Kemenag Perkuat Literasi Digital Sekolah Agama untuk Tangkal Hoaks dan Kriminalitas

Kementerian Agama (Kemenag) menekankan pentingnya edukasi Literasi Digital Sekolah Agama guna membentengi peserta didik dari hoaks serta mengurangi potensi kriminalitas di lingkungan pendidikan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kemenag Perkuat Literasi Digital Sekolah Agama untuk Tangkal Hoaks dan Kriminalitas
Kementerian Agama (Kemenag) menekankan pentingnya edukasi Literasi Digital Sekolah Agama guna membentengi peserta didik dari hoaks serta mengurangi potensi kriminalitas di lingkungan pendidikan. (AntaraNews)

Kementerian Agama (Kemenag) menegaskan urgensi edukasi literasi digital di seluruh sekolah berbasis agama di Indonesia. Langkah ini diambil sebagai upaya strategis untuk memerangi penyebaran berita bohong atau hoaks dan menekan angka kriminalitas di kalangan pelajar. Pernyataan ini disampaikan oleh Staf Khusus Menteri Agama di Lombok, NTB, baru-baru ini.

Staf Khusus Menteri Agama Bidang Kebijakan Publik, Media, dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Ismail Cawidu, menjelaskan bahwa buta digital dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap informasi palsu. Kondisi ini berpotensi besar menyeret individu ke dalam tindakan kriminal. Oleh karena itu, peningkatan pemahaman digital menjadi krusial.

Menurut Ismail, semakin tinggi tingkat literasi digital seseorang, semakin kecil kemungkinan mereka menjadi korban hoaks maupun terlibat dalam aktivitas kriminal. Kemenag berkomitmen untuk memperkuat pembelajaran ini demi menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih aman dan informatif.

Ismail Cawidu menekankan bahwa literasi digital adalah kunci untuk memberantas buta digital di masyarakat. Ia menjelaskan, "Bayangkan kalau mereka menghadapi buta digital itu akan semakin meningkatkan orang terkena hoaks, kemudian bisa menjadi sumber kriminalitas." Pemahaman yang baik tentang dunia digital sangat penting.

Tingkat literasi digital secara langsung mempengaruhi kemampuan individu dalam menyaring informasi. Semakin cakap seseorang dalam berinteraksi dengan media digital, semakin besar kemampuannya untuk mengidentifikasi dan menolak informasi yang salah. Hal ini berlaku khususnya di lingkungan sekolah agama.

Peningkatan literasi digital di sekolah agama diharapkan dapat membangun benteng pertahanan bagi para siswa. Mereka akan lebih kritis dalam menerima informasi dan terhindar dari dampak negatif dunia maya. Edukasi ini menjadi investasi penting bagi masa depan generasi muda.

Kementerian Agama telah menunjukkan komitmen kuatnya untuk memperkuat program literasi digital. Ismail Cawidu menyatakan bahwa pihaknya akan mengintensifkan pembelajaran ini di seluruh sekolah agama di bawah naungan Kemenag. Ini adalah bagian dari upaya menyeluruh.

Kerja sama strategis telah terjalin antara Kementerian Agama dan Kementerian Komunikasi dan Informatika. "Sudah pernah ada pertemuan dan penandatanganan kesepahaman bersama antara Kementerian Agama dan Kementerian Komunikasi dan Digital, salah satu pekerjaannya adalah bagaimana mendorong semakin terwujudnya literasi digital yang baik," ungkap Ismail. Kolaborasi ini bertujuan mempercepat pemerataan edukasi.

Kemenag bertekad untuk memastikan bahwa edukasi literasi digital dapat menjangkau semua satuan kerja. Upaya pemerataan ini penting agar tidak ada kesenjangan informasi di antara sekolah-sekolah agama. Dengan demikian, semua siswa memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan kemampuan digital mereka.

Di samping fokus pada literasi digital, Ismail Cawidu juga menyoroti peran vital jurnalis dalam menyebarkan informasi. Ia menekankan pentingnya pendekatan jurnalistik yang humanis dan mengedepankan kedamaian. Informasi yang disampaikan harus membangun.

Ismail mengajak para jurnalis untuk mengangkat nilai-nilai kemanusiaan, seperti saling membantu dan menolong. "Kita perlu melakukan pendekatan jurnalistik yang humanis, angkatlah nilai-nilai kemanusiaan yang saling membantu dan saling menolong, bukan yang saling bermusuhan yang diangkat," tegasnya. Ini akan menciptakan narasi positif.

Jurnalis diharapkan dapat menyajikan informasi yang berimbang, terutama saat masyarakat terpapar konten provokatif. Ismail menyarankan untuk menampilkan tokoh-tokoh agama inspiratif yang mengajarkan moralitas dan kebaikan. Tokoh-tokoh ini dapat menjadi teladan bagi masyarakat.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi