Kardinal Suharyo Terkesan Kunjungi Shelter Theresia Pimpinan Romo Pascalis di Kepri, Bicara Sejarah dan Peran Keuskupan TNI-Polri
Kedatangan Uskup Ignatius bareng rombongan OCI tersebut di antaranya menjelaskan sejarah dan peran gereja di lingkungan TNI-Polri.
Uskup Ordinariat Castrensis Indonesia (OCI) atau Uskup Umat Katolik di lingkungan TNI–Polri, Ignatius Kardinal Suharyo mengunjungi sejumlah markas TNI-Polri di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Rabu (26/11). Kedatangan Uskup Ignatius bareng rombongan OCI tersebut di antaranya menjelaskan sejarah dan peran gereja di lingkungan TNI-Polri.
"Di Indonesia ada 39 keuskupan. Salah satunya adalah keuskupan untuk umat Katolik di lingkungan PNI dan Polri," kata Uskup Ignatius sebagaimana dikutip dalam video, Kamis (4/12).
Menurut Uskup Ignatius, hal yang menarik dan menjadi pesan tanggung jawab adalah sejarah dan makna simbolik dari terbentuknya keuskupan Ordinariat Castrensis Indonesia (OCI).
Sejarah Keuskupan di Lingkungan TNI-Polri
Dia menjelaskan, keuskupan OCI tidak berdiri sendiri, tetapi didahului pengakuan negara Vatikan untuk kemerdekaan Republik Indonesia pada bulan Juli tahun 1947.
"Waktu itu masih ada konfrontasi dengan Belanda. Pada tahun 9, Sri Sultan Hamengku Buwono ke-9 sebagai Menteri Pertahanan membentuk satu unit layanan mental rohani untuk mendukung, memberi kekuatan, memberi motivasi, dan inspirasi tentu saja kepada angkatan perang Republik Indonesia yang waktu itu masih tanda petik berperang," tutur dia.
Satu bulan kemudian, menurut Uskup Ignatius, pimpinan Gereja Katolik mendirikan yang dulu namanya vikariat militer. Singkat cerita sekarang menjadi keuskupan untuk umat Katolik di lingkungan TNI dan
Dia menjelaskan, pendirian Keuskupan di lingkungan TNI-Polri secara simbolik sangat jelas seperti halnya Vatikan. Yakni negara pertama di Eropa yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia.
Menurut Uskup Ignatius, pendirian keuskupan militer pada waktu itu adalah tanda yang sangat jelas bahwa Gereja Katolik mendukung perjuangan Republik Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
"Pesan inilah yang menjadi tanggung jawab sejarah bagi kami dan kami sampaikan kepada umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri untuk terus menjaga tanggung jawab ini. Menjadi warga negara Indonesia yang baik yang memilih profesi sebagai anggota TNI dan Polri memperjuangkannya dengan inspirasi iman Katolik yang dalam bahasa popular menjadi 100% Katolik, 100% Indonesia, 100% TNI, 100% Polri," kata dia.
Uskup Ignatius Terkesan dengan Shelter Pimpinan Romo Pascalis
Uskup Ignatius juga mengungkap banyak kesan saat mengunjungi gereja di lingkungan TNI-Polri di Kepri tersebut.
Menurut Uskup Ignatius, kesan saat mengunjungi lembaga-lembaga TNI dan Polri itu karena yang dibicarakan selalu perjuangan untuk menjaga mengisi kemerdekaan Republik Indonesia. Yang mana banyak dari anggota TNI dan Polri rela berkorban meninggalkan keluarga, berpisah dengan keluarga dan sebagainya untuk menjaga republik ini.
Sementara salah satu paling menarik di antaranya Ketika mengunjungi Shelter dipimpin Romo Pascalis. "Romo Pascalis kami semua sudah kenal sangat getol membela hak-hak khususnya merawat korban-korban kekerasan, macam-macam kekerasan, merawat mereka korban-korban tindak pidana perdagangan orang," ujar Uskup Ignatius.
Kesan lainnya yaitu banyak anak-anak muda yang biasanya disebut Jensi, tetapi di sana namanya diganti Jensa yang merawat korban perdagangan orang secara sukarela.
"Jadi mereka itu adalah anak-anak muda, orang-orang muda yang merela mendampingi korban-korban itu sungguh-sungguh dengan sukarela, tidak dibayar dan sebagainya. Mereka adalah orang-orang muda yang punya hati melihat korban-korban yang begitu menderita terluka karena diperlakukan diperdagangkan, mengalami kekerasan," ujar dia..
Terakhir kesan menarik rombongan OCI saat mengunjungi gereja di lingkungan TNI-Polri itu adalah bertemu Wakapolda Kepri Brigjen Pol Anom Wibowo. Di mana saat itu, Wakapolri menceritakan bagaimana Kepolisian di Polda Kepri melihat masalah kekerasan maupun perdagangan orang bersikukuh dan mempertahankan dan menjaga serta melaksanakan tugas tanggung jawab sebagai penjaga keamanan sebagaimana mestinya.
"Jadi ada kerja sama yang sangat bagus antara lembaga Shelter Santa Theresia ini yang diisi dengan relawan-relawan dengan utusan dari keuskupan dan pemerintah daerah khususnya dengan kepolisian dan daerah provinsi," tandasnya.