Kementerian Kehutanan Data 1.260 Meter Kubik Kayu Hanyut untuk Pemanfaatan di Aceh Utara
Kementerian Kehutanan telah mendata lebih dari seribu meter kubik kayu hanyut pascabanjir di Aceh Utara untuk dimanfaatkan warga terdampak, khususnya dalam pembangunan hunian sementara.
Bencana banjir yang melanda wilayah Aceh Utara menyisakan dampak signifikan, termasuk banyaknya batang kayu yang hanyut terbawa arus. Menanggapi kondisi ini, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bergerak cepat dengan mendata 769 batang kayu hanyut, yang total volumenya mencapai 1.260,49 meter kubik. Kayu-kayu tersebut dipilah untuk kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat terdampak, terutama guna mendukung pembangunan hunian sementara.
Pendataan ini merupakan bagian dari upaya penanganan pascabencana yang berfokus di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, dengan data terkumpul hingga Kamis (8/1). Pemanfaatan kayu hanyut ini diharapkan dapat meringankan beban warga serta mempercepat proses pemulihan infrastruktur dasar. Inisiatif ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam membantu masyarakat bangkit dari keterpurukan akibat bencana alam.
Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Subhan, menjelaskan bahwa kayu-kayu tersebut dipilah langsung di halaman rumah warga dan area sungai mati. Tujuan utamanya adalah untuk memastikan ketersediaan material bagi pembangunan hunian sementara, sebuah kebutuhan mendesak bagi para korban banjir. Proses pemilahan dan pendataan ini melibatkan koordinasi lintas sektor untuk efektivitas penanganan.
Penanganan dan Pemanfaatan Kayu di Aceh Utara
Untuk mendukung penanganan pascabencana di Aceh Utara, Kementerian Kehutanan mengerahkan 87 personel ke lokasi terdampak. Mereka didukung oleh 38 alat berat yang berasal dari Kemenhut sendiri, Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan Kementerian Pekerjaan Umum (KemenPU), memastikan proses pemilahan berjalan efisien. Kegiatan utama yang dilakukan adalah pemilahan kayu di halaman rumah warga, agar material ini dapat segera dimanfaatkan.
Pemanfaatan kayu di wilayah ini telah menunjukkan hasil nyata melalui kerja sama dengan lembaga kemanusiaan. Rumah Zakat, misalnya, telah menggunakan kayu-kayu tersebut untuk membangun sembilan unit hunian sementara (huntara) bagi warga. Dari jumlah tersebut, delapan unit masih dalam tahap pembangunan, sementara satu unit telah berhasil diselesaikan dan siap digunakan.
Selain fokus pada pemanfaatan kayu, personel Kemenhut juga terlibat dalam kegiatan pembersihan fasilitas umum. Sebanyak 54 personel Kemenhut, bersama dengan anggota Saka Wanabakti, aktif membersihkan fasilitas pendidikan yang terdampak banjir di Aceh Utara. Upaya ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi sekolah dan memastikan anak-anak dapat kembali belajar dengan nyaman.
Progres Pemanfaatan Kayu di Sumatera Utara
Tidak hanya di Aceh Utara, upaya pemilahan dan pemanfaatan kayu hanyut juga dilakukan di wilayah Sumatera Utara, khususnya di daerah Garoga. Proses pemilahan kayu di Garoga I, Garoga II, dan Garoga III telah mencapai 100 persen penyelesaian. Sementara itu, di jalur Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol, pemilahan telah mencapai 80 persen, menunjukkan progres yang signifikan.
Hingga Kamis (8/1), hasil pengolahan kayu di Sumatera Utara mencatat 228 batang dengan volume 3,1560 meter kubik. Angka akumulasi total pendataan mencapai 793 batang dengan volume 12,0035 meter kubik. Seluruh kayu yang telah diolah ini dialokasikan khusus untuk pembangunan hunian sementara di Desa Batu Hula, Kecamatan Batang Toru, memberikan harapan baru bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Di samping pemanfaatan kayu, kegiatan penanganan pascabencana juga mencakup penataan lingkungan dan pembersihan lahan (land clearing). Area seluas 15 hektare di areal PTPN IV Desa Aek Pining direncanakan untuk pembangunan hunian sementara dan hunian tetap. Hingga saat ini, sekitar 1,028 hektare lahan telah berhasil dibuka, menyiapkan fondasi bagi pembangunan kembali permukiman warga.
Sumber: AntaraNews