PWGSU Hadir sebagai Kekuatan Sipil Baru, Fokus Lawan Narkoba dan Judi Online
Deklarasi ini menandai lahirnya kekuatan sipil baru yang berorientasi pada penguatan ketahanan sosial dan pengembangan sumber daya manusia.
Persaudaraan Warga Gereja Sumatra Utara (PWGSU) resmi dideklarasikan di Jakarta, Sabtu (18/4), bertepatan dengan momentum perayaan Paskah yang sarat makna kebangkitan dan harapan baru. Organisasi ini dirancang sebagai “rumah besar” yang menyatukan berbagai denominasi gereja dalam semangat persaudaraan adelphos, yakni ikatan persaudaraan yang lahir dari satu rahim kultural dan spiritual.
Deklarasi ini menandai lahirnya kekuatan sipil baru yang berorientasi pada penguatan ketahanan sosial dan pengembangan sumber daya manusia.
Di tengah kompleksitas tantangan zaman, PWGSU memposisikan diri sebagai mitra strategis pemerintah dalam memerangi berbagai penyakit masyarakat yang kian mengkhawatirkan.
Sejumlah isu krusial menjadi fokus utama gerakan ini, mulai dari darurat narkoba, maraknya judi online, hingga jeratan pinjaman online ilegal. Agenda tersebut akan dikawal melalui jaringan luas warga gereja asal Sumatera Utara yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Kebutuhan Warga Gereja
Kehadiran PWGSU juga menjawab kebutuhan warga gereja asal Sumatra Utara di perantauan akan sebuah wadah yang tidak hanya mempererat tali persaudaraan, tetapi juga mendorong kontribusi nyata dalam pembangunan nasional.
Acara deklarasi dihadiri oleh sejumlah pimpinan gereja, antara lain Victor Tinambunan, Krismas Imanta Barus, Jan Kris Harianto Sinaga, Take Sister Harianja, Humala Lumbantobing, Abednego Batanghari, Berkat Harefa, Marudut Lumban Gail, serta Tagor Sihombing.
Turut hadir jajaran penasihat PWGSU, yakni Martin Hutabarat, Jhoni Ginting, Robert Sinaga, Junita Sari Ujung, Yasonna Laoly, Master Parulian Tumanggor, Sanggam Hutapea, Erwin Tobing, Posma Sitompul, dan Hinsa Siburian.
Tiga Pilar
Ketua Umum PWGSU sekaligus Ketua Panitia Paskah, Dumoly Pardede, didampingi Sekretaris Panitia Setia Budi Tarigan dan Bendahara Panitia John C.P. Tambunan, menjelaskan bahwa organisasi ini dikelola melalui sistem manajemen tiga pilar.
Pilar tersebut meliputi pimpinan gereja sebagai pengarah moral, kalangan intelektual dan profesional sebagai perancang strategi, serta generasi muda sebagai motor penggerak operasional. Struktur ini diharapkan mampu mengonsolidasikan potensi warga gereja Sumatera Utara agar berperan aktif dalam mendukung program pemerintah maupun kegiatan kerohanian gereja.
“Persaudaraan Warga Gereja Sumatera Utara adalah cikal bakal untuk menyatukan langkah dan kepedulian. Kami ingin menjadi pilar yang mendukung program-program pemerintah dan gereja, serta menjadi persaudaraan intelektual dan kerohanian bagi seluruh warga Sumatera Utara berbasis Kristen, bahkan hingga membuka cabang di berbagai negara pada saatnya nanti,” ujar Dumoly.
Sementara itu, Victor Tinambunan menegaskan bahwa gerakan ini merupakan manifestasi dari amanat Kristus agar jemaat hidup dalam persaudaraan yang rukun. Ia menilai, meskipun pusat sinode banyak berada di Sumatera Utara, konsentrasi jemaat di wilayah Jabodetabek menuntut adanya sinergi yang kuat agar dampak sosial tetap terasa luas.
Ia juga memastikan bahwa PWGSU akan menjaga independensi sebagai lembaga keumatan yang tidak terlibat dalam politik praktis.
“Kami pastikan persaudaraan ini murni Kristiani dan gerejawi, tidak akan menjadi kendaraan politik praktis. Fokus kami adalah agar gereja dan jemaatnya bersatu hati menghadapi tugas berat mengatasi penyakit sosial seperti judi online, pinjaman online ilegal, perdagangan manusia, hingga kerusakan alam untuk kesejahteraan bangsa,” tegas Victor.
Darurat Narkoba
Krismas Imanta Barus turut menyoroti kondisi darurat narkoba, khususnya di Sumatera Utara. Ia mengingatkan bahwa ancaman tersebut dapat menggerus masa depan generasi muda jika tidak ditangani secara serius.
Menurutnya, gereja harus mengambil peran aktif dengan membangun fondasi spiritual yang kuat sekaligus menciptakan ekosistem sosial yang sehat bagi generasi muda.
“Gereja tidak boleh diam. Kita harus menghadirkan ruang di mana generasi muda merasa dihargai, memiliki martabat, dan tidak mencari pelarian pada narkoba atau praktik-praktik merusak lainnya,” katanya.