Kantor Bahasa Gorontalo Soroti Pentingnya Budaya Baca untuk Tangkal Hoaks di Era Digital
Kepala Kantor Bahasa Gorontalo ingatkan pentingnya budaya baca dan penguatan literasi masyarakat sebagai upaya menekan penyebaran hoaks. Simak peran krusial literasi dalam menyaring informasi di era digital.
Kepala Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo, Zamzam Hariro, menekankan urgensi peningkatan budaya baca dan penguatan literasi masyarakat. Langkah ini menjadi upaya krusial dalam menekan penyebaran hoaks serta disinformasi yang marak di era digital saat ini.
Pernyataan tersebut disampaikan Zamzam pada kegiatan Temu Jurnalis se-Gorontalo yang berlangsung di Kota Gorontalo pada Sabtu. Ia menegaskan bahwa penguatan literasi merupakan pekerjaan rumah bersama untuk memperkuat kemampuan masyarakat menyaring informasi.
Literasi, menurut Zamzam, tidak hanya sebatas kemampuan membaca, melainkan juga meliputi kemampuan memahami, memverifikasi, serta mengolah informasi secara kritis. Kemampuan ini sangat penting sebelum informasi disebarkan kepada khalayak luas.
Literasi sebagai Benteng Penekan Hoaks
Dalam kesempatan tersebut, Zamzam Hariro secara tegas menyatakan bahwa peningkatan literasi akan memperkuat kemampuan masyarakat dalam menyaring informasi. Hal ini menjadi kunci utama untuk menangkal berita hoaks yang semakin masif beredar.
Ia juga menjelaskan bahwa literasi memiliki cakupan yang lebih luas dari sekadar membaca. Literasi mencakup kemampuan fundamental untuk memahami, memverifikasi kebenaran, dan mengolah informasi secara kritis. Proses ini sangat vital sebelum seseorang memutuskan untuk menyebarkan informasi kepada publik.
Dengan kemampuan literasi yang kuat, masyarakat diharapkan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang tidak akurat. Literasi menjadi benteng pertahanan diri dari berbagai bentuk disinformasi dan berita bohong yang berpotensi menimbulkan keresahan sosial.
Tantangan dan Peluang di Era Teknologi Digital
Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menghadirkan dua sisi mata uang dalam ekosistem informasi. Di satu sisi, teknologi ini menawarkan peluang besar untuk mempercepat akses informasi bagi masyarakat.
Namun, di sisi lain, kemajuan teknologi juga membawa tantangan signifikan. Risiko penyebaran informasi yang tidak akurat akan meningkat drastis apabila tidak diimbangi dengan kemampuan literasi yang memadai.
Oleh karena itu, Zamzam mengajak berbagai pihak untuk berkolaborasi. Media massa, komunitas literasi, dan generasi muda memiliki peran penting dalam meningkatkan budaya membaca dan kemampuan berpikir kritis masyarakat.
Ia secara khusus mengundang para jurnalis untuk menjadi mitra komunitas literasi, mengingat pekerjaan jurnalisme pada dasarnya merupakan bagian integral dari gerakan literasi masyarakat.
Etika Jurnalistik dan Pelestarian Bahasa Daerah
Media massa dinilai memiliki peran strategis dalam meningkatkan literasi publik. Peran ini dapat diwujudkan melalui penyajian informasi yang akurat, berimbang, dan mudah dipahami oleh masyarakat luas.
Pada kesempatan yang sama, Zamzam juga mengingatkan para jurnalis untuk senantiasa mengedepankan prinsip verifikasi dan kode etik jurnalistik. Hal ini sangat krusial, terutama dalam pemanfaatan teknologi AI untuk mendukung kerja-kerja pemberitaan.
AI dapat berfungsi sebagai alat bantu yang efektif, namun tidak boleh menggantikan proses pengecekan fakta dan ketelitian. Kedua aspek ini merupakan fondasi utama dari profesi jurnalistik yang bertanggung jawab.
Selain fokus pada peningkatan literasi, Zamzam juga menyerukan kepada generasi muda untuk terus menggunakan dan melestarikan bahasa daerah. Bahasa daerah merupakan bagian esensial dari identitas budaya yang harus dijaga di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi.
Sumber: AntaraNews