Kajian Al Quran Ponpes Nurul Jadid Hadirkan Ulama Al Azhar, Bedah Keberagaman Bacaan
Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton gelar Kajian Al Quran bersama ulama Al Azhar, Syekh Dr. Muhammad Dasuqi Amin Kahilah, membahas pentingnya ilmu qiraat dan kemukjizatan Al Quran.
Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, baru-baru ini menjadi tuan rumah bagi ulama terkemuka asal Mesir, Syekh Dr. Muhammad Dasuqi Amin Kahilah. Kedatangan Syekh Dasuqi bertujuan untuk memimpin sebuah kajian atau daurah Al Quran yang mendalam, menarik perhatian para santri dan civitas akademika pesantren.
Dalam forum ilmiah tersebut, Syekh Dasuqi, seorang pakar dari Universitas Al Azhar Kairo, secara komprehensif membedah sejarah dan signifikansi ilmu qiraat. Kajian ini menyoroti peranan krusial ilmu qiraat sebagai penjamin orisinalitas wahyu Ilahi dan petunjuk bagi umat manusia.
Kajian Al Quran Ponpes Nurul Jadid ini tidak hanya memperkaya pemahaman santri tentang Al Quran, tetapi juga menekankan pentingnya moderasi beragama. Syekh Dasuqi menjelaskan bagaimana keberagaman bacaan Al Quran merupakan bentuk kemudahan (taysir) dari Allah SWT kepada umat Islam.
Keberagaman Bacaan Al Quran sebagai Kekayaan Makna
Syekh Dasuqi menjelaskan bahwa keberagaman bacaan Al Quran bukanlah sebuah pertentangan, melainkan sebuah kekayaan makna yang mendalam. Ia menganalogikan keragaman dialek di Jazirah Arab pada masa penurunan Al Quran dengan kemajemukan bahasa di Indonesia yang disatukan oleh satu bahasa nasional.
"Al Quran tidak hanya turun dengan dialek Quraisy, melainkan dengan bahasa Arab yang luas, sebagaimana Indonesia yang memiliki beragam dialek suku namun disatukan satu bahasa. Al Quran pun mengakomodasi berbagai logat Arab agar mudah dipelajari," kata Syekh Dasuqi di hadapan santri. Pernyataan ini menegaskan bahwa Al Quran diturunkan untuk dapat diakses dan dipahami oleh berbagai suku dan dialek Arab pada masa itu.
Lebih lanjut, ulama Al Azhar ini mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, "Unzilal Qur'an 'ala sab'ati ahruf" yang berarti Al Quran diturunkan dalam tujuh ragam bacaan. Hadis ini menjadi dasar pemahaman bahwa variasi qiraat adalah bagian integral dari wahyu, bukan penyimpangan. Syekh Dasuqi memberikan contoh variasi bacaan seperti 'majraha' dan 'majreha' sebagai bukti fleksibilitas yang tetap menjaga akurasi dan kemurnian makna.
Kemukjizatan Al Quran dan Sejarah Kodifikasi
Dalam kajiannya, Syekh Dasuqi juga membandingkan Al Quran dengan kitab-kitab suci terdahulu. Ia menyoroti perbedaan mendasar dalam metode penjagaan dan pewarisan. "Berbeda dengan Taurat yang diturunkan dalam bentuk tulisan pada papan, Al Quran turun dan dijaga melalui hafalan (shudur)," paparnya.
Fenomena ini disebut sebagai I'jazul Quran atau kemukjizatan Al Quran, di mana kemurniannya tetap utuh tanpa penambahan atau pengurangan. Keaslian ini terjaga meskipun telah melewati berbagai upaya pengingkaran, mulai dari zaman Musailimah Al-Kadzdzab hingga era modern. Ini menunjukkan perlindungan ilahi terhadap kitab suci umat Islam.
Dalam tinjauan sejarah, Syekh Dasuqi mengisahkan kebijakan Khalifah Usman bin Affan yang melakukan kodifikasi Al Quran. Proses penyusunan ini menghasilkan enam hingga tujuh mushaf yang kemudian dikirim ke berbagai wilayah Islam seperti Makkah, Kufah, Yaman, hingga Syam.
Khalifah Usman tidak hanya mengirimkan mushaf, tetapi juga mengutus guru-guru ahli qiraat. "Tujuannya agar umat tidak membaca Al Quran sesuai kemauan sendiri, melainkan berdasarkan sanad yang bersumber langsung dari Rasulullah SAW," jelas Syekh Dasuqi. Langkah ini memastikan transmisi Al Quran yang otentik dan bersanad.
Peran Al Azhar dalam Moderasi Beragama
Kehadiran ulama Al Azhar di Indonesia, menurut Syekh Dasuqi, merupakan langkah strategis negara untuk membendung pemikiran ekstrem dan sesat. Institusi Al Azhar dikenal sebagai penjaga sumber keilmuan yang otoritatif dan moderat (wasathiyah), yang sangat dibutuhkan dalam konteks keagamaan global saat ini.
Indonesia, dengan keberagaman masyarakatnya, membutuhkan panduan keilmuan Islam yang seimbang dan tidak ekstrem. Oleh karena itu, kolaborasi dengan institusi seperti Al Azhar menjadi sangat relevan untuk memperkuat pemahaman Islam yang moderat di kalangan umat.
Syekh Dasuqi berharap santri Ponpes Nurul Jadid dapat memperkuat literasi Al Quran mereka. Harapan ini tidak hanya terbatas pada kelancaran membaca, tetapi juga mencakup pemahaman mendalam tentang sejarah dan metodologi keilmuan yang menyertai Al Quran. Dengan demikian, santri diharapkan menjadi generasi yang kokoh dalam pemahaman agama dan mampu menyebarkan nilai-nilai moderasi.
Sumber: AntaraNews