Keluarga Tak Yakin Diplomat Kemlu ADP Bunuh Diri
Kakak ipar ADP, Meta Bagus, meyakini bahwa keluarga tidak percaya ADP meninggal karena bunuh diri.
Polda Metro Jaya sebelumnya menyebut kematian diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu) berinisial ADP sebagai kasus bunuh diri. Namun pihak keluarga kini angkat bicara perihal keterangan polisi itu.
Kakak ipar ADP, Meta Bagus, meyakini bahwa keluarga tidak percaya ADP meninggal karena bunuh diri. Berdasarkan pengamatan keluarga selama ini, ADP dinilai tidak menunjukkan tanda-tanda mengarah ke tindakan tersebut.
"Kami sampaikan bahwa kami meyakini almarhum tidak seperti itu (meninggal karena bunuh diri)," ujar Bagus kepada wartawan, Selasa (29/7).
Bagus juga menyampaikan harapan agar pihak kepolisian tetap melanjutkan proses penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti kematian ADP supaya tidak ada kejanggalan yang terlewat.
"Tadi kan dari Dirreskrimum juga sudah menyampaikan bahwa ini belum tuntas. Berarti masih ada hal-hal yang perlu didalami oleh para penyidik. Kita tunggu bersama bagaimana hasil ke depannya," tambahnya.
Sebelumnya, tim digital forensik Ditreskrimsus Polda Metro Jaya menemukan sejumlah jejak pencarian terkait bunuh diri di akun Yahoo milik diplomat Kemlu ADP. Hal itu diungkapkan oleh anggota tim, Ipda Saji Purwanto, dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Selasa (29/7).
“Kami jelaskan bahwa dari hasil pencarian terkait bunuh diri, kami temukan 11 segmen dari akun Yahoo milik korban, yang dikirim sejak tahun 2013,” kata Saji.
Dari jumlah tersebut, sembilan segmen diketahui dikirim pada tahun 2021 ke salah satu badan penyedia layanan dukungan emosional rahasia bagi individu yang mengalami tekanan mental dan rasa putus asa, kondisi yang berpotensi mengarah pada tindakan bunuh diri.
Namun, Saji menegaskan bahwa tidak ditemukan pencarian terkait metode bunuh diri dengan menggunakan lakban atau membungkus kepala.
“Nah, yang dicari apakah ada pencarian atau kata kunci lakban atau dibungkus kepalanya. Saya tegaskan, itu tidak ada. Namun informasi soal itu ada dalam email di tahun 2021,” ujarnya.
Lebih lanjut, Saji menjelaskan bahwa dari sembilan segmen tersebut, korban sempat menuliskan cerita tentang keinginan mengakhiri hidup, seperti melompat dari gedung atau menenggelamkan diri di pantai.
“Pada intinya, dari sembilan segmen itu, korban sedang bercerita ketika melihat gedung, ia terpikir untuk meloncat. Ketika melihat pantai, ia terpikir untuk menenggelamkan diri. Intinya seperti itu,” pungkasnya.
Pihak kepolisian masih melanjutkan penyelidikan untuk memastikan tidak ada unsur lain yang terlibat dalam kematian ADP.