwa aksi unjuk rasa akan berakhir dengan pembakaran gedung.
Erwan juga menyoroti peran aparat keamanan dalam insiden ini. Ia berpendapat bahwa aksi pembakaran terjadi karena pihak aparat tidak berani bersentuhan langsung dengan massa aksi. Kepolisian memilih untuk tidak melakukan baku hantam, yang pada akhirnya memungkinkan massa untuk memaksa masuk dan melakukan perusakan.
Sumber: AntaraNews